Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Eucalyptus

Date: Fri Sep 24, 2004 7:57 pm

Dibeberapa negara bagian Australia, khususnya Australia Barat. Saya banyak melihat tiang listrik yang berdiri kokoh, tinggi, dan uniknya masih berupa gelondongan kayu utuh. Kayu yang dipilih umumnya dari jenis Eucalyptus yang tingginya bisa mencapai 30 meter dan istimewanya cabang pohonnya minimalis. Usianya kayu ini minimal 30 tahun sebelum dimanfaatkan untuk jaringan distribusi listrik. Bahkan di kota Canning Vale, ada tiang listrik kayu yang sudah berdiri sejak tahun 1900-an dan masih "teges" alias bugar menahan terpaan musim dingin, musim panas, hujan bahkan salju sekalipun. Bila usia kayu dianggap sudah tidak memadai, dengan mudah kayu dikembalikan ke alam. Membusuk, menjadi rantai makanan bagi mahluk yang lain.

Secara alamiah kayu dianggap lebih aman lantaran kemampuan mengalirkan listriknya sangat rendah. Saya ingat Anwar Rosyid (Karikaturis, sekarang Layout Manager di Suara Pembaruan), pernah tersengat tiang listrik (besi) sewaktu kami akan memasang spanduk Kongres Mahasiswa di Yogya. Untung di Prapatan tersebut ada tukang becak krudungan sarung yang belum tertidur di roda tiganya. Dengan segera ia mengait Anwar Rosyid dengan sarungnya sehingga nyawanya diselamatkan. Sampai sekarang saya masih trauma untuk menyentuh tiang listrik dipinggir jalan. Pertama biasanya terminal ingus atau seni anjing dan manusia, kedua cemas akan aliran listriknya.

Sebagai tiyang (jawi) yang melihat tiang listrik kayu. Saya heran-terheran sebab seingat saya di Indonesia saya belum pernah melihat tiang (kayu). Kok di Australia kayu malahan dimanfaatkan sampai ke limitnya.

Bicara soal kayu yang ampuh ini. Gagang pisau belati saya yang dipesan dari T-Kardin Bandung, ternyata menggunakan kayu sejenis ebony yang diimpor dari Australia (kata yang jual). Bahkan para pande pegrajin kerangka keris juga lebih mempercayakan kayu kerisnya dengan kayu buatan Australia yang konon lebih liat karena terbentuk dalam lingkungan yang mengenal musim hanya dua yaitu summer dan winter. Dalam situasi yang stabil, maka pertumbuhan cambrium juga lebih sempurna.

Terlampir gambar memperlihatkan tiang listrik kayu dengan dua burung besar mirip betet hinggap disisi tiang. Teman saya dari Manila berkomentar bahwa dinegaranya dulu pakai balok kayu, namun belakangan serangan rayap membuat penggunaan kayu disisihkan. Alasan lain, negaranya sudah tidak punya hutan lagi.
Saya hanya bisa mbatin "sammma...."

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com