Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Gang Chasse

Bulan Oktober 1903, gubernemen melalui Jawatan Tilpon dan Telegraf mengumumkan nama-nama yang beruntung mendapatkan sambungan baru tilpun engkol. Jumlahnya ada 27 orang dan rata-rata orang Eropa, sementara non-eropa cuma tercatat satu orang yaitu Gouw Koen Koei. Dulu untuk menilpun seseorang, pesawat dan gagangnya dipegang erat-erat seperti pegang (empat balon), engkolnya di putar, lalu kita bicara "hallo sentral tolong sambungkan nomor xxxxx" - lantas tilpun ditutup, dan menunggu operator PTT main teknologi cucuk-cabut di panel mereka, kalau sudah tersambung barulah kita dihubungi oleh sentral.

Hampir seratus tahun teknologi Telkom berkisar dengan kepandaian Cucuk-Cabut hasil peninggalan Belanda. Sebelum memasuki era IDD.

Jadi ketika ada satoe-nama non-eropa yang ikut ambil bagian sambungan tilpun baru, orang pada geger. Ini kejadian luar biasa. Seperti biasa, para penggosip cari-tau dimana Mr. Gouw bertempat tinggal. Berapa istrinya, dan apa penghasilannya. Gouw rupanya tinggal di suatu komunitas Cina bernama Gang Chasse.

Seabad lalu hanya orang Eropa yang menyadari pentingnya berkomunikasi melalui tilpun, mereka beranggapan berkomunikasi melalui pita suara jauh lebih efektip daripada komunikasi one to one. Seperti kata iklan centil "hemat uang, hemat waktu"

Ini jelas saja beda misalnya dengan golongan Non Eropa yang lebih suka berbicara secara langsung sehingga bisa mengamati gerak dan emosi lawan bicaranya. Apalagi disertai Kopi panas dan Singkong goreng, tambah gayeng. Waktu seakan tidak pernah berlalu. Baru beberapa tahun kemudian orang peranakan Tionghoa yang beradaptasi
dengan dunia IT, lantaran mereka banyak niaga sehingga balik-baliknya guna keperluan dagang. Sekalipun demikian orang keturunan Arab masih tidak tertarik kepada pesawat tilpun, apalagi kelompok pribumi. Bahkan urusan sodaqoh kepada para fakir dan pura-pura fakirpun mereka langsung kerjakan sendiri. Pasalnya kalau melalui LSM atau badan lain, sering terjadi "Susut KWH" - dalam bahasa PLN, KWH yang dijual dengan
uang yang diterima "ngejegleg" bedanya. Tidak match. Seperti urusan distribusi uang banjir yang meluap dan menguap tidak jelas, beberapa ratus tahun kemudian.

Selain hambatan psikologis, biaya pemasangan tilpun waktu itu memang tergolong mahal.

DIMANA LETAK GANG CHASSE

Gang Chasse lalu terkenal karena ada penghuninya yang memiliki tilpun. Sebetulnya gang ini adalah gang kecil di sebelah utara jalan Alaydrus, bilangan Kota. Jadi kalau ada orang berjalan dari Sositet (Harmoni) menyusuri Molenvliet (Jalan GajahMada), maka akan menemukan gang Chasse.

Nama Chasse Straat bisa ditemukan di Denhaag sebab memang ia tokoh militer pujaan orang Belanda pada abad ke 18. Dalam perang Napoleon ia berada di bawah komando Daendels yanbg berkoalisi dengan Napoleon. Sekalipun akhirnya Napoleon kalah. Cerita keperwiraannya menjadi buah bibir orang Belanda.

Nama lengkapnya Karel Johan Chasse.

Dari namanya ia berasal dari Perancis yang kemudian mengkonvertkan kepercayaannya ke pemeluk Kristen Calvinis. Perubahan kepercayaan sepertinya menjadi "syarat tak tertulis, dalam penerimaan pegawai Belanda," tapi ini yang di Denhaag sana lho, seratus tahun lalu lho, tempat pendekar HAM yang pandai sekali mengritik orang Indonesia. Chasse menjadi kesohor karena hopeng (sohib) dari Prins dari Oranye alias Willem III. Pada April 1849 ia meninggal dunia dan pemakamannya dilakukan secara militer. Ketika pendudukan Belanda berakhir di Indonesia, nama gang Chasse juga berakhir dan digantikan dengan gang Pembangunan II.

Beberapa nama gang yang mengalami transfigurasi adalah Gang RIBALT berubah menjadi Jalan Pintu Besar Selatan I, gang SCOTT menjadi Jalan Budi Kemuliaan, Gang Thibault menjadi Jalan Juanda III. Biasanya karena pemiliknya tinggal di gang tersebut maka diambil nama berdasar nama penghuninya (yang Belanda).

Mimbar Seputro
0811806549
Thursday, November 13, 2003 12496
"Luck is what happens when preparation meets opportunity"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com