March 13, 2006

Cuma Gara-Gara Payung

Date: Sun Jan 18, 2004 9:19 pm

Siapa sih yang tidak pernah dengar nama Gubernur Jendral Belanda yang kondang dengan kebijakan tanam paksanya kalau bukan Johannes van den Bosch, atau sering dipanggil van den Bosch saja. Di pelajaran sejarah masa saya SR dia "Bosch" sering disebut GubJen Tanam Paksa. Rakyat dipaksa menanam pohon tertentu, yang melanggar bakal menjadi "orang-rante" yang thoat (taat) ya bakalan samsara (sengsara). Anehnya seabad kemudian di negeri yang sama karyawan PTDI yang rata-rata dengan kualifikasi strata dua dan tiga pada kemping di Ragunan lantaran mereka maksa tetep kerja tetapi dipaksa "jendral" PTDI agar PHK.

Ide Tanam Paksa dicanangkan pada tahun 1830 lalu diundangkan dalam Staatsblad tahun 1834 no. 22 yang menegaskan bahwa Sistem Tanam Paksa hanya wajib bagi petani Jawa. Jadi yang bukan Jawa tidak usah kuatir, bisa tanam puun (pohon) apa saja. Lagian yang dipaksa tanam adalah jenis tertentu yaitu tebu, teh, kopi, tembakau, kayu manis, nila (indigo) dan kapas. Namun seperti halnya Bush yang katanya datang untuk menangkap Sadam Husen tetapi akhirnya memandang perlu melakukan perluasan dan perpanjangan masa tentara kependudukannya, maka Bosch juga melakukan improvisasi. Dari beberapa jenis yang sudah disebutkan di atas, ia masih mengulur ke tanaman coklat dan kina sekalian menjadi tanaman paksa.

Untuk mendukung keberhasilan crash program ala Bosch yang memang menggembungkan kocek kumpeni, maka perlu diangkat para penyelia atau "komrad" untuk mengontrol pekerjaan para petani. Controleur ini diberi sebutan "mantri". Kata-kata "mantri" dipilih juga bukan sembarangan. Mantri diambil diambil dari khasanah Jawa seperti "mantri Jeron". Maksudnya biar berbau keraton dan akhirnya orang Jawa yang menjadi obyek akan berpendapat kalau sudah bau kraton "pasti" sudah memiliki nilai legitimasi kekuasaan yang tinggi pula. Sehingga rakyat akan patuh dan thoat.

Sama halnya dengan iklan Oli Tekwan, karena selebriti umumnya berkulit "lisik" alias mulus, kaya raya dan selalu mengenakan pakaian yang bermerek kesohor, maka iklanpun sampai pakai motto "Oli Tekwan, selebritis ajah ngomongin" - sekalipun saya ragu apakah pesohor di tipi bisa bedakan minyak mesin dengan minyak rem. Lalu dikenal istilah mantri teh, coklat, tebu. Selain mendapatkan gaji mantri-mantri ini diberi tanda kebesaran berupa songsong (payung) sebagai tanda kebesaran (staatsie) yang sedianya digunakan sebagai pelindung dari terik ataupun hujan saat meninjau perkebunan. Celakanya cara mereka memperlakukan payung sudah nyrempet ke mistis. Payung yang robek saat dipakai sering diinterpretasikan sebagai "ngalamat tida baek"

Lantaran itu para mantri kita lebih mati-matian memelihara kehormatan payung daripada pekerjaannya. Daripada payung rusak "dan ngalamat" akibat sering dibuka tutup sewaktu melakukan kontrol di perkebunan mereka lebih suka duduk di pendapa rumah sambil membuat laporan fiktip atas tanah perkebunan yang diawasinya. Atau kalau volume pekerjaan seharusnya diselesaikan 2 hari, maka setelah diberi payung malahan molor menjadi seminggu.

Adalah pemandangan biasa dijumpai tatkala fiets (sepeda) dipakai sebagai kendaraan dinas, dimana pak mantri naik sepeda sambil memegang payung sementara para petani berlari-lari mengejar dibelakangnya. Contoh laporan fiktip adalah tahun 1833 dilaporkan di tanah Jawa terdapat 100 juta pohon kopi, tahun 1835 sudah naik dua kali lipat dan tahun 1840 naik menjadi tiga kali lipat. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin pak mantri mampu menghitung 300 juta pohon kopi, suatu jumlah yang amat besar bagi kemampuan manusia.

Tahun 1880 harga kopi mengalami kemerosotan. Selain masuknya pesaing dari Brasil dan beberapa negeri, juga akibat oleh penyakit yang menyerang tanaman, tidak lupa gara-gara salah hitung para mantri. Sistem tanam paksa kopi menyumbang sepertiga dari pemasukan Hindia Belanda sektor non migas. Tetapi bagi rakyat, akal-akalan van den Bosch dengan "mantrinya" adalah bencana.

"Pukulan Terakhir. Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikitpun. Tapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan yang terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya. (Jacob Riis)"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com