Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Enaknya jadi Belanda

Seorang tuan Schmidt ketangkap basah lantaran membuat uang gulden palsu. Kalau jaman dulu, ronda ketiduran saja bisa masuk "rumah monyet" alias sel, maka kasus uang palsu minimum bisa kena perkara lima tahun. Tidak puas dengan hukuman 5 tahun bakal jadi orang rante, Schmidt segera naik banding ke pengadilan "Hof Besar" dan hasilnya luar biasa, ia malahan bebas tanpa syarat. Apalagi ia bernyanyi bahwa pelakunya adalah seorang Kapitan Cina yang tanpa ayal lagi langsung digiring masuk kerangkeng.

Para hakim yang umumnya lulusan sekolah hukum di Belanda terkenal tempat dimana ahli hukum belajar disana, buku-buku hukumnya dihapal ngelotok kering oleh para Hakim sana. Ternyata dalam prakteknya ada ketimpangan dalam keadilan.

Alasan Hakim memang nyeleneh alias menggemparkan.

Betul Schmidt membuat uang gulden palsu, tetapi kan uangnya belum sempat beredar. Belum merugikan publik. Jadi tidak perlu dihukum sementara Tuan Lauw Tjeng Sian dari Senen yang mengerjakan pembuatan uang bajakan tersebut. Jadi dia harus masuk penjara.

Setelah beberapa bulan berlalu, Schmidt mengaku bahwa tudingan kepada Kapitan Lauw Tjeng Sian adalah akal-akalannya belaka guna menghindari hukum. Sekalipun dibebaskan, namun Lauw sudah keburu mendekam sebagai pesakitan. Inilah yang membuat masyarakat geger, pelakunya sudah mengaku, barang buktinya ada, tetapi sipelaku malahan bebas mardijker (merdeka). Penulis kritis mengatakan itu karena beda kulit.

Tapi kalau dalam The last Mohicans, tokoh Indian Blackhawk pernah ditanya oleh cewek bule Nn. Duncan, mengapa mayat yang bergelimpangan tidak dikubur, itu menyalahi aturan negara, maka blackhawk hanya mengutip kata-kata ayahnya "jangan pernah mencoba mengerti jalan pikiran kulit pucat, karena memang kita (Indian) ditakdirkan
berbeda.."

Akibatnya di Betawi yang namanya uang palsu jadi kasus menggunung.

Tahun 1590, kesultanan Banten sudah mengenal uang logam yang namanya "picis" - picisan alias uang kecil. Uang picis ini di impor dari Belanda dan umumnya tengahnya berlubang. Kadang-kadang uang direnteng dengan tali sampai genap 25 sen. Kalau dua logam puluhan sen (picis) ditambah satu logam lima sen lalu diikat tali, maka orang mengatakan setali tiga uang. Alias sama saja. Uang yang usianya sudah tua biasanya dicari orang sebab dibuat kalung sebagai jimat tolak bala. Bulan Oktober 1903, Batavia mengimpor uang 500.000 gulden. Uang ini terdiri dari pecahan 10 sen yang disebut picis 'pitje' bisa dibayangkan sibuknya kapal dari Belanda hilir mudik masuk perairan Batavia dengan membawa uang tembaga dan pulangnya membawa emas dan perak dari negeri ini.

Tahun 1904, Belanda mengirim lagi 500.000 gulden, termasuk pecahan setengah perak (0,50 gulden), seperempat perak (0,25 gulden), akibatnya kapal makin ramai dan karena bentuk pembuatannya uang aseli kurang baik, banyak ahli sepuh emas dan perak iseng dengan pekerjaan tangan "membuat uang bajakan".

Date: Wed Dec 10, 2003 10:27 pm
12604
embees

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com