March 01, 2006

Di demo Pengasong Jalanan

Date: Wed Apr 21, 1999 11:36 am

Tadi pagi saya meliwati daerah kekuasaan mas Macet. Tepatnya setelah gerbang tol Lenteng Agung. Waktu itu jalan layang belum dibangun.

Begitu lalu lintas macet, seperti bisa pengemis cilik main kicrik-kicrik, lantas seorang ibu sambil meneteki anaknya menawarkan Aqua, botol plastik dipencetnya sampai peot kena tekanan jarinya sekalian peot karena kepanasan. Sama peotnya dengan buah dadanya.
Lantas beberapa pengasong majalah menawarkan Kosmopolitan, Gatra dsb. Saya goyangkan lengan kekanan ke kiri tanda bersahabat. Maaf saya tidak tertarik.

Eh dia tempelkan majalah, rupanya alamak. Majalah porno yang waktu di SMP saya lihat diam-diam, waktu tua juga masih dilihat diam-diam, tapi suka. Astaga Mimbar, eling.

Karena macet sudah lebih 10 menit, saya lihat bocah kecil pengasong majalah.

Saya mulai tertarik. Okey kasih saya GAMMA satu, siapa tahu ada bahan obrolan di internet. Apalagi ada nama yang maaf (saya sebel namanya Carascalao) cuma anak gadisnya yang imut. Seharusnya saya nggak boleh begini, cuma gara-gara stylenya di TV mengencam pemerintah RI habis-habisan, padahal dia ikut menikmati. Rupanya nggak Ingak-ingak dia.

Sekali lagi maaf,ini opini pribadi.

Lagian yang di cover cuma oomnya. Tiba-tiba, ujug-ujug, seorang pengasong pakai Topi Putih, kaos putih mengetuk kaca sambil memberi isyarat memutar lengannya, tanda buka pintu.
Saya lihat mukanya seperti Jaka Soka gagal memperkosa cucu Pandan Alas. Tetapi kalau Jaka Soka katanya tampan, terpaksa saya pilih Watu Gunung atau Gagak Bangah saja. Setan Alas (ikutan pisuhan Sh Mintarja), " apa yang salah dengan majalah saya sehingga tidak mau beli majalah saya tapi majalah dia.". Demikian protesnya.
Saya jawab dengan sopan, tetapi dasar demit, mulai main kasar dia. Dia kasih kode supaya saya turun. Okey, you want play rough, Saya pegang kunci setang, saya tunjukkan kepada dia.
Masih mendelik, melotot setan alas ini. Coba yang ini, lantas saya genggam jari kanan saya, saya kembangkan telunjuk saya, saya kembangkan jempol saya, saya biarkan jari kelingking, manis dan tengah masih terlipat. Telunjuk saya tekankan ke tas kanvas hitam hasil pembagian Seminar Panasbumi tempo hari.
Kodenya sih main bayangan di lampu teplok seekor kijang.
Tapi si setan alas, salah mengerti, "oke saya tahu ada pistol disitu".
Tapi masih mbegegeg disitu. Setan alas geram saya. Tapi saya nggak berani ketawa seperti Lawa Ijo lho.
Akhirnya coba usaha lain, saya penthelengi dia (kelemahan saya syaraf mata saya paling tidak kuat tak berkedip barang beberapa detik). Wah siksaan juga harus melotot sekian lama.

Jagad Dewa Bathara, kali ini dia kalah mental. Mungkin takut di jedor. Mungkin melihat mata saya sudah berair, gara-gara melotot. Maka berakhirlah episode, sok jagoan di hari Rabu, di Hari Kartini.

Rupanya dia mau ikutan, memaksakan kehendaknya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com