"Dokter" Jepang di Batavia

Date: Wed Nov 19, 2003 10:23 am

Dimana-mana yang namanya dokter kalau berniat membuka praktek umum harus memiliki ijin DepKes setempat. Tidak terkecuali Dokter Yamashita Kudo. Repotnya sertifikat yang dimiliki Kudo-San berasal dari Jepang tempat dia berasal sehingga para Gubernemen hanya mengira-ira isi diploma yang sebagian bertuliskan hurup kanji tersebut.

Dokter asing lain yang berpraktek sebagai dokter gigi adalah Jules Eleus yang menunjukkan sertifikat dari Paris. Di tempat prakteknya juga di pajang diploma yang menunjukkan bahwa ia lulusan sekolah gigi terkenal di Eropa. Dengan mengambil lokasi di kawasan Kebon Jahe berhadapan dengan toko piano Lefebre ternyata praktek giginya laris bukan main. Teknologi yang diperkenalkan dokter ini adalah memasang gigi tanpa "haak" atau kait atau veer (per). Dokter van der Steege selama 16 tahun sudah membukukan dirinya menjadi milioner. Bahkan ketika kembali ke Groningen ia mampu mebangun rumah amat mewah di negara leluhurnya. Saking bagusnya, rumah tersebut dibeli pemerintah Belanda untuk tempat kediaman keluarga Raja. Paulus Valckener baru beberapa bulan praktek partikulir sudah memiliki kekayaan 25000 gulden.

Kesuksesan Eleus, Steege, Valckener menjadi maha-kaya rupanya menarik perhatian para dokter Eropa/Jepang sehingga berbondong-bondong mereka menyerbu Betawi dan boleh. Jangankan dokter gigi, dukun beranakpun Betawi mengimpor dari Eropa. Akibatnya banyak dokter yang kalah dalam persaingan di Eropa datang ke Betawi dengan modal cekak. Batavia adalah "TANAH HARAPAN" bagi bangsa Eropa. Tongkat kayu yang jadi ular
di Mesir, di Batavia berubah jadi Pohon Ki-Hujan.

Tidak jarang dokter yang memajang diploma besar ukuran poster yang dibingkai dengan kertas ternyata kemampuannya kosong melompong. Contohnya Kudo-san yang praktek di Jembatan Busuk. Ternyata ia "tidak kuasa" alias sama sekali tidak punya kapasitas sebagai dokter sehingga sering terjadi salah jeksi (suntik), dan ada yang sampai melambungkan nyawa. Akhirnya karena desakan masyarakat tempat prakteknya ditutup.
Mungkin sertifikat berhurup kanji yang dipajang sebetulnya palsu belaka.

J Barrow seorang penulis bahkan menurunkan laporannya bahwa ada "dokter impor" dari Eropa yang terkemuka di Betawi ternyata dia cuma lulusan kursus barber di negaranya. Lord Macartney seorang Dubes Inggris malahan membaca laporan bahwa seorang kemenakannya dalam perjalanan dari Inggris ke Cina malahan kabur dari kapal Lion yang membawanya dan belakangan diketahui bahwa sudah menjadi Dokter ngetop di Rumah Sakit Besar Belanda. Ia memang pernah membantu pamannya yang jadi dokter di Inggris. Dan itulah pendidikan "dokternya".

Landa bernama de Haan juga bukan dokter sekalipun papan namanya menggelar tulisan Dokter de Haan, ternyata prakteknya didatangi orang banyak sehingga gubernemen memutuskan biarlah de Haan praktek dikalangan kaum pribumi saja. Dengan demikian kalau ada korban salah suntik atau salah obat, toh bukan orang Eropa.

Dikemudian hari keputusan ini menjadi fatal terutama ketika wabah kolera berkecamuk, ribuan orang di Betawi mati karenanya. Memang saat itu kolera belum ditemukan obatnya yang pas, tetapi faktor pendukung yang lain adalah lantaran tukang barber Eropa banyak alih profesi menjadi dokter. Tidak heran banyak pembesar Gubernemen masih mempercayakan kesehatannya kepada pelukan dukun. Tahun 1935 seorang sinshe di rekrut dengan gaji 10 real per bulan. Setelah ia mengkonvert kepercayaannya ke aliran Calvinis gajinya naik dan berganti julukan menjadi Mister Isaac. Tetapi masyarakat terlanjur menyebutnya Mister Loccon (Dukun).

Oleh:
Mimbar Bambang Seputro
Wednesday, November 19, 2003
12539

"Luck is what happens when preparation meets opportunity"
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe