Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Bom Konsulat Kuningan 9 September 2004

Nama Indonesia tiba-tiba menjadi begitu melambung.

Seluruh sudut bola dunia penuh dengan kemarahan bangsa asing akan ulah kelompok bom bunuh diri di Kuningan, Jakarta. Dahsyatnya menepis berita mengenai tewasnya tiga ratusan anak-anak yang sekolah yang terbantai dalam usaha pembebasan tentara komando tentara Rusia. Dunia sedang berpaling dari Moscow ke belahan bumi lain, Jakarta - Indonesia. Sembilan nyawa terenggut. Ratusan lainnya luka.

Beberapa hari sebelum kejadian Kuningan, Harian Western Australia menurunkan karikatur yang melukiskan suasana persidangan di Indonesia. Seorang tua berjenggot "gulung koming" alias tertawa terbahak bahak terguling-guling sampai melorot dari kursi pesakitan. Salah satu tangannya menunjuk kepada para hakim sambil mengatakan "mereka pikir saya berbahaya bagi perdamaian dunia?".

Sementara didepannya duduk para Hakim, dilukiskan seperti tiga ekor keledai dungu yang tidak bisa berbuat banyak.
****
Sebagai warga asing yang cari nafkah dinegara orang, mau tidak mau saya sedikit repot membela tuduhan tersebut dengan mengatakan dahulu setiap ada ledakan bom, penyanderaan atau pembajakan maka ujung jari akan menuding cuma satu kelompok yaitu "komunis". Mungkin masih ingat Brigade Merahnya BahderMeinhoff, Brigade Merah Jepang dan banyak lagi. Sekarang, sejak komunis jatuh, tuduhan negara barat cuma satu yaitu "JI" atau radikalisme keagamaan.

Hari Kamis 9 Sept 2004 dari kejauhan 2500 km dari ground zero, empat jam penerbangan dengan pesawat Boeing, ditengah ruangan yang isinya orang Australia, saya mendapat SMS "Bom lebih dahsyat dari BW Marriott....bla.." - Saya masih belum yakin, sampai beberapa teman mengirimkan SMS lanjutan. Dan seseorang Kiwi masuk tergopoh-gopoh kedalam ruangan, "Bali di Bom Lagi...." - Lho kok Bali?, katanya Kuningan - Atau gara-gara di Bali ada upacara agama seperti Kuningan, menyebabkan mereka keliru interpretasi?

Belum sempat menjawab, seluruh muka dalam ruangan itu sepertinya berpaling kearah saya. Melongok kepada seorang "represetative". Yang selalu ingin menunjukkan bahwa bangsa ini ramah, selalu tersenyum. Namun apa daya. Bom sepertinya meluluh lantakkan harapan kita untuk segera keluar dari kesulitannya.

"Menurutmu mereka itu kenapa sih bertindak diluar batas begitu?" tanya seorang rekan Australia kepada saya. Ya terang saja saya bilang, kami tidak mau kejadian itu di Indonesia (atau negara lain), tetapi ada sekelompok orang yang memang dalam darahnya ada "gen" yang sudah tidak selaras dengan harmoni kehidupan manusia lainnya.

Tapi di layar TV, cewek kurus sangar Sidney Jones, berbicara lantang. "Berkali-kali saya katakan pemerintah Indon memelihara teroris..., hasilnya saya dideportasi dari negeri itu..."

Sementara prof Harold ahli mengenai "kejelakan" Indonesia yang juga ada di kedubes saat blasting, mengatakan Pihak Konsulat Australia sangat terlatih dan profesional sehingga ketika terjadi ledakan mereka tetap tenang bahkan membantu para korban. Sebuah usaha membengkakkan rasa patriotik Australia.

"Kami justru kerepotan, dengan pekerja warga Indonesia yang histeris sehingga harus ditenangkan..." Kata profesor spesialis Indonesia yang nama lengkapnya Harold Crough. Cuma profesor kritis ini tidak tahu bahwa beberapa karyawan lokalnya sangat ketus kalau melayani bangsa yang ingin mendapatlan visa ke Osie.
*****
Di Bandara Perth, ketika sebagian orang tidur lelap, sambil malah berkerudung jaket tebal untuk menahan dingin dari terpaan angin Perth malam itu 11 selsi, Petugasnya mbak Bule, ramah. Lalu dia lihat tiket saya transit semalam di Singapore dan baru kembali ke Jakarta.

"Bagus," katanya. "Jangan ke Jakarta, Horrible City.." lalu dia bergidik "giggle" seperti kalau saya melepas hajat tapi kelamaan di tahan. Cuma gidiknya lebih ke takut, amit-amit ketimbang rasa geli tentunya. Saya lirik TV yang di kiri kanan, lagi-lagi Indonesia, teror, Jakarta, blast, disebut-sebut. Saya malahan sudah siap mental jika saja ada perlakuan kurang simpati dari sekelompok kulit putih yang emosional melihat Asian ada diantara mereka. Tapi untunglah tidak terjadi.

Tas saya bobotnya 21,5 kilogram. Isinya ya cuma pakaian dingin yang sebagian malahan tidak terpakai. Lalu tas diberi label merah "Mind Your Knee, Heavy Lift, Need Assistance"

Meliwati X-ray, seluruh isi tas laptop termasuk laptopnya harus dikeluarkan.
Begitu juga dengan handphone. Saya dinyatakan bersih.

Dini hari itu jam di pergelangan tangan saya menunjukkan 11 September. Di sudut ruangan ada kotak kaca berisikan anak kobra diawetkan dalam arak dalam botol, ekor harimau, kerang laut, kulit ular, kaviar dalam kaleng dan banyak lagi contoh yang menunjuk keras "barang serupa ini jangan anda bawa kedalam pesawat..." Lalu disebuah sudut lain, terpampang contoh gunting, pemotong kuku, pisau lipat, obeng, paku dengan larangan yang sama. Saya sudah memindahkan "nail clipper" saya kedalam tas kanvas. Yakin bahwa tak terjadi insiden membawa benda terlarang kedalam pesawat.

Di ruang tunggu gerbang no 5, saya lihat ada dua bule tertidur. Maklum masih beberapa jam kedepan pesawat baru mendarat. Di ujung pintu masuk, ada sepiring permen yang segara saya ambil satu. Sebelumnya sadar bahwa perbuatan ini tergolong mencuri. Lalu ingat bapak bangsa Hatta. Suatu ketika mereka berjalan-jalan dikota Ende. Sang teman mengambil sebuah mangga dari sebuah kebon yang sedang berbuah lebat sampai salah satu rantingnya menjuntai keluar pagar dan bergantung dipinggir jalan . "Mencuri, adalah mencuri apapun alasannya..." Kata Hatta marah.

Tidak berapa lama seorang lelaki bule datang. Ia menghidupkan komputer dan mukanya berkerut. Saya kurang jelas apakah ia security atau petugas badara biasa. Yang jelas mukanya berkerut. Dua komputer ia hidupkan sambil mencoba mempelajari isinya..

ADA PENYUSUP DI BANDARA PERTH ?

Petugas security di Perth menemukan bahwa sistem komputer mereka menunjukkan ada seseorang yang "login" kedalam pesawat. Padahal pesawat baru saja mendarat. Dan saya yang duduk terngantuk-ngantuk lantaran sejak jam 8 malam sudah mengantar teman ke bandara Domestik, lalu saya sendiri sudah sampai Bandara Internasional jam 22 padahal pesawat jam 01.00 jadi hilang rasa ngantuknya "Wah gawat nih, jangan-jangan teroris." pikir saya. Tidak berapa lama muncul 3 orang tinggi besar. Menilik pakaiannya mereka bukan akan bepergian. Namun sikap pihak bandara sepertinya hormat dan mengijinkan mereka bertiga masuk pesawat tanpa banyak pertanyaan.

Selang beberapa lama pihak sekuriti bandara mulai mengitari pesawat. Pesawat memang terlambat beberapa puluh menit dari rencana semula yaitu 01.00. Entah ada peningkatan kewaspadaan.? Dalam pesawat milik Maatschapij Singapore tujuan ke Singapore (memang saya memanfaatkan untuk melihat putri saya di Singapore) - penumpang sebelah saya orang Perth. Kami ngobrol basa basi soal cuaca yang masih dingin. Lalu pramugari berkain batik menawarkan koran.

Gambar depannya "Indonesia Blast" - Ya sudah.... kata-kata sumpah serapah muncul dari mulut mereka yang membaca koran tersebut. Kalau memang benci kepada Howard atau Bush, mengapa bukan mereka saja yang di Bom, kata seorang ibu warga Singapore. Jangan mengorbankan "innocent people" Ah bicara memang mudah apakah Mr Howard atau Bush jalan-jalan cari Visa sehingga mudah di habisi? Untung handset untuk menonton segera dibagikan. Saya berpura-pura nonton filem hari Potter dilayar sebesar laptop didepan saya. Dan tak lama memang keadaan senyap kecuali penonton sibuk menonton filemnya favoritnya masing-masing seperti Kill Bill, Harry Potter dan beberapa pilihan lainnya. Tetangga sebelah saya sudah lama terlelap akibat menenggak pil tidur. Tapi selera nonton saya sirna sudah. Rasanya penerbangan selama lima jam Perth - Singapore menjadi lebih lama lagi....
Singapore 11/9/04

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com