Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 07, 2006

Dikadalin tukang becak Yogya

Date: Thu Jun 6, 2002 6:27 am

Ketika di Yogya bulan lalu saya mendapat informasi bahwa ketika terjadi pelebaran jembatan Gondolayu, para pekerja bangunan menemukan terowongan "rahasia" dari jembatan Gondolayu ke Wisma Adisucipto. Tertarik akan berita tersebut saya mencoba jalan kaki ke Gondolayu, sayangnya bangunan misteri sudah tertutup penghalang pekerjaan pelebaran jembatan.

Akhirnya karena sudah cukup lama berjalan, didepan Wisma Adisucipto, seorang pengemudi becak menawarkan becak dan saya langsung saya tanya berapa dari Gondolayu ke RS Bethesda (karena saya pernah mencatat ada jenis makanan paten disana untuk diupdate). Pak Becak yang kurus mengatakan "kalih ewu" dengan kode tangannya meluruskan telunjuk dan jari tengah membentuk "V" yang artinya dua ribu rupiah. Berhubung terlalu murah, saya minta dipanggil satu becak untuk teman saya. Jadi satu orang naik satu becak.

Didepan RS Bethesda, saya minta pak becak berhenti. Saya bayar Rp. 5000 dan sisanya (Rp. 500) saya relakan. Baru beberapa langkah saya dipanggil pak Becak, "wah repot mas membagi Rp. 5000 untuk dua becak, tambah lagi saja Rp. 5000 (total Rp. 10.000) biar urusannya lebih mudah, "maksudnya tidak perlu bagi uang kepada temannya."

Ini betul-betul enak di eluh, sepet di gw..

Lha ini, niat donasi Rp. 500, saya malahan harus mengeluarkan extra Rp. 5500 kepada mas becak. Tentu anda akan bilang, ah duit segitu kok perekenan (pelit), tetapi gaya tipuannya mengingatkan saya dagelan ketoprak Yogya. Cuma kali ini saya jadi salah satu pemainnya (Tesi atau Topan yang selalu diakali oleh teman-temannya).

Kepada beberapa orang yang sedang menyaksikan ulah becak itu saya sampaikan skenario "mempermudah bagi hasil" pak Becak. Mereka tampak maklum, katanya "biasa itu mas becak disini kadang sok ngapusi.

"Dulu paling pol, kalau turun dari Pemuda Express pada dinihari, pak becak memang minta bayaran lebih, alasannya "Samang Saking Njakarta Tho" - maksudnya Sampeyan (entah kenapa disingkat Samang), dari Jakarta kan, jadi duitnya masih penuh.

Dan Bakso serta makanan lain yang favorit waktu Mahasiswa ternyata sudah tidak
berjualan lagi disitu. Ooh.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com