Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Berburu Durian di Singapore

Durian thai monthong yang terkenal berdaging tebal, montok ginuk-ginuk, kuning bambu dan baunya wangi semerbak seperti bau asap pedupaan dari Taman Dewangga (kata yang pro tapi tanpa 75 ribu untuk ongkos akomodasi) diperjual belikan di jalanan dengan kemasan styrofoam dan ditutupi plastik trasparan harganya sekitar Sin 5 per paket seberat 0,450 gram alias 25 ribu lebih sedikit....

Isinya sekitar 2-3 pongge (biji)

Bagi penggemar buah yang ambune seperti peceren (got) kata yang anti (juga bukan golongan yang dibayar 75 ribu sekali demo), maka harga segitu di carrefour" Harmoni juga plus minus lah. Sekarang bagaimana melahap buah taman dewangga (ini juga taman apa, cuma ikut-ikutan) ini dengan harga murah ?

Tunggu saja sampai matahari naik sepenggal galah, biasanya pedagang yang sudah mulai kipas-kipas keringetan dan panik dagangannya tidak laku. Apalagi dagangannya tergolong tidak tahan disimpan diudara bebas, daripada menuai bau dan durian busuk yang mengundang lalat hijau mereka rela menurunkan harganya menjadi Sin 2 alias sekitar 10 ribuan.

Masih mahal? tunggu lagi...

Masuk asar, komoditi ini dibanting lagi jadi Sin 1 (alias sekitar lima ribu rupiah). Nah disinilah kita baru bergerilya mborongi mbak monthong yang montok tadi. Tentunya satu pak styrofoam kalau anda makan ditempat masih okey, tapi mau cuci tangan dimana? - eh sekalipun ada sabun cair yang anti bakteri dan tanpa airpun, kalau bau duren memang nggegirisi. Baunya nempel kaya (duren)

Atau dibungkus untuk dibawa pulang dan makan di apartemen? di hotel?

Halangannya, MRT dan Bus maupun Taxi bakalan menolak kalau ada calon penumpang membawa durian sehingga akal-akalan kita membungkusnya pakai plastik sampai tebal, dibungkus lagi dan lagi, di cek pakai hidung sudah kedap-mambu atau belum. Kalau sudah okey, tenggelamkan dalam tas yang dalam, tarik resleting (tas lho), dan masuklah ke MRT atau Bus dengan rasa deg-degan takut ketahuan.

Namanya juga usaha....

Dan beberapa buah seperti anggur juga mengalami nasib sama, yakni dibanting menurut arah jarum jam.

Untuk itulah dibeberapa apartemen di Singapore banyak dijumpai penjual durian sehingga bisa dimakan ditempat dan dibawa ke apartemen secara diam-diam.
Date: Wed Oct 9, 2002 1:03 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com