Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Bocah Citayam bernama Nandi

Date: Wed Nov 10, 2004 6:51 am

Nandi, 5 tahun, bocah lelaki Citayam adalah salah satu anak yang sering bertandang main ke gubuk kami. Apalagi kalau saya bawa keponakan yang sebaya (6) dan (4) yang dua-duanya sekolah. Bertiga mereka main di parit-parit air yang gemercik, memetik jambu batu dan melahapnya langsung tanpa dicuci karena baginya buah tersebut cukup diusap-usap ke bajunya yang tentunya tidak juga bebas hama, atau makan belimbing, atau rambutan kalau sedang musimnya sambil telanjang kaki sungguh merupakan paradise bagi keponakan-keponakan saya Dana dan Dito yang dipandu oleh Nandi. Sebagai insentif atas jasanya bertindak sebagai sparring partner, kepada Nandi biasa kami bawakan makanan, atau mainan seperti kembang api dsb. Kalau sudah jam 8 malam, biasanya ibunya yang nampaknya hamil lagi datang menjemput Nandi seraya minta maaf kalau putranya "ngaduk-aduk" - Bahasa Citayam "aduk-aduk" adalah nakal. Bagi kami Nandi adalah bocah lelaki wajar dengan aktivitas seumurnya.

Tentu saja dengan ayah yang pekerjaannya bangun siang, dan merasa kewajibannya adalah main bola kali untuk menghilangkan stress dan kepenatan seharian (stress apaan), lalu kalau malam berhayal cari proyek gede (tapi hampa), bisa dibayangkan kira-kira tingkat ekonomi selevel P3K (Pelan Pelan Porotin keluarga). Biasanya dengan menjual tanah warisan.

Seumur Nandi di kota para orang tua sudah sibuk menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit, sementara guru memberi stress berupa pekerjaan rumah yang berlembar-lembar. Sedangkan bocah Nandi kalau ditanya "sudah kelas berapa?" jawabannya geleng sambil "kagak sekolah". Gantian mata dengan wajah polosnya menatap seperti mengatakan "nanya apaan sih kok akun gak mudeng". Kadang wajahnya seperti sinetron Anak Tiri yang punya kakak dan ibu (tiri) yang kejamnya diluar batas Pancasila.

Sayangnya rata-rata penduduk Citayam kurang menghargai nilai pendidikan. Orang tua mereka bisa mengusahakan jual tanah untuk ke tanah Arab, "lihat kuburan Nabi" dan pulangnya mendapat panggilan "Wan"- seperti Wan Sarman, Wan Senel, namun untuk uang sekolah anak, nanti dulu. Saya pernah menyoba menyekolahkan beberapa anak yang kelihatannya "baik-baik" dan berakhir dengan mendapat laporan bahwa uang tersebut dipakai untuk beli rokok dan minuman keras, ketimbang untuk sekolah.

*****
Ada sikap yang unik dari Nandi adalah kalau diberi makanan, pertama ia malu-malu, lalu ia akan menghilang beberapa saat dan kembali setelah makanannya habis. Kalau penganan yang kami berikan agak banyak, ia laporan bahwa "makannya sama emak.."

Orang kota selalu "GeEr" merasa memiliki nilai hidup yang adiluhung dan ingin ditularkan kepada bocah lugu seperti Nandi. Pertama kalau diberi makanan, ia diminta untuk menyodorkan hanya tangan kanannya yang selama ini kiri-kanan okey. Percobaan pertama berhasil. Ia sudah bisa menjadikan tangan kiri yang jumlah jarinya ada lima, yang ajaib ciptaan Tuhan menjadi barang yang separuh mubadzir. Bahkan cenderung didzolimi lantaran kita punya dalih dan dalil, itu "tangan kotor" - padahal sekali tangan kotor itu tak berfungsi, kita baru tahu rasanya. Kedua Nandi belum terbiasa mengucapkan kata terimakasih. Mungkin Nandi tanpa sengaja ingin mengajar kita bahwa kalau sudah memberikan sesuatu, jangan harapkan pujian ataupun kata terimakasih. Sayangnya orang kota "mawa cara" - punya cara baku.

Pada kesempatan lain ketika disodorkan sepotong kue, Nandi sudah "benar" sikapnya yaitu mengambil dengan tangan "suci" alias kanan. Tapi kami ingin lebih dari itu.

"Coba Nandi kalau dikasih kue bilang apa..."

Sejurus ia nampak berfikir, lalu dari mulutnya yang mungil keluar kata singkat "RISOLES" - sambil memasukkan risoles kedalam mulutnya.

Pernah ia ditanya oleh seorang tamu, kalau lebaran Nandi akan pergi kemana? - jawabnya "jauh, ke Parung" (Citayam - Parung jaraknya sekitar 6 kilometer). Nandi sudah bisa "mandi dewek kalau kagak segen", sementara keponakan saya 6 dan 4 tahun masih tergantung kepada ibu, bapak dan bibinya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com