Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 07, 2006

Belajar dari monyet

Date: Sun Jun 2, 2002 9:34 pm

Sekolah jaman sekarang sepertinya menganut azas sebagai berikut. Kalau sekolahnya harus Besar, gedungnya harus bagus, maka murid yang dipilih harus yang cerdas dan syukur kalau kaya. Maka dikenalkanlah istilah sekolah Favorit, yang biayanya juga mahalnya minta ampun.

Akibatnya, hubungan guru dan murid menjadi greyzone antara mendidik dan bisnis.

Guru mengajar sekedarnya saja dengan harapan murid yang (mudah-mudahan kaya tetapi geblek) bisa ikut les matematika, les fisika, dan seabreg les les yang lainnya. Sang orang tua merasa plong karena sudah bisa mengirimkan anaknya ke tangan guru les, yang diharapkan nilainya paling tidak terdongkrak. Secara bisnis penjual dan pembeli sama-sama untung, seperti kata iklan Roxy Mas. Yang rugi, dunia pendidikan kita.

Apalagi sekolah mulai membagi siswa atas jurusan IPA, jurusan IPS dst. Yang pinter masuk IPA sedangkan murid yang rada bego, masuk IPS. Kalau ada murid yang rada nyeleneh seperti "bakatnya" IPA tetapi malahan memilih IPS dianggap BANCI dan mulai diintimidasi dalam kelas sebagai orang aneh dari angkasa luar. Kalau perlu orang tuanya dipanggil ke sekolah, kenapa anaknya "gila" tidak memilih IPA.

Sementara itu murid yang tidak beruntung boleh gigit jari, pindah ke sekolah non favorit. Murid Narkoba, atau bunting disekolah harus disisihkan sebab itu sudah menjadi penyakit. Perkara nanti para bermasalah jadi beban masyarakat, bukanlah urusan guru anak-anak cerdas.

Lantas Universitas mulai memberlakukan test masuk bagi siswanya, yang boleh dilihat sebagai "kejahatan dunia pendidikan" karena melakukan diskriminasi antara yang cerdas dan cepat fikirnya dengan yang sedikit lambat. Waktu luluspun para siswa yang sudah tersaring ini biasanya sudah dicekoki mereka memiliki label warga negara dengan "priviledge" sehingga sekalipun masih hijau dan bego nggak ketulungan tetapi petantang-petentengnya sudah luar biasa.

Kalau orang demikian mulai terdesak oleh kaum yang tersisih, biasanya akan digunakan ilmu tawuran yang elegant. Pesaing digeser dengan cara halus oleh kelompoknya.

*******

MONYET KANG.

Akan tetapi, disuatu provinsi Surat Thani di Thailand, ada sebuah Akademi yang memastikan bahwa tidak ada ujian masuk, karena sang guru (khruu=guru alam bahasa Thailand) menganggap semua mahluk hidup mendapat kesempatan belajar yang sama. Lulusannyapun mampu mendemonstrasikan kemahirannya, sehingga langsung bisa bekerja tidak perduli diejek sekolah tukang. Kelas ini terbuka dalam artian hanya mempunyai atap tanpa dinding sehingga murid bisa melihat tingkah polah abangnya atau adiknya dari kelas yang berbeda. Ini juga mengajar murid bahwa belajar itu bisa dimana saja, tidak harus gedung tinggi ber pendingin.

Sekolah ini juga menjamin, tidak ada murid yang drop-out sebab mereka berpendapat, kalau sampai ada yang dropout, itu semata-mata kesalahan tenaga pengajar yang mungkin tidak menemukan metode mengajar yang sesuai dengan bakat muridnya.

Sekolah ini juga menjamin, setiap siswa akan mendapat pemberdayaan sesuai dengan kemampuannya, bukan dijejali ilmu yang tidak ada hubungannya dan cenderung mengada-ada. Sekolah ini juga tidak menyaring siswanya. Sebab, hak mahluk hidup untuk mendapatkan pengajaran yang sama. Yang paling penting, setiap siswa yang menyelesaikan tingkat pelajarannya dijamin langusng bisa memperlihatkan kecakapannya, tidak ada training lanjutan. Karena guru sudah membebani bekal ilmu yang cukup. Tidak ada guru yang senyum ketika melihat muridnya tertatih-tatih mengikuti pelajarannya. Tidak ada guru yang bangga mendapat label "killer".

Teknik mengajar guru Somporn adalah : "Berikan contoh bagaimana melakukan dengan benar, melatihnya, melakukannya berulang ulang, memperbaiki kesalahan dan akhirnya memiliki kemampuan untuk melakukan dengan benar."

