Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Capres No 6

Date: Wed Jul 7, 2004 8:48 am
Acay nama populer seorang anak Indo, berambut kucai mirip Harry Potter yang mendapat beasiswa di NTU, dia sangat BT-abis kalau ibunya selalu menyebut singkatan sekolah elit Singapore Nanyang University ini sebagai ENTE YU (gaya Betawi).

Jiwa anak yang akan diwisuda sarjana teknik pada 12 Juli mendatang ini tergolong enterpreneurnya hebat. Dia berani sponsori Project P ke Singapore, bikin restoran di Singapore (gagal), pendeknya hidupnya cuma dari Ketua Panitia Even Organizer satu ke lainnya. Dalam satu kesempatan dia nampak lesu. Mengaku baru tidur jam 4 pagi. Maklum, panitia coblosan KBRI Singapore. "Mega menang oom, SBY runner up," katanya agak murung karena jagoannya cuma posisi kedua. "Maklum yang nyoblos para TKW, jadi agak isu jender dipakai. padahal orang lain isu jendral,"

Lalu dia cerita mengenai data-entry di KBRI. Biasanya surat suara yang dicoblos dibaca nomor urutnya. Lalu petugas memasukkan point-point. Misalnya.

Satu (Wiranto)
Dua (Mega)
Tiga (Amien)
Empat (SBY)
Lima (Hamzah)

Lama kelamaan sang operator data entry mulai merasa jenuh alias monoton pasalnya cuma nomor atas dominasi nomor 2, diikuti nomor 4. Kalau anda mengetik sesuatu berulang-ulang ada tendensi bahwa otak memerintah jari untuk mematuk pada pada nomor yang "pasti itu lagi, berani bertaruh.."

Sampai suatu saat panitia menyebut nomor 5 (Hamzah), diluar dugaan terjadi kehebohan karena nomor ini jarang dipilih.

"Ah yang bener, coba lihat sekali lagi," komentar para saksi
"bener kok nih nomor lima dicoblos" Surat suara diedarkan kesegala penjuru meyakinkan bahwa nomor "5" yang dilubangi. "kok tumben," diikuti suara gerr penonton.

Akhir penghitungan suara, Mega mendapat suara 5183 sedangkan SBY 4943. Lalu bagaimana tokoh kita yang kalau berdebat selalu pakai bahasa "pokoknya, pokoknya," ternyata ia mendapatkan suara paling bontot 150 suara.

"masih ada lagi nih, capres yang mendapatkan posisi di nomor 6"
"jangan chatting dong, kan pesertanya cuma 5 calon, yang keenam apa dong"
"ada nih 150 suara juga, presiden (suara) tidak sah..."

Ternyata anekdot tadi selain mengundang gerr juga sekaligus rasa nelangsa. Pak Hamzah dan pak Agum rupa-rupanya bersaing ketat dengan capres (suara) tidak sah.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com