EMCEES (13718)

Undangan berwarna kuning tersebut menyantumkan bahwa ada dua agenda pada sore hari Sabtu, pertama Pre-Parade dan Parade. Bahkan ada pesan jangan lupa menghadiri pre-parade yang dimeriahkan oleh artis Ibukota (Singapore). Di bagian lain tertulis para "EMCEES" dan motivator. Menurut Cambridge Dictionary, motivator adalah seseorang yang menghasut orang lain melakukan sesuatu, yang kadang dibawah sadar orang tersebut. Sementara EMCEES, adalah istilah aseli Paman Sam yang diperkenalkan pada 1930-an untuk seorang atau lebih sebagai pengarah acara atau Master of Ceremony.

Tapi bukankah Peringatan Kemerdekaan mereka masih Agustus ? bulan depan tepatnya 9 Agustus 2004. Segepok pertanyaan membuat saya penasaran untuk menyaksikan National Parade Day di Stadiun Nasional Singapore. Apalagi tempat duduknya di tribune dekat dengan tribune kehormatan. Merupakan kehormatan [GR-saya] bisa duduk di tribune National Stadium bersama para pembesar negeri ini dan para Jendralnya. Bagaimana sih rupanya pembesar negeri yang bisa membawa negeri kecil ini disegani dunia. Mudah-mudahan ada yang bisa saya jadikan contoh.

Pertanyaan selanjutnya, apa "dress code"-nya. Sebab saya ke kota ini hanya berbekal selusin kaos "oblong" dan dua celana Jean dan satu celana Yoga. Ternyata memakai "strongly advice" kaos merah "crew neck" - ala PDI, dan bawahan bebas dan bersepatu keds. Kaos disponsori oleh Hang Ten Enterprise, itu lho anak selancar California yang jadi Taycoon kaos T. Dengar-dengar mereka HTE merogoh kocek sebesar 500.000 dollar untuk urusan sponsor menyeponsor ini.

Saya datang satu jam lebih awal, mengantisipasi kalau kesasar. Maklum letak stadiun di kawasan Kallang di kawasan timur sementara saya domisili di Buona Vista kawasan barat. Hitung-hitung lagi kalau pakai taxi sekitar 20 dollar (110.000). Pulang balik, alamat ongkos pesawat Jakarta - Batam. Ini belum termasuk macet, sebab kawasan Stadium langsung di blok tidak boleh untuk lalu lalang taxi. Jadi pakai MRT lebih cekak hitungannya. Saya masuk stadion dan nampaknya baru beberapa orang selain petugas keamanan. Saat melewati petugas, hidung saya langsung lapar mencium bau Pizza. Rupa-rupanya ransum para tentaranya. Termos air minum diberi peringatan "do not sharing your cup." Lalu saya masuk stadion nasionalnya, semua tempat duduk sudah seperti dibook, dengan tanda tas ransel anak-anak SD berwarna merah.

Tapi orangnya kemana semua? Apa saya sudah terlambat, padahal 1 jam lebih awal.

Lalu saya datangi petugas. Katanya silahkan anda duduk, sebaiknya paling belakang agar memudahkan trafik. But there are some "goody bags," kata saya "mikin" bingung. Di Indo, kalau pas jam makan ada buku atau kertas di atas meja, secara tradisi artinya "this seat taken". Kali ini Singaporean itu senyum. Matanya makin nampak lebih sipit tapi sudah cukup membuat dia mirip Lin Chi Ling, itu bintang Taiwan wajah innocent yang dalam 2 bulan mampu jual 400 condo di negaranya. Melihat Singaporean tersenyum, itu peristiwa langka.

"You can have one Sir"

Alamak, satu stadion penuh diisi "seminar Kit" eh Parade Kit dan kita dipersilahkan ambil kit sesuai dengan jumlah tiket. Dan tertib pisan, kata orang Citayam. Hari itu usia 50-an saya berubah menjadi anak kelas 5-an yang dapat tas baru. Saya raba-raba sebagai event organizer kelas kampung, saya tahu ini tas bagus punya.

Saya bongkar isinya, sebuah tambur kecil, kecrek, bendera kebangsaan, tato kit untuk dipasang diwajah atau lengan, dua botol air mineral, sebotol isotonik, sebungkus biskuit, sebungkus kacang kenari, tissu basah, tisu kering, senter dan batereinya, topi dan buku panduan acara. Tak lupa sebuah tas kresek "garbage bag" yang ditulisi, sampah anda akan direcycle, demi lingkungan hidup. Jam 17:30, serombongan moge dari HDC masuk dengan membawa selebritis seperti bintang serba bisa Gurmic Singh, Haekal dsb. Di tengah stadion mereka berlari-kian kemari (harus bagus staminanya), sambil mengajak penonton berinteraksi, mulai dari teriak ole..ole sambil memukul tambur, membunyikan kecrek-kecrek. Atau kalau group paduan suara membawakan lagu pop Rhythm of the Night, para emcees ini mengajak penonton mengikuti irama musik. Rupanya itu gunanya "parade kit" - untuk ikut hanyut dalam acara Pre-Parade.

Tapi kan para Emcees (MC) ada seratus meters nun jauh disana, di lapangan, jadi gerakannya samar-samar nampak. Mana hari menjelang sore. Bagaimana yang di tribune. Untuk itu tiba-tiba muncul para Motivator ditengah-tengah penonton. Mereka sebetulnya cheer leader anak-anak SMP/SMA berpakaian kuning (jadi kontras dengan penonton yang mengenakan seragam merah). Dengan koordinasi yang baik, maka penonton yang bingung, diajak interaktip teriak, berjoget, membuat wave of color. Pokoknya ngegroove.

Sejam penuh, dihibur dan menghibur diri, maka tepat jam 18:30, acara Parade dimulai. Pasukan bersenjata mulai masuk berlari ke tengah lapangan, ada yang diterjunkan. Dan defile dimulai. Semua aba-aba dalam bahasa melayu. "Tegak senjata, pundak senjata" dsb. Saya terharu, eladalah bahasa melayu ternyata masih menduduki tempat terhormat.

Saat inti acara yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan dan Mentri Pendidikan [nama saya abaikan toh nggak ngaruh], hari sudah mulai gelap, dan senter yang berbentuk handphone bertuliskan NOKIA dinyalakan bersama. Dan ketika defile selesai, Menteri pertahanan meninggalkan lapangan upacara, Meriam Istana dibunyikan, sirine bersahutan, pesta kembang api yang sama hebatnya dengan ulang tahun Jakarta dengan ledakan berdetam-detam, flying fox, team akrobatik udara yang saya lihat latihannya di Pekanbaru. Semua menjadi satu, membangkitkan rasa patriotik.

Sampai saya lupa bahwa acara ini masih gladi-resik, yang dihadiri anak SD, sedangkan pemainnya anak SMP "CUM" militer . Kalau bahasa Indonesian-Idol, sebuah acara yang mampu mebangkitkan bulu roma. Kalau kata Tri Utami, ada rasa "groove".

Kalau gitu apa bedanya dengan Provokator ?.
Kalau Motivator di Singapore

Kalau Provokator, ya di Papua "baca perang tuku, mas Yusuf"- sebuah tulisan nan indah.

Sementara melihat Helikopter yang menurunkan tentara persis Kopasus yang baru nempilingi sopir angkot mulai beraksi. Sambil nonton mulut sibuk mengunyah. Saya rogoh lagi tas, ternyata semua makanan yang rencananya untuk kenang-kenangan bagi keponakan di Jakarta, sudah ludes. Tinggal sebotol Isotonic. Tetapi baru mau di tenggak, kandung kemih sudah kasih signal minta dikuras, padahal di MRT tadi sudah "we we". Di luar stadiun, langit Singapore yang gelap seakan benderang oleh pesta kembang api disertai ledakan mercon, ditingkahi dentuman meriam istana, gemuruh helikopter mengawasi jalannya parade.

Seorang penonton membidikkan handphonenya untu mengabadikan suasana. Mulutnya berdecah kagum "its style.."

Tapi kandung kemih jauh lebih seru lagi tuntutannya.

Dasar calon pensiunan.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe