Drumband di Singapore

Date: Fri Aug 6, 2004 8:59 am

Tet tereret tet tet tetet. suara terompet ditiup, perkusi dan drum ditabuh menghasillkan harmoni lagu Chan Malichan atau Anak Kambing Saya. Sambutan penonton yang memenuhi stadion Nasional Singapore begitu antusiasnya. Sambil berseragam kaos merah yang disponsori oleh Hang Ten, penonton mengacung-acungkan bendera negaranya diikuti suara tambur, kecrekan membuat stadion Nasional Singapore bergemuruh menyambut peragaan kemahiran bermain drumband dari SMP Temasek. Salah satu dari pelbagai atraksi di siang itu.

Panitia memang menyediakan tas secara gratis berisikan "parade kit" termasuk bendera kecil, drum, air kemasan, biskuit dan kecrek-kecrek untuk ikut memeriahkan parade petang itu. Atraksinya sih biasa-biasa saja, apalagi saya tidak punya "ilmu" mengenai drum band. Jadi yang saya lihat adalah seragamnya, kesamaan gerak dsb.

Mendapat sambutan yang meriah, rombongan band berseragam hijau ini makin bersemangat saja. Sesekali, Majoret melempar tongkatnya tinggi-tinggi. Namun karena terlalu bersemangat, tongkat yang meluncur dari ketinggian bak anak panah tersebut gagal ditangkap, sempat terlepas dari tangannya sampai dua kali. Penonton bersorak, tetapi tidak mengurangi kegembiraan penonton dan para pengisi acara. Biasanya hujan turun setap petang, namun nampaknya cuaca Singapore kali ini sangat bersahabat. Tidak nampak tanda akan turun hujan. Di penghujung atraksi, empat anggota drum band memisahkan diri dari rombongan lalu berlari ke luar lapangan dan menunggu disana. Tidak berapa lama group ini mengakhiri atraksinya dengan beberapa ledakan mercon diikuti pelontaran pita berwarna ke udara Singapore yang cerah.

Saat band meninggalkan arena, saya lihat keempat remaja tadi, berlarian ke tengah lapangan dan membuat atraksi "mengumpulkan pita-pita yang bertebaran" lalu dimasukkan kedalam karung goni yang mereka bawa sebelumnya. Thus lapangan tetap dalam keadaan bersih karena akan dipergunakan oleh kesatuan lain beratraksi.

Ternyata sekalipun diacara resmi, "ancaman membuang sampah di tempat umum sebesar SING 5000 tetap berlaku dan harus ditaati.."

Bandingkan dengan sisa keramaian di kampung kita. Asal habis ada keramaian entah apa ujutnya seperti tablig akbar, kebulatan tekad, santi aji (indoktrinasi), maka sisa keramaian berupa sampah yang ditinggalkan pengunjung tidak kalah hebohnya. Mulai dari kertas koran, botol plastik kemasan air minum, pembungkus lemper, kantong plastik kresek, kaleng minuman menghiasi tanah lapang. Sekalipun tong sampah tersedia namun tidak mengurangi hasrat membuang sampah di tong yang lebaaar sekalee.



"Menulis bagi saya adalah hadiah untuk diri saya sendiri." Djenar Mahesa Ayu
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe