March 13, 2006

Ber-tram-way dahulu, bus way kemudian

Date: Mon Jan 12, 2004 8:11 am 12758

Tiga Minggu Survey
Beberapa hari lagi, tanggal 15 January 2004 Gub (Jen) Sutiyoso akan meresmikan pengoperasian 56 unit busway ber-AC dengan kemampuan melayani dari 3-5 menit setiap bisnya. Dari 31 seat yang tersedia (total 85 penumpang) untuk setiap bis, disediakan pula 10 martil pemecah kaca, disamping tabung pemadam kebakaran. BusWay akan diresmikan setelah menggunakan mantra sihir "setiap kebijaksanaan selalu ada pihak yang dirugikan," maka selama 2 minggu kedepan, penduduk DKI bisa menikmati bis secara gretong (gratis). Kelihatannya nyaman. Mudah-mudahan.

Alkisah seorang Martinus Petrus Pels pada suatu hari mudik ke Belanda. Di Eropah melihat berjenis kereta kuda yang dipakai sebagai alat angkutan kala itu. Dan ini memicu idenya untuk meniru hal yang sama di Betawi. Umumnya kereta-kereta kuda ini didatangkan secara "built up" dari Eropa. Orang betawi menyebut kereta sebagai "kahar", dan ini bukan terjemahan dari "force majeure".

Kereta kuda dikenal di Betawi sejalan dengan kedatangan Kumpeni. Tahun 1644 ketika rezim gubjen van Diemen berkuasa ia banyak bepergian dengan kereta kuda yang disebut "coetswagen". Sedangkan kendaraan para orang kaya yang biasanya lebih nyaman menggunakan kereta beroda empat dan ditarik dua ekor kuda yang. Kereta ini disebut "palankijn". Padahal terjemahan palankijn adalah tandu. Cuma kali ini yang narik bukan orang melainkan kuda. Lalu meneer Deelman merancang sebuah kereta bernuansa lokal yang akhirnya dikenal sebagai Delman yang beroda dua dan dihela oleh seekor kuda. Untuk kendaraan kelas rakyat didesign kereta yang harganya lebih murah yang disebut Doa-A-Dos (adu punggung). Dan penduduk Betawi menyebutnya singkat SADO. Untuk gado-gado antara Dos-A-Dos dengan Kahar, entah bagaimana di tanah Jawa bagian tengah, orang menyebut sebakai Dokar.

Juni 1867 Martinus membayar 4 orang untuk menduduki pos pengintai di rumah makan Tentee, jembatan Mangga Besar, rumah Bola Harmoni dan di jembatan KampungBali. Survei berlangsung selama 3 minggu mulai dari jam 06-18 menyimpulkan bahwa penduduk Betawi memerlukan angkutan umum yang reliable namun murah. Lalu Martinus membentuk kongsi Tram-way Maatschapij dibentuk dengan modal 800.000 gulden yang dikumpulkan dari 800 saham. Lalu ia menyetor 50.000 gulden saja ketika mendaftarkan perusahaannya kepada gubernemen.

Desember 1867 besluit ijin perusahaan turun dan September 1868 telah datang satu kapal yang mengangkut besi-besi dan stal (kandang) kuda. Sebuah station dibangun di Kota Intem, melewati rute pintu besar, molenvliet west (jalan gajahmada) dan Harmoni. Dari Harmoni, rel bercabang dua. Satu menuju Kramat melalui pasar baru dan satunya menuju Tanah Abang. Dengan crash program, maka 20 April 1869 Tramway sudah bisa dioperasikan setelah sehari sebelumnya melakukan upacara "sedekah-bumi".

Tram-way ini tak lain sebuah gerbong berjalan diatas rel dengan kapasitas 38 penumpang. Empat ekor kuda diperlukan untuk menarik gerbong beserta penumpangnya tersebut. Tarifnya kala itu cukup murah sekitar 10 sen. Bandingkan dengan Taxi sado sekali "nambang" bahasa palembang "narik atau ngojek" cukup mahal, sekitar 50 sen dari Pasar Baru ke Senen. Pada 23 Mei 1869, tramway sudah mengangkut 3400 orang. Perlahan gerbong diganti dengan besi yang jauh lebih kuat dan ringan dari pada yang lama selain mengangkut penumpang lebih banyak 48 orang.

Pertanyaannya apakah Bus Way pak Sutiyoso nanti akan memberikan kenyamanan kepada penduduk Betawi yang sudah menikmati angkutan umum nyaman, tepat waktu seperti Betawi zaman keemasan tram-way pak Martinus 135 tahun lalu.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com