Combatan dan Non Combatan

Persoalan Aceh sekalipun TNI kelihatannya geram tetapi ada baiknya melihat sejarah bahwa sejak 130 tahun lalu, bangsa ini memang sudah dibesarkan oleh peperangan. Ketika bertemu muka dengan ibu Sri Rejeki, salah satu gossipnya dalam rapat Kabinet para non-combatan ini biasanya selalu enteng bicara cobalah damai, biarkan HDC memprakarsai perdamaian."

Sedangkan dari fraksi Combatan selalu melaporkan data intel yang semula cuma 13 desa adalah gerilyawan, sekarang sudah menjadi 30 desa hanya dalam waktu yang sangat singkat. Atau seperti dikutip dari Tempo, sebelum perundingan ditengarai ada 200 combatan (ikutan bahasa Daud Sofyan), sekarang membengkak menjadi 5000 combatan. Lagian untuk men-choking (istilah UFC) satu gerilyawan diperlukan 10 TNI terlatih, gawat juga. Jadi kasarnya, direken 50 000 combatan untuk memenangkan perang yang mungkin berjalan lama.

Para jenderal berpendapat, ini adalah kanker berat, kita berlomba dengan waktu. Terlambat, alamat gawat... Kalau bahasa perminyakan, TNI ibarat drilling mud" sementara TAN ibarat "tekanan formasi," lemah sedikit tekanan lumpur pengeboran, bakalan terjadi semburan liar. Kalau terlalu besar tekanan yang ditimbulkan oleh lumpur, paling gas tidak muncul ke permukaan.

Pasalnya kalau perang, kan pihak musuh tidak selalu pakai kaos hitam putih, lalu mata pakai topeng ala zoro. Di foto memang pakai seragam loreng, baret merah, Kalau perang tiba semua berganti pakaian sipi.

Seratus Tiga Puluh Tahun Lalu.......

Yen... dipikir...pikir, pemerintah Olanda sendiri memang geram abis menghadapi pejuang rencong ini. Harian Bintang Betawi pada 14 April 1903 menulis, "Hari ini sudah tutup 30 tahun Jenderal Kohler mati dalam perang Aceh.."

Tiga puluh tahun lalu (kalau tahunnya 1903), atau 130 tahun lalu kalau tahunnya 2003, Mayor Jenderal Kohler memimpin pasukan pemukul cepat dan mendarat di Aceh. Nggak tanggung-tanggung 3198 soldalu dan 168 perwira dikerahkan untuk menghukum Sultan Aceh. Alasannya Sultan Aceh tidak boleh berhubungan "intim" dengan pedagang Portugis maupun Inggris.

Sultan Aceh sendiri berpendapat bahwa sejak jaman nenek moyangnya bahari mereka sudah mempunyai tata-niaga sendiri. Dan yang diurus bukan semata kopi atau jeruk, jadi ndak perlulah itu tata niaga.

Pemerintah Olanda lalu mengirimkan surat ke Sultan Aceh, tetapi tiada jawaban nan kunjung tiba. Pada 5 April 1873, setelah batas waktu yang diberikan juga "tiada dipandang sebela mata", maka perang untuk melibas Aceh dikobarkan. Kohler berhasil mendarat di pantai Aceh dan pasukannya terus merangsek maju. Maklum persenjataan lebih lengkap. Rupanya gerilyawan dan bertahan di Mesjid Raya sehingga hujan peluru tajam dan peluru api mengguyur atap masjid yang waktu itu terbuat dari daun kirai, ijuk dan dinding kayu. Aceh membara, mesjid terbakar. Pasukan pemukul berhasil menekan pertahanan gerilyawan.

Sebagai Komandan, Kohler memasuki mesjid untuk memeriksa keadaan mungkin mau diabadikan diantara reruntuhan, dan sekonyong-konyong dari reruntuhan bangunan keluar seorang gerilyawan yang menembak jendral tersebut sampai pet".

Jenderal J van Swieten lalu di lantik menjadi pengganti Balatentara Oloanda, dan ia datang dengan soldadu 8000 orang [130 tahun kemudian 26000 personel) istana Sultan aceh diduduki sehingga sultan mengungsi ke Luengbata. Sultan ini diburu sampai tewas ... karena kolera. Panglima Polim lalu mengangkat Sultan Daudsyah sebagai penggantinya.

30 tahun berperang, masih juga Aceh belum bisa dipadamkan, bahkan ada korban seorang jenderal yaitu jenderal Pel. Tidak dijelaskan korbannya terkena peluru atau cuma kolera dan malaria.

Baru setelah pimpinan angkatan perang dikendalikan oleh van Heutz Belanda kelihatannya berhasil melakukan penekanan halus dan kasar. Sultan Daudsyah menyerahkan diri, bahkan atas nasehat Snouck Hugronye, anak sultan disekolahkan ke Bandung.

Sekalipun perang sepertinya selesai, perjuangan Aceh belum juga kendur seperti ditulis dalam koran Bromartani, "Perang Aceh belum bisa habis, karena ada dua pejuang yang terlalu keras hatinya Panglima Polim dan Cut Nya Dien..."

Atau kita memerlukan Snouck Hugronje baru?

13 Mei 2003
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe