Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Bocah Penjual Slondok

Date: Mon Apr 30, 2001 10:57 pm
Lokasi: Depan Hero Depok.

Dalam perjalanan melihat kebunku, penuh dengan Gurame, ada yang sehat dan ada yang sakit. Biasanya saya mampir di Hero Depok. Hero nggak bisa dibilang toko murah, harganya gila-gilaan. Padahal kalau mau 300 meter ada Goro Depok yang harganya jauh lebih miring. Sekali waktu Hero jual telor ayam dengan harga miring, begitu digoreng, ternyata telor ini sudah kadaluwarsa. Antara telor kuning dan putih sudah
mengikat perdamaian.

Kopyor bahasa sananya. Ketika saya komplin, kata penjual, itulah sebabnya cuma diobral 3 hari. (mungkin maksudnya lebih dari itu telur sudah meledug karena busuk.)

Cuma karena sepi pengunjung, bagi yang terburu-buru lebih milih kesana. Apalagi parkir di Hero sangat strategis.
Di pelataran parkir Hero yang kubenci karena mahal tapi kok balik kesono lagi, ada bocah perempuan (15), kurus, berambut keriting menggelar jualan krupuk singkong, Slondok. Dia nggak pernah mencoba menawarkan dagangannya. Cuma duduk ditangga pintu masuk dan keluar.

Saya iseng beli sebungkus slondok. Mencoba membuka jalur komunikasi, siapa tahu ada inspirasi yang lucu, bahan untuk tulisan di Intisari.

"Dua Rebu," katanya tanpa ekspresi. Matanyapun nyalang melihat arah lain.

Wah sekalipun rada jengkel melihat sikapnya, saya ambil juga slondok tadi. Uangku diambil, eh tepatnya disaut, tanpa ucapan terimakasih dan matanya masih memandang sudut lain.

Sejak itu saya sudah kehilangan minat membeli "slondok" dari bocah itu.

Baru-baru ini, ketika saya datang lagi belanja di Hero yang mahal itu (lha sawi seiket kecil Rp. 8030), bocah keriting ini mendekati saya, menawarkan dagangannya. Kemana pergi saya diikutinya. Kalau ada kendaraan masuk parkir, langsung disongsong dengan dagangannya.

... Slondok pak, slondok bu..., suaranya lirih.

Kalah jauh dengan penjaja telor asin di stasiun Kroya, yang masuk pas teriak didekat
telinga kita sedang terlena tidur.

"Ada yang berubah hari itu....." pikirku.

Tapi seperti ikutan para elit politik, jengkel saya belum hilang. Padahal bocah sudah mengubah sikapnya. Saya tidak berniat membeli darinya. Kuberi kode dari dalam Kijang inventaris, "no, no".
Rp. 2000 kok bisa membawa saya menjadi pendendam.

Dari hasil bincang dengan penjual krupuk singkong yang lain, anak ini katanya dari keluarga "ada'an" maksudnya mau makan ada, mau minum ada, mau nonton TV ada. Cuma, dia menjalani perintah untuk jualan. kalau ini tidak dilakukan, atau jualannya sepi, sang ibu akan memberi nasihat dengan suara keras, dan tamparan. Sang bapak katanya suka kehabisan asbak sehingga mematikan rokok ditangan sang bocah malang.

Slondok itu modalnya Rp. 1200 dan harus dijual Rp. 2000, memang sedikit mahal bila dibanding penjual lainnya yang berani menawarkan cuma Rp. 1.500.

Tapi wajah bocah dengan mata kosong ketika menerima uang pembelian slondok, sudah mulai mengubah penilaian saya terhadapnya. Jadi, selama ini dia bukan acuh, tetapi ketakutan pulang kerumah.

Nggak heran kenapa para bapak Satpam membiarkannya jualan sendiri di pelataran Hero.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com