Siapakah guru yang memiliki metode mengajar nyeleneh dan "aeng" ini. Namanya Saekwo, lahir di Kanchanadir, Provinsi Surat Thani, usianya lebih dari 60 tahun dan murah senyum, pakaiannya sederhana kadang bercelana pendek dan bersepatu boot. Orang ini adalah guru tunggal, dan muridnya adalah monyet-monyet liar.

Bukan monyet yang dilahirkan dilingkungan manusia sehingga umumnya jinak, tetapi monyet yang baru ditangkap dari hutan, liar, aggresif, dan susah didekati manusia. Tapi pawang monyet ini justru mampu melakukan pendekatan dengan monyet liar, mampu mengubah pola makan monyet yang biasa makan buah dan umbi hutan menjadi pemakan nasi. Pendidikan sang guru mungkin setingkat SMU, pasti diremehkan di Indonesia yang umumnya pemuja S2 sampai S3.

Sebagai seorang Thailand ia banyak belajar Budhis dari seorang pendeta kenamaan. Ketika seorang temannya bermain yang kebetulan mantan pejabat dan bergelar Doktor, meninggal dunia, ia menuliskan kalimat perpisahan sederhana di buku kremasi. (Catatan: dalam adat Thai, ketika seseorang hendak di kremasi, para sohabat menuliskan kata perpisahan dalam sebuah buku yang dinamakan buku kremasi)

"Pada masa muda kita, kita tidak hanya tumbuh kembang bersama, tetapi kita juga tetangga. Kita bersahabat akrab dan selalu bersama... Hidup ini keras. Anda menjalani hidup seperti seorang musafir berjalan dalam kegelapan malam dan diterpa badai. Tapi anda berhasil mencapai tujuan, ini karena sukses yang kau raih adalah karena daya tahan dan kesabaranmu."

Artikel yang ditulis ini menunjukkan guru Somporn bukanlah orang desa biasa, ia seorang intelektual sejati yang memahami kebenaran dan kehidupan secara dalam.

Sebagai seorang penganut Budha, ia terkesan akan cerita guru Kesi dengan Budha. Suatu hari Budha bertanya bagaimana cara melatih kuda. Kesi menjawab, kuda ada yang cerdas dan ada yang bodoh. Kuda cerdas mudah melatihnya, kuda bodoh harus dipecut agar mau mengikuti perintah kita.

Budha (lho kok seperti acara di TV), bertanya lagi " kalau kuda-kuda itu sama sekali tak bisa di latih?"

Kesi " Akan saya bunuh kuda tak berguna itu jika hukuman tidak memperbaikinya. Sekarang sang Budha, bagaimana anda mengajar manusia?"

Budha "saya mengajar manusia sesuai dengan kemampuan masing-masing, kalau tidak bisa juga manusia itu di BUNUH!"

We lha blaik iki, Budha kok membunuh. Ternyata masih ada terusannya, manusia yang tidak bisa mau belajar, ya sudah relakan saja, kelak kalau bergabung dalam masyarakat dan tidak bisa diterima oleh komunitasnya, maka dia seperti sudah "membunuh-dirinya sendiri". Ooo gitu to.

Monyet-monyet Guru Somporn tidak pernah dipukul, mereka diajar dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, sebab otak monyet tidak akan dapat digunakan sebagaimana mestinya kalau dia selalu dalam ketakutan. Tidak heran, hasil pendidikan Akademi monyet ini menghasilkan monyet yang terampil memanjat kelapa dan memilih buah yang bagus untuk diambil minyaknya 800-1000 kelapa perhari dari 70-80 pohon. Bayangkan kalau manusia harus memanjat 70 pohon yang berarti naik turun 140 kali sehari.

Bandingkan dengan manusia yang mampu hanya memetik 200 kelapa perhari. Nampaknya, mumpung masih hari pendidikan, para Dosen, Asisten Dosen ada baiknya menelaah pelajaran Guru Somporn dari Surat-Thani ini. Paling tidak kalau ada yang bilang "Monyet Eluh", ternyata tidak selalu harus ditanggapi sebagai ejekan negatip, melainkan "kalau dunia pendidikan mau maju, kita musti tiru monyet belajar." dari Surat Thani paling tidak.

Ini reformasi pembelajaran.



MONYET-MONYET BISA BELAJAR
MENGAPA SISWA-SISWA KITA TIDAK

Judul Buku: BELAJAR DARI MONYET
di Akademi Pelatihan Monyet, Surat Thani, Thailand
oleh Rung Kaewdang PhD
Penerbit Grasindo

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com