Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Cassa dan PC Board

Pesawat Cassa jatuh di Lapangan Terbang Pondok Cabe, Pamulang. Lima orang dirawat di RSPAD. Gagal take off. Itu koran yang saya baca. Kejadiannya Minggu 11/2.

Saya jadi ingat ketika mengikuti operasi pemboran di daerah Kalimantan Barat. Perusahaan minyak yang beroperasi disitu menggunakan Cassa sebagai sarana transportasi udara ke/dan dari lokasi - Balikpapan.

Hari itu adalah giliran saya dan teman-teman mendapat cuti setelah 2 minggu bekerja di lokasi pemboran.

Pesawat ini selain Pilot dan Co-pilot, juga membawa seorang mechanic yang biasanya duduk ditengah pilot dan ko-pilot, mengambil posisi mundur sedikit.

Ketika saat take off tiba, kami semua sudah mengencangkan ikat pinggang keselamatan, dan cengeng, cengeng.... pesawat rewel. Tentu saja saya tidak tahu rewelnya kenapa.

Sang mekanik, nampaknya sudah biasa menghadapi pesawat mogok. Ia kelihatan mengambil sesuatu dari tas kotak coklat, oh rupanya cadangan PC board. Didepan kami, sang penumpang, satu keping PCB dicoba, wah masih rewel. Lalu PCB tadi dicabut dan dimasukkan yang lain (bukan yang baru). Demikianlah satu persatu PC Board dicoba. Sampai akhirnya ketemu PC-Board yang masih bisa berfungsi.

Setelah kutak katik, sambil ketak ketuk (karena PCB) macet nggak bisa masuk, sekarang pesawat siap "takeoff", kalau dulu bilang era tinggal landas.

Begitu roda pesawat sampai diujung landasan pacu air strip (entah apa namanya saya lupa), tiba-tiba "mak regedeg, ciuuut sreg". Pesawat ngerem sambil ngepot tajam balik kanan. Kalau menurut saya hampir terbalik.

Landasan pacu di Air strip itu memang cuma tanah merah dipupuri pasir. Rupanya hujan semalaman mengguyur daerah tersebut sehingga landasan pacu menjadi lebih lembek, pas untuk bikin roda pesawat "kepater".

Sekarang pesawat mundur lebih jauh lagi, agar bisa "ngegas" lebih awal. Setelah melakukan trial and error sampai 3 kali akhirnya pesawat berhasil terbang.

Tinggal saya yang sudah "kami-sesegen", napas tersengal-sengal karena takutnya.
Sebelum pesawat masuk ke awan, saya sempat menengok mengucapkan "dadah" kepada tawon dan sarangnya yang ikutan mangkal di pinggir air strip. Untung hari itu rombongan pendukung ratu tawon tidak ngamuk karena melihat banyak orang "jag-jagan" memasuki daerahnya. Atau ia juga deg-degan melihat cara take-off yang "kepater-pater" bahaya.

Date: Tue Feb 13, 2001 4:52 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com