Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

dari Bonek terbitlah Frans Sisir

Date: Mon Feb 23, 2004 4:35 pm 12936

Apa yang terbayang dalam benak sementara orang ketika mendengar kata "bonek" atau "hooligan" - Sekelompok pendukung fanatik-abis olah raga Sepakbola yang berbaju warna warni, tingkah laku aneh-aneh doyan teriak-teriak dengan mulut bau alkohol, muka di coreng moreng dan umumnya tidak padat bekal. Maklum bukan anggota DPR sedang studi banding. Di Indo sebutan ini masih ditambah, warung nasi, tukang rokok di stasiun kereta api bakalan buru-buru tutup apabila diperoleh kabar serombongan bonek bakalan melintas dengan kereta api. Namun bonek kelahiran Biak, 32 tahun lalu rada aneh. Tatkala teman-temannya membawa terompet, genderang untuk mendukung kesebelasan pujaannya, maka ia cuma punya sisir dan sebuah kantong kresek. Ditiupnya sisir berbalut kertas kresek dan terdengarlah instrumen mulut seperti saxophone namun bernada lebih riang.

Bakat alam ini pemuda yang dibesarkan dipantai pulau Wundi ini kemudian diasahnya dan membawa rejeki hingga ia terdampar di Jakarta. Masa kecilnya ia sering mencari ikan dipantai sambil bermain-main musik dengan daun pisang atau kerang. Frans demikian nama pria ini atau lengkapnya Frans Rumbinu ketika ia memberikan kartu nama berwarna kuning keemasan saat ia berada di belakang panggung Malam Silaturahmi IATMI pada 20 Feb 2004 di Sahid Jaya. Logo Sisir tertera dikiri atas kartu namanya tak heran kondanglah ia dengan nama Frans Kenny G" Sisir. Untuk ukuran orang Papua, ia tergolong tampan. Jangan lupa ia punya reputasi pemain bola dan petinju sekaligus. Jadi dari tubuhnyapun ada modal.

Malam itu ia membawakan musik "spiritual" instrumental "Danny Boy" yang mengalun indah dari sisir seorang tamu undangan. Pembawa acara IATMI Chairul sempat nyeletuk "sisir hotel" sebab warna sisir ini memang khas hotel, mungil dan berwarna putih. Kalau Chairul penggemar dangdut ia akan teriak sisir Oma lantaran pemusik satu ini getol betul merapikan rambutnya yang ikal pada setiap kesempatan.

Dan yang bikin heboh ia menyanyikan lagu tersebut sambil kadang-kadang bersaut-sautan dengan suara saxophone anggota band. Sungguh suatu pertunjukan kemampuan musikal yang tinggi sehingga penonton eh IAMI-wan dan wati tiada henti-hentinya mengapplause penampilannya sampai sampai tidak terasa Frans mengakhiri shownya dan penonton mendaulat untuk sebuah lagu tambahan. Latin Night yang dijagokan dalam acara ini malahan seperti tenggelam dibawah sisirnya Frans. Padahal segudang gadis dengan baju aduhai mengajak hadirin turun menari.

Selain beberapa kota di Jakarta, ayah dua anak yang memulai kariernya di paduan suara dikomunitasnya ini pernah ditanggap di Belanda. Ia kini berlatih saxophone secara serius dan belajar menyanyi. Siapa tahu dilirik produsen rekaman.

Jadi siapa bilang main musik harus mahal.


IATMI = Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com