Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 04, 2006

Curi ilmu sambil menyabit rumput

Date: Thu Aug 31, 2000 4:15 pm

Ketika itu para dokter yang berniat mengambil spesialis biasanya pilih-pilih jurusan yang basah-basah mandi uang. Spesialis kandungan dianggap jurusan basah penghasil uang, sedangkan bagian bedah saraf adalah tempat kering. Jurusan bedah saraf kurang disukai, karena pasien yang datang umumnya mengalami trauma, sehingga sulit berkomunikasi karena luka yang dideritanya umumnya berasal dari kecelakaan.

Selain berfungsi sebagai Rumkit, RS Cipto juga memiliki kelas untuk belajar para medik (jururawat). Halaman sekitar kelas banyak ditumbuhi tanaman hias yang tentunya harus sering dirawat, disiangi rumputnya. Seorang pak kebon diberi tanggung jawab untuk tugas tersebut.

Memangku tugas sebagai pengarit, tentu tugasnya sehari-hari menyabit rumput agar kelihatan teratur dan rapi. Cuma pak ngarit ini memiliki "sedikit kelainan." yaitu sembari mengarit rumput halaman, dia sering "plirak-plirik" keruang kelas para Jururawat (banyak yang wadon tentunya), yang sedang belajar.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun.

RS Cipto semangkin (ikutan HMS), sibuk melayani pasien. Akhirnya permintaan tenaga kerja meningkat sehingga perlu direkrut para medic baru.

Anehnya, pak Ngarit tadi berani-beraninya untuk ikut mendaftar.

Pak Ngarit mendaftar ?, tentunya menjadi bahan tertawaan pendaftar lainnya. Secara bercanda oleh team penguji, pak ngarit disuruh menjelaskan apa yang dia ketahui tentang tugas jururawat, bahkan beberapa pertanyaan pak Ndoktere bisa dilalap habis.

"uedan tenan", gumam pak Ndokter. Apalagi mereka tahu orang ini cuma lulusan SD sedangkan untuk jadi perawat, minimal lulusan SMP (sekarang SLTP). Ia kemudian diterima menjadi jururawat karena ketekunanya, learning by ngariting. Cuma mendengar dibawah jendela kelas, sambil ngarit, curi-curi nyatet kalau ada istilah ia kurang mudeng.

Ia kemudian menjadi Jururawat kepala di Sal D-3 RS Ciptomangunkusumo- Jakarta.

Cuma ya itu galaknya luar biasa. Saya pernah duduk disatu ruang, langsung diusir karena waktu bezoek sudah habis. Beberapa teman saya timbul isengnya. Mereka malah nekad masuk keruang dokter yang ada dan sofa disana digotong ke ruang tunggu.

Tentu saja pak Ngarit mulai ancang-ancang untuk matek aji galaknya.

Cuma kali ini ia kena batunya. Sang teman dengan tenangnya bilang. "Sttt ini yang bezoek adalah keluarga Cendana".

Pak Ngarit kali ini tidak berkutik. Sofa boleh dipindahkan ke Ruang Tunggu, cuma mungkin dia akan mbatin orang Cendana kok potongannya ala "Ngisor Ringin."

Dulu kata "Cendana", atau kata "Pak Harto" suangat sakti sekali.

Tapi itu dulu.

Sekarang menyaksikan situasi di Departemen Pertanian 31 Agustus, membawa kilas balik kenangan dua puluhtahun lalu. Alangkah bedanya.

ex PM Lee Kuan Yew juga merasakan hal yang sama.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com