Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Euthanasia

Date: Mon Sep 20, 2004 8:28 pm

Bermula dari tindakan caesar team dokter untuk membantu proses kelahiran bayi lelakinya. Namun usai operasi justru serangan "hipertensi" membawa kelumpuhan permanen pada otak wanita berusia 32 tahun ini. Isu malpraktek dokter lantas santer dihembuskan sampai-sampai digiring ke pihak reserse Polda, karena kalau dilaporkan ke Ikatan Dokter, sudah pasti anggotanya akan dibela habis-habisan. Dan keluarga pasien selain menanggung biaya juga disuruh pasrah menerima nasib malangnya. Lalu sang suami, warga Tambun, Bekasi telah mengajukan permohonan kepada team dokter agar istrinya yang sakit segera disudahi penderitaannya dengan tindakan eutanasia. Suami mengatakan bahwa kondisi istri tercintanya tak ubahnya sebagai tumbuhan, hanya bereaksi kalau ada rangsangan. Ingatan saya kembali kepada si bintang sinetron kecil-kecil jadi pengantin "Ayu" yang juga dikabarkan sudah seperti "tanaman" yang hidup hanya karena ditopang mesin.
***
Saya pernah nonton filem karya sutradara Martin Scorsese dengan latar belakang NewYork pada 90-an. Terkisah Frank seorang petugas paramedic yang disitu digambarkan selalu kebagian shift malam. Lantaran seringnya ia menolong orang yang koma, tanpa disadarinya ia bisa merasakan proses mencelatnya "spirit" orang yang sedang ditolongnya. Biasanya spirit yang digambarkan sebagai angin berhembus meniup tirai berdiri dipinggir jendela menyaksikan jasadnya sedang diupayakan hidup kembali. Menurut Frank yang dimainkan oleh Nicolas Cage, "spirit" ngambek kalau mereka berusaha mengembalikan kehidupannya. Ini ibarat memaksa menempati rumah yang sudah bobrok dan tidak memadai untuk ditinggali.

HANTU YANG MARAH
Cuma ada "ontran-ontran" alias kemelut pada Frank, dilain peristiwa ia pernah gagal menolong seorang gadis keturunan Mexico bernama "Rose." Gadis ini dinyatakan mati oleh Frank, padahal spiritnya masih mau balik ke raganya. Akibatnya si gadis selalu menghantui Frank dengan pertanyaan "mengapa kau bunuh aku?"

Dilema inilah yang dipertajam oleh Martin Scorsese yang pernah menyutradai filem kontroversi bagi sebagian penganut agama yaitu The (last) Temptation of Christ.

Suatu ketika Frank menolong pasien terkena serangan jantung akut. Bourke, nama pasien ini berhasil diselamatkan. Keluarga pasien bahagia melihat ada 69 detak/menit ditampilkan dalam alat monitor. Yang tidak disadari, spirit Bourke sebetulnya marah, ia minta Frank "menghabisi"nya saja. Nah lho.

Semula Frank mengabaikan saja permintaan spirit. Namun melihat tiada kemajuan fisik pasien tersebut maka permohonan Bourke dikabulkan. Caranya Frank memindahkan alat monitor jantung sang pasien ke dadanya, lalu mengambil alih selang oksigen dari mulut Bourke ke mulutnya sehingga Bourke bisa mati sesuai dengan keinginannya dan monitor ruang ICU bisa dikelabuhi tanpa menimbulkan kehebohan diruang monitor. Rahasia mengapa hantu Rose mengikutinya terkuak. Intinya bantu pasien sampai ada reaksi otak sampai pasien yang minta agar ia "dilepaskan saja..."

Nampaknya Martin Scorsese dengan halus mencoba memperkenalkan praktek Eutanasia kepada khalayak Amerika, mengingat baru Belanda yang sampai saat ini mengijinkan tindakan eutanasia. Ini adalah filem untuk kelompok mahzab "New Age" sebab terkandung nilai esoterik yang ruwet. Maksudnya kata Widi Yarmanto sosok Pemred Gatra, hanya bisa dipahami oleh para praktisinya. Martin berpesan bahwa sekalipun dalam keadaan koma sebetulnya mereka masih mendengarkan ucapan kita, jadi jangan ngomong sembarangan dekat orang koma.

Ketika adik saya meninggal pada 31 Oktober 2000 di Gresik Surabaya, saya datang melayat dari jakarta. Saat membuka kain penutup wajahnya, sedetik nampak senyum tersungging di bibir adik saya. Saya pikir cuma hayalanku belaka sehingga saya hanya diam saja. Namun ketika ibu saya bilang bahwa "Adikmu senyum tadi" saya mulai mempercayai pandangan saya.

Pesan lain, kalau sudah terlalu lama menderita, apalagi sudah menggunakan dalam hitungan minggu dalam pernafasan buatan, spirit umumnya sudah capek. Memperpanjang usia dengan bantuan mesin hanya akan menyiksanya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com