Dogma

Seberapa banyak kita menerima "dogma" dalam hidup kita.
Banyak sekali.

Salah satunya adalah "berbuat kepada orang lain seperti kamu mau orang berbuat terhadap kita," plesetannya sampai ke "jangan cubit orang kalau kamu tidak mau di cubit..." - lalu kata "cubit" selalu berkonotasi sakit dan "ora ilok" dilakukan, kecuali Koes Plus yang mengubahnya menjadi lagu Cubit-Cubitan, dan laku keras LP-nya waktu itu.
Koes Plus, mencoba mengubah dogma dari di cubit itu sakit, menjadi satu lagu jenaka. Kalau saja Koes Plus menjadi pengekor lantas kehilangan indepedensi, lagu tersebut tidak pernah tercipta.

Pelawak Kardjo AC DC alm, suka sekali melawak dengan menyanyikan lagu tersebut dengan gaya anak kecil... "bethuthubitan oiyy, bethuthubitan..."

Kalau ada orang suka main catur, maka ketika saya berkunjung ke rumahnya langsung ujug-ujug diajak main catur hanya karena dogma diatas tadi, ya kurang ngaruh rasanya. Karena memang saya tidak bisa bermain catur.

Semalam 22/4/03, di salah satu stasiun TV, Inul Daratista mengisi TalkShow Bedah Bisnis Rhenald Kasali, kesimpulan yang diambil adalah market global membutuhkan pejuang yang selalu mengerti kemauan konsumen, bukan kemauan para pengkritiknya.

Sekalipun mata saya sudah ngantuk, tetapi saya bikin juga sedikit catatan dalam bathin isi talkshow tersebut. Alasan lain teman-teman sudah bersusah payah mengirim SMS dimalam hari untuk memberitahukan kehadiran Inul di TV, paling tidak Rp. 250 bermanfaat kali ini. Beberapa hari ini layar TV dipenuhi pelantun "Cintaku bukan diatas kertas," sampai-sampai saya protes sendiri, orang Indonesia kok di infiltrasi oleh Sitti Nurhaliza, Maribeth, Arsyaaf dan banyak lagi.

Ternyata para infiltran ini selain pinter promo, juga mereka bersusah payah belajar bahasa Indonesia sehingga kita merasa tersanjung dan membuka pintu lebar-lebar. Kalau di balik, bagaimana dengan penyanyi kita di luar negeri. Wallahualam. Sitti mengakali dogma bahwa bahasa Melayu adalah ibu bahasa negeri Malaka dan Indonesia," demikian juga dengan Maribeth..

Kalau Inul selalu mengikuti dogma dan dogma, maka isinya majalah Times mengenai Indonesia 100% adalah negara terkorup, rakyatnya telengas, pemimpin yang lebih suka ke luar negeri mumpung dengan keluarga dengan "matak aji mumpung" sementara rakyatnya miskin.

Celakanya dogma ini selalu di bangun oleh para tokoh karismatis, sehingga setiap ucapannya menjadi dogma. Dan pengekornya kehilangan independensi sampai-sampai kehilangan kreativitas.

Ada baiknya sedikit menelaah seorang Inigo dari Spanyol abad ke 16, yang merumuskan taktik infiltrasi dan persuasi. Katanya, "masuklah lewat pintu mereka, keluar lewat pintu kita." maksudnya kalau mau masuk kepasar, ikuti kemauan konsumen, asal bisa masuk dulu. Sampai di dalam terserah apa yang kita perbuat.

Setidak-tidaknya, itulah Sitti Nurhaliza, Maribeth dan Koes Plus.

23 April 2003

Comments

Popular Posts