Budaya Voligami Betawi Kuno

Seorang teman bertutur mengenai adat istiadat sebuah suku di Indonesia. Mereka memiliki falsafah hidup 5 B.

B pertama adalah balajar, B kedua adalah bakarjo, B ketiga bakaluargo, B keempat Baramal, B ke lima maaf.. (bapoligami), lha kalau rukun ke lima ini tidak sanggup ya pakai B lain, yaitu basalingkuh.

Pembaca saya yang perempuan pasti pada protes nih. Dan sekalipun anekdot warung ini sekedar gojegan, namun kalau kita kembalikan ke seratus tahun lalu masih ada benang merahnya.

--ooo--

Babah Tan Lan Siong mengadu kepada polisi di lingkungan Kampung Cina (Pecinan). Pasalnya ia punya isteri kabur,dan membawa anaknya yang berusia 2 tahun. Pemilik toko Tiga ini sebetulnya punya isteri empat dan tinggal dalam satu atap. Jadi kalau si Puti, demikian ia menyebut nama isterinya tersebut kabur mustinya dia tidak "opyak" heboh seperti kebakaran jenggot. Apalagi sampai bawa-bawa pulisi segala.

Babah nampak gusar dengan kepergian salah satu isterinya. Apakah lantaran kepada "nyai" satu ini ia begitu sayang sampai ia melapor agar isterinya segera dilacak keberadaanya. Atau ada pihak ketiga yang mengacak rumah tangganya, demikian pertanyaan khalayak. Soalnya ratusan tahun kemudian ada anak wayang "bekend" kabur ketempat produsernya, dan ketika para koeli tinta mengejarnya, astaga ampuun, itu bahasa syurga fasih betul dia ucapkan dan disertai isak tangis memilukan. Sekalipun akhirnya dia tidak kuwat menahan kemunaan dan bilang sekali lagiu ini "demi ibadah.". Nyimut temenan.

Rupanya Puti, yang sudah punya anak satu berusia 2 tahun, kabur bersama emas dan intan seharga 1700 gulden (4 juni 1903), sehingga menimbulkan kegusaran babah Siong sampai berujar sebagaimana dikutip Bintang Betawi "Biar semua bini lari ngai trada kasi hati sedi. Yang penting itoe ngai punya barang bisa kombali...."

Oooo itu ya...

Sikap Baba Siong mencerminkan kehidupan orang di Betawi pada masa lalu.

Kalau kemudian beberapa anak cucunya beberapa ratus tahun kemudian berkilah bahwa lelaki bisa berpolygami adalah lelaki istimewa, pertama istimewa sebab banyak orang lelaki kepingin VOLLY tapi takut, dan istimewa kedua adalah isteri yang membagi cinta dengan merelakan suami berakrobat ditempat tidur dengan itoe madoe (selir). Istimewa ketiga kalau bisa memuslihati isteri "bahwa barang siapa mengijinkan suami naik ranjang(lagi), maka dibukakan pintu (bagi) nya untuk naik sorga."

Persoalannya Baba Siong dan juga warga Belanda umumnya menganut "satu yang sudah dipersatukan tiada boleh dipisahkan manusia" maka dogma tadi dipelesetkan menjadi "kalau tidak boleh memisahkan, menambah lagi bagaimana...?"

Apalagi sikap kebanyakan prempuwan Betawi masa itu sudah cukup lega bisa ditaksir bangsa lain, dan cukup jadi nyai saja. Dalam salah Novel "Peniti-dasi Barlian" diterbitkan oleh koran Sin Po, 1922 tertulis: "Kau satu orang Tionghoa, maka musti punya istri-kawin orang Tionghoa juga. Aku cuma orang Bumiputra, maka jika kamu ingin menikah pula, dengan senang hati, aku nanti mengambil tempat sebagai gundik saja." demikian kata Soemarti kepada suaminya Liang Jin. Dalam cerita dikatakan bahwa Soemarti sendiri melamarkan gadis bernama Hong Nio, untuk "lukir" dengan Soemarti menjadi isteri sahnya. Sedeng(kan) Soemarti rela turun di anak tangga ke "nyai"... [Novel Peniti-Dasi Barlian, Tan King Tjan 1922]


--ooo---

Setelah Kompeni membangun kerajaan di reruntuhan Jayakarta, memang banyak terjadi permainan Volly. Istilah "Belanda masih jauh" kemungkinan besar berasal dari VOC yang intinya pernyataan, eloe mau jungkir balik di Betawi, mevrouw di Denhaag atawa Leiden juga tidak tahu.

Dipicu oleh kenyataan banyak isteri pembesar VOC yang enggan ke negeri yang dilukiskan pada peta masih banyak kanibal di pulau Jawa (foto pameran peta di Musium Arsip Nasional). Akibatnya bisa diduga, mereka terpaksa melepaskan kebutuhan primitifnya dengan teknik nempur alias "ketengan". Jelasnya jual beli "apem bantat" menjadi meraja lela, apalagi jumlah perempuan di Betawi waktu itu masih sangat sedikit.

Seorang pengamat pada 1706 Valentijn mengatakan "nyaris tidak seorang Belandapun yang terpandang di Jawa, yang tidak mempunyai gundik...."

Pada akhir abad ke-18, putera Gubernur Jendral van Riemsdijk yang bernama Williem vincent Helvetius, dengan koneksi sang ayah menguasai perkebunan dari di kawasan Cibinong, Cimanggis, Tanah Abang danbeberapa tempat lainnya. Untuk mengerjakan perkebunannya ia mengerjakan budak-budak dari Pribumi dan Cina.

Agar perkebunan bisa di kelola dengan baik, maka disetiap gerai perkebunan ia menikahi perempuan setempat. Jadi bisnis dan plezir digabung disini. Pada saat kematiannya tercatat ia memiliki istri 14, 10 "sepia" atau kekasih gelap, dan 24 anak yang tercatat. Itu diluar anak gelap.

Salah satu penyelianya adalah Andries yang tugasnya membuat observasi dan catatan dengan berkeliling perkebunan. Dia melihat bahwa sekalipun startnya sama-sama boedak, ternyata boedak Cina selalu berusaha lebih keras untuk maju dan menghalalkan segala cara. Entah itu halal atau tidak. Sementara boedak pribumi dikatakan ogah-ogahan bekerja, kurang daya juangnya dan kurang memikirkan masa depan.

Pengamatan Andries ini dikonfirmasikan bahwa pada akhir abad ke 18, para budak Cina sudah naik status menjadi tuan tanah dan pengusaha-pengusaha yang mempekerjakan pribumi. Banyak rumah yang dahulu mereka menjadi budak, berbalik dibeli oleh mereka.

Sedikit berbeda dengan "bapak pendiri Depok," Cornelis Chastelein. Toean campuran Belanda Perancis, tapi Perancisnya banyak. Ia penganut agama ngelotok sekaligus sebagai orang yang terpandang dalam kelompoknya dia membenci bisnis apem bantat. Sehingga prinsipnya lebih baik beli harga grosir daripada ketengan jatuhnya mahal. Tidak tanggung-tanggung dia mengawini dua perempuan pribumi. Bapak pendiri Depok ini mengimpor 12 keluarga dari pelbagai Suku seperti Bali, Bugis, Kalimantan dsb.

Chastelein mengambil dua perempuan Bali sekaligus. Sekalipun ia sudah disatukan dengan orang Belanda bernama Catharina van Vaalberg. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama sama dengan ayahnya, Anthonie Chastelein.

Chastelein ini penggawe tinggi VOC, yang minta pensiun dini lalu inves di hutan belantara Depok, lalu minta Merdeka pada VOC dan dikabulkan. Jadi boleh dibilang dia adalah negara yang kepingin merdeka dan berhasil. Tanpa pertumpahan darah.

Kuburnya ada di belakang RS Hermina Depok.

Dipihak lain seorang Mayor (Cina), bernama Khouw Kim An juga dikabarkan mempunyai isteri yang banyak. Mereka tinggal di rumah yang bernama Sing Ming Hui sekarang Chandra Naya dulu kediaman Majoor der Chineezen Khouw Kim An (1875-1945). Beralamat jalan Molenvliet West (Jalan Gajah Mada 188). Rumah ini dikabarkan memiliki rumah dengan 100 kamar, diisi oleh 14 orang isteri dan anak-anaknya. Untuk catatan gedung Sing Ming Hui adalah cikal bakal Universitas Atmajaya nantinya. Gedung ini sekarang terancam digusur, dengan alasan Feng Sui kurang cocok. Padahal dalam staat monumenten ordonnantie, Sing Ming Hui adalah gedung bersejarah yang harus dilindungi.

Lalu, Oei Tiong Ham, Kapitan Cina dari Semarang sebagai raja Tebu dan Pabrik Gula di Semarang, dan konglomerat jaman dulu tidak diragukan lagi mempunyai banyak isteri. Cuma alasannya rada aneh, ia ingin mengawini banyak perempuan agar bisa dapat anak lelaki untuk meneruskan usahanya. Majalah Intisari pernah memuat kisah OTH, cuma sayang saya tidak bisa menemukan arsipnya.

Kelihatannya banyak dari kita menurun sifat ini....
Hanya kalau sekarang alasannya lebih canggih dengan dalil-dalil yang sepintas shahih.
Date: Thu Jun 26, 2003 9:03 am

Comments

Popular Posts