Demo di Jeddah

Date: Sun Mar 5, 2000 7:28 am

Malang nian nasib Kartini binti Karim,35, seorang TKW yang bekerja di Uni Emirat Arab, maksud hati memeriksakan kesehatan diri dan bayi merah usia sebulan di sebuah klinik di Fujairah, Uni Emirat Arab, tapi apa daya, nyawanya terancam rajam klinik yang mustinya menyelamatkan nyawanya ternyata berubah menjadi sarana penjagalan atas dirinya.
Sumpah hipokrates yang didengungkan oleh para dokter klinik pada saat wisuda kelulusannya, tidak berlaku nampaknya disini. Lain padang lain belalang.

Ini gara-gara oleh medik setempat ia ketahuan punya anak tanpa surat yang lengkap.
Sementara itu pasangan campur-aduknya, M. Sulaiman asal India kabur tak tentu rimbanya, Kompas 3/2/2000.

Ribuan kilometer dari Fajira yaitu di Rengasdengklok, Jawa Barat, suami sah Kartini, Warsin,45, dan dua orang anaknya di dusun Rawakepuh, Kabupaten Karawang, menderita karena selain hilangnya kucuran dana yang biasa dikirim isterinya, juga harus menanggung beban akibat pemberitaan media yang gencar.

Penghujung bulan Februari 1995 dalam suatu perjalanan bisnis, saya sempat menunggu berjam-jam bandara King Abdul Aziz. Yang menarik, ketika waktu sembahyang tiba, semua kegiatan dihentikan untuk mendengarkan alunan azan. Para petugas imigrasi, polisi, semua mendadak seperti patung mendengarkan dengan hidmat sampai azan usai.

Toko-toko ditinggalkan begitu saja. Orang secara tertib mendatangi mesjid terdekat atau kalau tak sempat sembahyang dimana saja. Melakukan salat di gang, di jalan-jalan, di ruang tunggu. Jeddah dikenal sebagai tempat keluar masuknya para TKW kita yang bekerja di Arab Saudi. Di bandara itu saya perhatikan tingkah laku para TKI pada umumnya TKW pada khususnya.
Mereka biasanya bergerombol dan cenderung tidak tertib. Waktu antri untuk pemeriksaan tiket, misalnya, mungkin lantaran rasa gembira seakan lepas dari stress kerja di tempat majikannya yang cerewet seperti Nadya (bos Kartini) ditambah dengan rasa kangennya untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara di tanah air, kadang-kadang mereka keluar barisan, sehingga harus dihardik oleh petugas keamanan bandara. Tetapi tertib antripun tidak bertahan lama, sebab begitu petugas mengendorkan pengawasannya, rombongan saling serobot.

Lama-lama petugas jadi jengkel, pelanggar antrian lantas dihardik dan didorong-dorong secara kasar untuk masuk barisan.

Di ruang tunggu, suasana tetap riuh. Saya curi dengar percakapan mereka dalam bahasa daerah, Jawa, ada TKW yang membeli 50 kilogram kurma. Pasti cuma untuk dibagi-bagikan rekan ditempat tinggalnya sana. Belum lagi bawaan kelas "bulky" seperti air zam-zam, atau souvenir lainnya.

Ada TKW yang diantar oleh majikannya dan anak-anaknya yang kecil "ndrindil." Beberapa menunjukkan muka murung karena harus berpisah dengan orang yang selalu melayaninya selama ini. Di sudut lain nampak majikan yang repot menukar uang Arab Saudi ke rupiah untuk diberikan kepada para "bedindenya".

Ketika waktu "boarding" tiba, yang cuma 3 jam terlambat dari rencana semula, kami masuk kedalam shuttle bis yang "insyaallah" akan membawa ke GA 9912. Saya bilang insya allah sebab pengemudi bis mengira, atau lebih cenderung ngotot mengatakan tujuan rombongan kami adalah Suriah.

Kebetulan saya yang duduk dikursi depan melihat ditengah kegelapan malam bis berhenti didepan pesawat bertuliskan Suriah Airways. Saya ketuk dinding kaca pembatas kabin pengemudi dengan penumpang, "NO Suriah, Garuda, Garuda, Indonesia." Sia-sia, bis malahan di hentikan tepat di tangga masuk pesawat. Saya hanya bisa menyumpah dalam hati.

Kalau lima tahun lagi kejadiannya, pasti saya akan ikutan bilang *** Walla, ulla ulla ulla, hora, walla walla walla," *** ikutan iklan di teve.

Saya tanya kepada mbak TKW yang bisa bicara Arab, untuk menjelaskan tujuan pesawat kepada supir. Beberapa wajah melongok kedalam bis masih juga menyuruh penumpang turun dan masuk ke Suriah. Seperti koor, mereka meneriakkan, "Garuda!, Indonesia!, Garuda!, Indonesia!." Persis seperti "demo" mini dan berlangsung sangat singat.
"Demo kecil" nyatanya mempan. Akhirnya bis berputar dikegelapan malam mencari pesawat Garuda yang letaknya masih jauh dari lokasi semula.

Di pesawat Airbus, seorang TKW membawa bayi berada duduk di kursi tengah. Dia minta kepada sepasang suami istri yang kelihatannya untuk berganti tempat agar siibu dan anaknya bisa pindah duduk dekat jendela. Mungkin, pikirnya agar mudah untuk mempersiapkan makanan ataupun minuman selama perjalanan panjang ini, tanpa mengganggu penumpang yang lain.

Sementara sang suami menunggu keputusan istri, sang isteri hanya melirik tajam ibu TKW, tanpa sepatah katapun. Bahasa yang sangat dimengerti oleh ibu TKW. Ah pahlawan wanitaku, pembawa devisa ke Indonesia, bayi merah yang kau gendong belum mampu mengubah cara pandang dan pikir sebahagian bangsa atas seorang PRT.

Sepanjang perjalanan saya amati bayi tersebut berambut agak keriting, mata bulat dan legam. Pasti ada darah arab mengalir. Tapi sang ibu mengatakan bahwa suaminya orang Indonesia, mereka bertemu di Jeddah, menikah, lalu bercerai karena sang suami tergoda perempuan lain.

Sewaktu bercerita, tidak nampak kesedihan diwajah sang ibu.

Ketika mendekati bandara Sukarno Hatta, suasana gembira berubah menjadi sedikit panik. Rupa-rupanya masih ada TKW ada yang tidak bisa membaca, apalagi menulis. Saya menawarkan diri untuk mengisi formulir yang diberikan oleh pihak imigrasi. Ternyata beberapa diantara mereka menggunakan Passpor yang ijinnya cuma untuk melaksanakan ibadah Umroh, tapi dimanfaatkan untuk cari kerja di sana.

Pelanggaran inilah yang akhirnya menjadikan peluang pihak tertentu di Indonesia untuk memerasnya.

Kalau saja ibu dan bayi tadi ada di Fajirah, lima tahun mendatang, mungkin saya tidak sempat menemuinya di pesawat Garuda GA9912.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe