Dari pabrik Candu terbitlah Universitas Indonesia

Date: Thu Nov 20, 2003 1:01 pm 12549

Ternyata Kampus Universitas Indonesia dulunya adalah kawasan pabrik candu (opium).
Akhir abad 19, di Batavia telah dibangun sebuah pabrik Candu yang diredhoi pembuatannya oleh gubernemen untuk melayani kebutuhan Candu Hindia Belanda. Monopoli candu memang memasukkan banyak uang banyak ke kocek gubernemen. Bayangkan kalau cukai rokok saja sudah demikian besar pemasukannya kepada negara, apalagi jualan opium yang dilegalisir basah. Lokasi pabrik berada di sebuah tanah "langoed" - atau tanah besar dengan rumah besar sehingga kalau sendirian kita sering bingung dan merenung sembari "melangoet" - "bisa punya rumah dan tanah segede ini berapa gajihnya sebulan ya..." - kelak jalan ini mejadi Jalan Salemba yang kesohor dengan kampus Jaket Kuningnya.

Si langoed ini diberi nama pondok Struiswijk, lantaran inilah landmark yang sangat kentara betoel, maka jalan kearah rumah ini disebut Struiswijk (Salemba). Dikemudian hari cara penamaan jalan diikuti oleh warga Betawi. Ada rumah banyak pohon pucung, maka kawasan itu diberi nama Pondok Pucung, sehingga tak heran ada banyak Pondok Pucung di Jakarta. Melihat ada pohon mangga, kawasan langsung dinamai Mangga Besar. Tak heran ada Mangga Besar di Glodog dan Mangga Besar di Ragunan. Nama Tapos pun ada tersebar beberapa tempat.

Adalah seorang Sersan Abraham Struis yang sekalipun berpangkat rendahan tetapi mampu menumpuk kekayaan ala seorang Gubernur Jendral. Tanah Indonesia memang ladang subur para kumpeni menangguk gulden. Hokinya makin moncer setelah ia berhasil menggaet isteri yang ke tiga bernama Cornelia. Isteri ketiganya ini memang masih ada hubungan darah dengan salah satu Tuan Tanah Kaya Batavia Toewan Hendrik de Moucheron.

Akte tanah 30 Juli 1707 ada kental menulis batas tanah mas Abraham yang diwariskan kepada van Horn ini sebagai "Tanah dari sersan Abraham Struis yang terletak pada sungai besar (CILIWUNG) yang penuh tanaman buah-buahan, sebelah udik Noordwijk ke arah tenggara dari BUFFELVED (lapangan kerbau, kini lapangan Banteng). Sesuai dengan kesaksian Cornelis de Bruin, tidak jauh dari Veltevreden (RS Tentara) dan setengah jam dari Mester Cornelis, diwariskan kepada Van Hoorn."

Setelah menerima warisan. Hatta pada 8 Oktober 1707 van Hoorn membuat kebun percontohan untuk tanaman kopi. Lokasinya di belakang kampus UI sekarang. Ia menulis dalam laporannya bahwa "Kopi Betawi adalah hasil kebun percontohan saya.." - rencananya akan dibuat undang-undang bahwa penduduk Hindia Belanda moesti tanem kopi dari kebun van Hoorn, sayangnya kopi ini malahan tidak cocok di tanam di Betawi. Kurang dingin hawanya.

Gagal jadi Tuan Kopi, tanah yang luasnya sampai "setengah jem dari Cornelis" mulai di oper-alih-milik. Penggalan tanah ini kemudian jatuh kepada Domine Kizenga seorang Pendeta Calvinis yang juga amat kaya raya dan memberi nama tanah barunya sebagai Tanah Padri. Beberapa bagian tanah kemudian didirikan Pabrik Candu, bahkan pada gilirannya pabrik Candu di bongkar dan dipakai sebagai kampus Universitas Indonesia.

Melihat luasnya Kampus UI sekarang ini, apa kita bisa percaya bahwa tanah ini adalah sepotong kecil milik seorang Sersan Kumpeni. Baru sersannya. Tanah kita memang tanah sorga (untuk orang lain)

Mimbar Seputro
0811806549
Thursday, November 20, 2003
"It is better to tell the truth than to have skeleton in the closet. They have a habit of exposing themselves"

Comments

Popular Posts