March 12, 2006

Candu

Date: Fri Nov 7, 2003 8:49 am 12435

Dalam satu ceramah di depan publik di Jepang, pemimpin spiritual dari Tibet, Dalai Lama melihat serombongan orang membawa karangan bunga dan berjalan ke arahnya. Dia langsung berdiri dari kursinya untuk menerima persembahan kembang tadi. Sejenak ia tertegun sebab kembang tadi tidak untuk dirinya melainkan diletakkan di altar (panggung) dibelakangnya. Kejadian ini membuat penerima Nobel perdamaian ini tersipu. Dia sadar bahwa jalan fikiran manusia sering tidak sejalan dengan kenyataan dan sekaligus menyadari bahwa tidak semua yang dicita-citakan di dunia ini bisa diperolehnya.

Bandingkan keadaannya dengan yang pernah dialami penyanyi Titik Puspa. Penyanyi yang 1 Nov 03 kelak genap 66 tahun usia, mengaku pernah dituntut oleh seorang penyanyi lantaran dia dengan kapasitasnya sebagai ketua Papiko (alm) (Persatuan Artis dan Penyanyi Ibukota) secara tidak sengaja memberikan kalungan bunga kepada salah seorang peserta yang sebetulnya tidak memenangkan pertandingan tersebut. Baru setelah panitia melakukan koreksi, karangan bunga tadi diberikan kepada pemenang yang syah. Diluar dugaan, Titik mendapat cemoohan terutama dari pihak yang kalah tadi serta menuntut penyanyi dan pengarang lagu ini sejumlah uang dan pernyataan maaf.

oooo

Sebuah buku yang sukar dicerna sekalipun saya menggunakan teknik membaca buku ala melahap pizza adalah tulisan Dalai Lama yang berjudul Ancient Wishdom, Modern World. Buku yang mencoba menguraikan cara hidup spiritualis di dunia modern dengan tata cara pandang kuno. Mengisahkan kehidupan Dalai yang dalam usia begitu belia harus tinggal di pengasingan di India sebab negerinya diduduki oleh pasukan Cina dibawah ketua Mao yang beraliran komunis. Masa hidup Mao Zedong sangat terkenal dengan Revolusi Kebudayaan, salah satu produknya adalah doktrin "Agama adalah candu Masyarakat.." Pemeluk apa saja di negeri itu dimusuhi, dimasukkan kedalam penjara untuk mendapatkan pendidikan agar bisa berperilaku seperti yang diinginkan oleh negara. Belakangan ini saya sudah tidak mendengar slogan ini. Apa karena dianggap terlalu ektrim memusuhi agama, atau sekarang sudah menyebar dengan teknik yang lebih luwes lagi.

Sejak 1959 Dalai sudah harus tinggal di pengasingan di India. Sampai sekarang pendukungnya selalu beranggapan bahwa Dalai memiliki mata ketiga atau kemampuan indra keenam, bahkan sering dianggap memiliki kemampuan akan mukjizat penyembuhan. Padahal Dalai sendiri mati-matian menolak anggapan itu. Ada beberapa foto misalnya, menampakkan Dalai sedang berdoa diselimuti oleh aura berwarna indigo (ungu), entah rekayasa digital atau bukan tetapi sekaligus gambaran bahwa di kalangan pengikutnya Dalai adalah semacam manusia Indigo yang dikenal memiliki kemampuan "melihat dibalik peristiwa.."

oooo
Dalam kesempatan lain, Dalai menceritakan rekannya Rahib Lopon-Ia yang dipenjara oleh tentara pendudukan (Cina). Selama dipenjara dan berpisah selama 20 tahun. Suatu ketika Lopon-Ia diijinkan mengunjungi Dalai di India. Lopon memang sudah nampak tua dari segi wajah, tetapi senyumnya dan maka fisiknya masih kelihatan sehat seperti sebelum berpisah. Padahal Dalai tahu selama mengalami masa "didik kembali ke jalan benar" oleh Tentara Komunis yang menganggap para Rahib sudah kecanduan barang bernama Agama, ia tentunya mengalami siksaan fisik yang hebat. Dan ketika Dalai menanyakan apa yang ditakutinya selama mengalami "pendidikan ala Revolusi Kebudayaan", maka ia hanya menjawab "Saya takut siksaan akan berakibat saya kehilangan welas asih dan keperduliannya terhadap sesama napi di penjara.

Episode lain menceritakan kesukaan Dalai atas mobil tua peninggalan pendahulunya. Seorang montir kepercayaannya Lhakpa Tsering nampak sedang memperbaiki mobilnya yang memang sudah mulai ngadat. Tiba-tiba kunci pas yang dipegangnya terjatuh sehingga tanpa sadar Lhakpa menyumpah-nyumpah. Serta merta ia bangkit dan lupa bahwa kap mobil (atau hidung mobil?) masih terbuka diatasnya sehingga kepalanya membentur dan menimbulkan suara keras. Montir ini kian marah ketika ia meluruskan badannya ia malahan membentur kap mobil untuk kedua kalinya. Kemarahan Lhakpa menghasilkan dua memar dikepalanya. Itu sial baginya, dan bagi Dalai adalah suatu peringatan bahwa kemarahan justru menjadikan manusia kehilangan kontrol yang berakibat buruk bagi
dirinya.

Friday, November 07, 2003 12435
Mimbar Bambang Seputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com