Cawang atau CiAwang

Ketika dagangannya habis, lagi pula hari sudah mulai siang, maka pak tukang sayur pikul kembali ke rumah sambil membawa sejumlah uang hasil penjualan sayurnya di pasar Meester Cornelis. Jaman dulu sampai sekarang nasib penjual hasil bumi relatip sama, yang beda mereka berjualan ke pasar dengan memikul sayurannya denagn jarak kadang membutuhkan waktu 4-5 jam sekali jalan. Sekarang, sekitar jam 01-02 pagi mereka sudah diangkut pakai kendaraan terbuka ke stasiun-stasiun sehingga diistilahkan sebagai "meron" dari kata peron. Sementara para pengemudi pickup bak terbuka disebut "ngalong" dari kata kalong yang merujuk aktifitas mencari nafkah dimalam hari.

***

Hari ini uang yang masuk kekocek pak sayur tidak seberapa paling cuma 40 sen yang pada saat September 1903 cuma bisa ditukar 8 liter beras tumbuk kwalitas murah. Dasar nasib lagi terlanggar apes. Di Cawang, ternyata ia dihadang begal yang berniat merampas hasil jerih payahnya seharian. Beruntung teriakannya didengar orang sekitar dan begal bisa ditangkap.

Kejadian ini lalu di laporkan dalam Harian Pembrita Betawi dengan komentar tingkat kejahatan sudah Sangat Teramat mengerikan di Betawi sekarang. Hidup sudah terasa tidak nyaman lagi, kejahatan mengintip dimana-mana. Nama Cawang dijadikan Red Spot karena tindak kejahatan yang banyak dicatat dikawasan ini.

***
Cawang yang terletak di pal 15 pada jalan besar dulu bernama De Groote Zuiderweg alias jalan besar ke selatan [BOGOR] memang saat itu masih sepi karena belum banyak penduduk-nya. Kalau sekarang 100 tahun kemudian Cawang makin banyak penduduknya, maka bukan berarti aktivitas kejahatan berkurang melainkan makin bertambah.

ASAL MUATSAL NAMA CAWANG
Dalam buku besar Dagregister (buku log Kastil Kumpeni), ditulis bahwa pada 21 Agustus 1676, seorang tokoh puak Melayu diangkat menjadi letnan, namanya Enci Awang tetapi lantaran lidah Kumpeni menulisnya dan menyebutnya sebagai Intje Auwangh atau Ince Awan. Jangan keburu heran, alm H. Benyamin Sdi lidah orang Lampung sudah berubah menjadi BUN YAMIN S, dan kalau dibiarkan bisa jadi kepleset sebagai H. ABUN
YAMIN S. Akhirnya Jadi H. Abu atawa H. Yamin dst..

Orang Melayu ini memang sudah kesohor lantaran pada 14 Juni 1673 namanya ada tercatat proses verbal jual beli tanah milik yang dilakukan oleh Intje Auwangh. Karena lokasi kediamannya yang strategis maka para pembesar Kumpeni yang akan turne ke kawasan selatan Betawi seperti Pondok Gede dan Cimanggis selalu menyempatkan diri mampir di kediaman Intje Auwangh. Demikian juga para Gubernur Jenderal yang akan ke Buitenzorg (Bogor), mereka singgah dahulu ke daerah kekuasaan Ince Auwangh.

Contohnya...
Log Book (Dagregister) pada 16 Agustus 1745 menulis "Yang Mulia pagi-pagi berangkat ke kebunnya sendiri diiringi kalangan terdekat naik beberapa kereta kuda. Setelah 3 jam melewati Meester Cornelis mereka melanjutkan perjalanan ke Tsiawang dan sejumlah kampung. Pada setengah sembilan, rombongan yang mulia sampai di Cimanggis untuk makan siang. Pukul 3 siang mereka berangkat lagi dan pukul 7 malam rombongan sampai di kampung baru (BOGOR)."

Nama kediaman Tsiawang ini sering disebut-sebut sehingga sejalan dengan waktu daerah ini dikenal dengan sebutan CAWANG (Tsiawang). Hanya pada tahun 1759, Tanah CiAwang terpaksa menjual tanahnya kepada seorang pejabat Belanda Van der Velde. Sekalipun demikian penduduk sudah terbiasa menyebut kawasan di Pal 15 ini dengan nama Cawang.

Mimbar Bambang Seputro
Monday, September 15, 2003
Punya Tanah lebar ? masih Ci Awang-awang
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe