Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Dulu Kapten kalah tinggi dengan Sersan

Ketika Belanda membangun kastil di muara Ciliwung, maka selain di bangun tembok yang tebal dan tinggi, juga dibuat parit-parit untuk mencegah Koalisi Mataram dan Banten menyerang mereka. Pintu keluar masuk kastil dijaga oleh seorang soldadu yang bertugas sebagai komandan keamanan dan diberi pangkat Kapitan (Kapten). Padahal pangkat mereka dalam dinas Kumpeni lebih rendah daripada Sersan.

Ada berapa pintu yang dijaga para Soldadu eh Kapiten ini ?

Pada abad ke 17 jalan utama masuk kastil adalah jalan Portugis (kini P. Jayakarta). Di jalan ini di bangun dua gerbang yaitu Rotterdam-port (sebelah timur) dan Niew-poort disebelah selatan. Dari sinilah muncul nama Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Pintu Besar Selatan. Baru pada 1652 dibangun pintu gerbang Utrechtsche-poort, yang dikenal sebagai Pintu Pagerman. Lalu pada 1657 dibangun gerbang Dies-poort. Tetapi pintu gerbang ini kecil sehingga orang Batavia menyebutnya Pintu Kecil. Karena pintu gerbang ini dibuka sampai pukul 10 malam, maka tidak heran banyak pembesar Kumpeni yang pulang "laat" terpaksa menginap di kawasan Zuider Voorstad atau Pinangsia sekarang.

Pintu Kecil atau Dies Poort dianggap paling penting sebab merupakan akses pejalan kaki sedangkan Niew-poort alias Pintu Besar justru lebih banyak tertutupnya karena hanya dibuka jika pembesar kumpeni keluar masuk kastil dengan kereta kudanya. Kapitan gerbang yang sukses mengatasi pengunjung yang keluar masuk kastil akan dipromosi menjadi Kapitan Kastil, contohnya Christoffer Roode yang pada tahun masih jadi Prajurit Jaga pada 1716 dengan sebutan Kapiten (Pintu) Kecil tentunya, lalu 21 Desember 1723 mendapat promosi sebagai Kapiten Kastil.

Para pribumi banyak merepotkan para kapiten ini lantaran mereka suka menginap di Dies-Poort sehingga perlu dikeluarkan peraturan untuk melarang para budak terutama dari Sulawesi untuk memasuki Dies Poort alasannya "tidak melakukan tugas dengan baik, menimbulkan kerusakan dan berbahaya." Tahun berikutnya larangan masuk Pintu Kecil berlaku untuk semua Pribumi, karena terindikasi ada gerakan memusuhi Kumpeni.

Larangan ini berbuntut bisnis bagi pihak lain. Seorang Cina memanfaatkan kawasan depan Pintu kecil denagn membuka pasar Partikelir, setelah mendapat ijin membuka maka pasar ini amat meriah dikala siang hari, bahkan banyak yang menetap disana.

Akhirnya berkembanglah pasar Pintu Kecil. Sampai sampai Gubernemen memutuskan untuk memberikan bantuan penerangan lampu gas. Mengingat daerah yang riuh rendah disiang hari sebagai pasar ketika malam cuma gelap gulita dan mencekam. Padahal tak jauh dari situ, ada setasiun sepur BEOS yang dilaporkan amat terang benderang.

Mimbar Bambang Seputro
Wednesday, October 29, 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com