Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

Gang Ketjap temp doeloe

Date: Tue Mar 2, 2004 8:17 am 12999

Hari itu menjelang Tahun Baru 1904 biasanya terjadi banyak pelanggaran dari kelas sumir sampai ke kelas berat. Lantaran orang bersukacita merayakan pergantian tahun lalu kebablasan sampai mabuk-mabukan di luar batas. Di sebuah bilangan Glodog, polisi menggeledah seorang warga Glodok yang menurut informasi baru saja melakukan transaksi madat (candu). Ketika diudak polisi sampai ke rumahnya di gang Kecap - Glodok, mereka kecele karena tidak ditemukan barang bukti. Untung sebuah bekas bungkus madat ditemukan di TKP sehingga tak ayal lagi orang tadi di gelandang kantor polisi Glodok untuk dikonfrontasi dengan orang yang mengaku telah membeli dagangannya. Di kantor polisi, mula-mula tersangka menyangkal perbuatannya, namun ketika tersangka muntah-muntah polisi menjadi curiga. Ternyata tersangka telah menelan sisa dagangannya sehingga ketika terjadi reaksi ditubuhnya "overdosis" ia memuntahkan kembali sebagian candu dari dalam perutnya.

Di mana gang Kecap itu?

Menurut peta Betawi keluaran 1903, gang ini terletak di selatan Jalan Pancoran sebelah kampung Blandong. Lokasi tepatnya sekitar sekolah Katolik dekat kelenteng Jin-de Yuan. Penduduk Betawi memang tidak pernah mau ribet dengan urusan memberikan nama. Kalau disitu ada usaha pabrik kecap, maka jalan ditempat itu disebut gang kecap. Kalau ada pabrik petasan, dinamakan gang petasan (kini jalan Keutamaan), kalau disitu ada "toren" alias menara observatorium, maka jalannya diberi nama gang Torong. Sejak kapan penduduk Betawi akrab dengan kecap kurang diketahui. Yang jelas sampai sekarang mulai dari makan soto mie, sate, rujak, bubur, tempe pakai kecap. Orang Betawi sudah terbiasa dengan makanan seperti tao-co, tao-hoe, tao-gwe, kim lo, cap cai, bak-mi, bak-so tapi yang pasti apapun masakannya selalu kecap bumbunya. Belakangan peran saus "tomat" yang disebut "ketchup" sudah mulai menambah perbendaharaan bumbu. Penggemar saus dengan zat pewarna ini kalau belum melihat warna
masakannya berubah kemerahan seperti belum puas.

Di Palembang semasa saya kecil, cuma dua jenis kecap yaitu manis dan gemuk (asin). Orang Palembang memang rada nyentrik, hal yang berkaitan dengan rasa asin selalu dibilang "gemuk", nasi uduk yang rasanya gurih-asin adalah nasi gemuk.

Sekarang kecap sudah bervariasi sampai ada yang rasa madu. Kini gang yang mengintrodusir kecap ke peri kehidupan orang banyak tersebut telah lenyap bersama dengan rumah berdesakan di jalan Kemenangan III (dulu gang Toasebio). Namun kecap tetap abadi dan selalu Tulen dan nomor satu...

Mimbar Seputro
0811806549
Tuesday, March 02, 2004

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com