Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Date: Mon Jan 29, 2001 3:49 pm

Masih kisah "Mimbar Pergi Ke Kantor"

Di tengah kemacetan lalu lintas, sebuah spanduk terpampang dengan judul provokatip "MEREDAM TEROR SHINCHAN."

Sudah semula udara Jakarta selain heboh oleh politik Adu Otot dan Adu Masa, Adu Halal, teror bom, kini ditambah(i) TEROR SHINCHAN.

Apa lagi ini ?

Dalam satu adegan diperlihatkan seorang ibu tertawa happy melihat anaknya yang masih TK dan berusia satu repelita tekun menggambar. Sebagai orang tua yang mengerti psikologi anak, maka sang ibu jauh-jauh mempersiapkan kata pujian.

Ketika dilihatnya muka anak berseri-seri sambil mendatangi ibunya, maka pujian pun di layangkan kepada anak tekun tersebut, "hebat kamu, anak pintar kamu, siapa dulu dong mamanya (bangga)". Papanya kan cuma penanam saham.

"Coba nak ibu lihat lukisannya."

Begitu lukisan dilihat, Jrenggggg!, ibu matanya melotot sebesar duit setalen (ikutan bahasa pak Slamet Soeseno), Shinchan, demikian nama tokoh rekaan Yoshito Usui, ini menggambar "kemaluan". Keruan ibunya "BeTe" setengah mampus.

"Gambar apa kamu" (ilustrasi musiknya Simba menggeram,pohon-pohon bergoyang ketakutan). Lupa tadi pernah omong "siapa dulu dong mamanya."

+ "Ini belalai gajah. Bu"

"Jangan bohong ini bukan gajah. Kamu menggambar jorok ya!"

+ Ini kupingnya, kan gajah punya kuping bu.

Sang ibu memang sedikit terjebak oleh "jalur imaginasinya sendiri".

Saya, sendiri sampai sekarang setiap kali melihat benda produksi sendiripun sering berasosiasi dengan belalai gajah. Cuma memang kurang kuping. Dari dulu kalau istri ngebilangi anak saya untuk pakai celana, tuh lihat, bilang burungnya kelihatan, saya biasanya bikin koreksi, "gajah kecilnya kelihatan".

Cerita kreatip begitu, walaupun sedikit nakal kok terancam di berangus. Para akhli psikologi dan pendidikan adu seminar, cerita ginian akan merusak moral generasi muda sekarang ini.

Saya jadi ingat, dulu Tante Maryati-nya Motinggo Boesye dianggap merusak generasi muda, lantaran ada kata-kata "Tante menggelinjang didekap sang anak muda (lupa lagi namanya)".

Lantas ada lagi cerita 007 halaman 124, ketika James Bond tangannya merayap didada spionase geulis dari Rusia bernama Tanya, siapapun namanya who care, ketika tersentuh ujung benda yang mengeras, bukan main sensasinya. Ternyata bukan James Bond dan Tanya yang kejang lokal. Buku itupun dilarang dibaca karena merusak generasi muda. Toh saya nggak jadi orang keranjingan Sex, atau memperkosa perempuan dimana tempat.

Yen dipikir-pikir, tokokh Crayon Shinchan belum muncul saja kita sudah babak belur baku hantam sesama bangsa. Masih bermimpi mengatakan kita ini negara Adiluhung dengan pesona negara tropik, ketimuran, rakyat yang ramah dan toleran. dst.dst.

Ya nggak heran, kami belum bisa bikin Honda, Mitsubishi, Yamaha, Toshiba kalau tingkatannya masih heboh memenjarakan kreatifitas akal, mendewakan okol.

Shinchan on Shinchan. Aku tunggu kau, Minggu pagi di Telepisi. Cuma kok kamu senangnya melorotin celana, mledingi silit. Padahal, para ibu di Asrama Mobrig dulu kalau bertengkar dengan tetangganya, tidak pernah melorotin celana, tapi kain.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com