Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Bernapas dalam lumpurnya orang betawi

Setiap bicara soal tata kota warisan Olanda, tidak jarang para kakek kita berceloteh bahwa 'jaman normal" waktu beras cuma sekian "hulden" sekarung, parit-parit dibangun orang olanda dengan ciamik dan sistematis agar tidak banjir. Pemda DKI musti belajar membangun dengan arsitek ala Belanda.

Pendapat ini rada kelewatan. Olanda membuat parit-parit besar sebab mereka ingin membangun kota persis seperti negara asalnya. Hasilnya ya karena terlalu dipaksakan, maka beberapa gangguan mulai terjadi. Lha dulu orangnya sedikit, diusir dari bantaran banjir nggak ada yang protes lantaran mbak Wardah dari konsorsium Urban belum lahir. Misalnya pada tahun 1699, gunung Salak (2111 m dpl) meletus. Dan hasil erupsi ini di pool sampai menggunung sekitar gunung Salak. Tepat usia setahun (lebih dikit), itu bahan vulkanis digelontor hujan dari Bogor memasuki sungai Ciliwung lalu membanjiri Jakarta. Jadi, banjir hebat yang kerap kali menghantam Batavia sebetulnya sudah lama dikenal sejak 1670-an. Dan tak elok kalau cuma seorang Sutiyoso yang dipersalahkan.

Celakanya tatkala musim kemarau, yang tersisa adalah lumpur yang banyak membawa bibit penyakit. Apalagi kastil-kastil plus rumah sakit Betawi doyan buang limbah rumah sakit ke sungai yang kurus kering tadi. Akibatnya penyakit kolera serta disentri menjadi santapan hari-hari. Belum lagi air tergenang menjadi sumber terjangkitnya Malaria.
Ada yang mengatakan bahwa Batavia adalah kuburannya orang Olanda sebab banyak yang datang, sebagian malahan masuk "recycle bin" di pemakaman-pemakaman umum.

Itulah alasan mengapa Daendels ketika berada di Hindia Belanda tidak menganggap kastil warisan ini sebagai hal yang sehat. Dan ia putuskan untuk mengurug Kastil termasuk Pintu Besarnya sampe-sampe anak cucu kita bingung ada daerah bernama Pintu Besar tetapi mana pintunya.

College van Schepenen pada yang berkantor di Staadhuis (Balai Kota) menetapkan bahwa harus ada anggaran banjir yang diambil dari uang lumpur (bukan dari gaji mud logger). Dari "modder geld" ini parit mulai digali dan dibersihkan.

Para ahli keruk parit rata-rata Cirebon, yang dipekerjakan sebagai "rodi", diberi makan dan upah sedikit tapi dikasih titel "modder Javanen."

Tetapi dengan sifat pelit dan korupsi dikalangan Kompeni, maka usaha membebaskan Betawi dari lumpur dan banjir sepertinya sia-sia. Betawi terus bernapas dalam lumpur.

Mimbar Seputro
Bernafas dari lumpur (mud logger)
Date: Wed Jul 30, 2003 8:16 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com