Belanda Pincuk

Date: Sun Dec 14, 2003 9:45 pm 12610

Tatkala warga pribumi masih menjadi warga kelas dua dinegerinya sendiri (sekarang juga), maka ada usaha untuk mengupgrade diri menjadi warga kelas satu. Apalagi sejak GUBERNUR Jendral Rooseboom mengeluarkan besluit "persamaan-hak" antara orang bule dengan orang "hitam tapi belanda" maka seperti dikomando(i), beberapa bumi-putra berlomba-lomba ingin menjadi warga bule tersebut. Diantara nama-nama orang yang dipersamakan itu ialah Herman Londok Kambei di Betawi, August Eduard Lokollo di Amboina, Tjioe Seng Njio di Semarang, Wilhelm Johannes Manusama di Pangkalan Brandan, dan Amalia Wilhelmina Patty di Bandaneira. Syaratnya adalah dengan biaya 100 gulden plus dua saksi palsu yang dibayar untuk mengaku bahwa mereka mengenal dan mengetahui proses kelahiran si peminta. Umumnya orang dari Menado dan Minahasa yang banyak memanfaatkan urusan "pemutihan" ini, demikian juga kalangan warga dari Timur Asing. Hanya warga keturunan Arab yang sangat langka menjadi warga Belanda lantaran ada perbedaan prinsipil dalam kultur dan mereka tidak mau ganti agama.

Belanda "ketemu gede" ini sering bertingkah laku sedikit "over" sehingga muncul sindiran sebagai "belanda cangkokan..". Menurut majalah Trubus, cangkok adalah proses ketemu dewasa. Bukan ditanam dari biji. Tapi di tanah Jawa yang orangnya lebih sengkring lagi, muncul istilah Belanda "pincuk" maksudnya nama saja yang berbau Belanda tetapi giliran makan masih pakai pincuk (piring yang terbuat dari daun pisang) dan memasukkan makanan dengan jari tangan (ngokoh).

Sindiran ini sejatinya banyak ditujukan kepada nama Belanda tetapi tidak mampu berbahasa Belanda dan bertingkah laku Belanda. Duduk dikursi dengan "jegang" alias mengangkat kaki di kursi separuh jongkok, tidak menggunakan sendok dan garpu selagi makan, makan dengan mengeluarkan suara kecap-kecap, bersendawa selagi makan, berkumur-kumur lalu menelan minuman dan sisa makanan semua dianggap tindakan non Belanda.

Di stasiun Trem kerapkali terjadi keributan kecil oleh "belanda pincuk" yang ingin duduk dikelas para kulit putih. Kondektur trem tetap menolak belanda hitam ini untuk duduk di kelas yang diperuntukkan bagi kulit putih. Biasanya para "pincuk" ini siap dengan besluit pengangkatan ini untuk ditunjukkan kepada Kondektur yang sudah siap menggebah mereka ke kereta buat para "inlander".

Lalu Gubernur Jendral mengembangkan peraturannya dengan mengijinkan orang Jepang jadi warga Belanda. Repotnya kebanyakan para warga Jepang saat itu banyak berfungsi sebagai "penjual apem bantat" alias "rotan" bagi para pegawe Belanda yang "akar" nya nun jauh disana.

Sesuai dengan golongannya para pramu-saji-apel-bantat ini dulu diperiksakan kesehatannya di rumah sakit golongan Inlander alias Stadverband. Namun sejak jadi warga Belanda mereka minta persamaan hak untuk diperiksa di rumah sakit khusus orang Belanda yaitu Weltevreden.

Akhirnya dikeluarkan peraturan baru dimana para "rotan" baik warga Belanda atau "pincuk" maupun "cangkok", malahan diharuskan periksa "senjata" di RS elite Weltevreden. Tujuan menjadi warga Belanda sebetulnya lebih ditujukan untuk mendapatkan kedudukan tinggi. Tetapi pada kenyataannya ambtenaar cangkokan ini sebetulnya kecele sebab sekalipun mengaku Belanda tetap saja jabatan tinggi kulit putih tidak boleh dipegang oleh para Belanda Pincuk.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe