Beken

Date: Tue Dec 18, 2001 10:29 am

"Giling bengek elu cing! Udah beken sekarang chooy,"

Demikian kata para Jacartan menyapa temannya yang baru terkenal, seleb atau hal yang berkaitan dengan public figure. Lantaran itu saya jadi kepingin tahu kata beken itu dari mana see.

Untung ada sejarahwan yang rajin membaca klipping koran lama, Tanu Trh yang menulis dalam majalah Intisari.

Dulu waktu Jakarta misih boele dibilang kecil, koran-koran lokal juga tumbuh disana. Untuk menarik minat pembaca, para reporter berita yang kita kenal sebagai koeli-tinta, senang menyajikan gossip tetangga sebelah yang sedang cekcok.

Kalau ada keributan disebuah rumah tangga, sialnya diberi iringan pukulan kentongan, akibatnya orang se RT, RK, RW bisa maklum bahwa si Fulan sedang berkelai dengan ia poenya isteri.

Jadi ketika anda bertengkar hebat sampai keluar kata-kata dari habitat BonBin Gembira Loka, neraka jahanam dsb. Anda musti hati-hati, salah-salah keesokan harinya, semua pertengkaran ditulis oleh sang reporter, atau "toekang bongkar resia roema tangga orang".

Julukan untuk para paparizi inilah yang akhirnya menjadi "Toekang BEKEN"

Salah satu rekaman koran Bintang Barat pada 16 Januari 1887 menulis, "pada ari joemahat tanggal 14 ini boelan, satu toean Olanda" yang merasa risau sebab sudah pukul 17.00 ketika pulang kantor mendapati sang "nyai" istri tidak syah belum pulang kerumah, juga pembantu rumah tangganya. Tentu ia kawatir, setelah dicari semalaman tiada kunjung membawa hatsil, maka sang nyai baru pulang pagi jam 05.00 keesokan harinya. Terjadi dialog dalam rumah tangga yang dicatat oleh sang tukang beken.

Sang Suami, Karel adalah warga Belanda yang menyatakan kekuatiran kepada sang isteri.

Suami : "Ach Poes! Poes! goea jengkel sekali pikirin eloe, satoe malem goea tida bisa tidur, sebab ati tida karoean dan takut loe tinggal lantes tida balik kombali!"

Lalu sang istri balik menjawab dengan nada ketus lagi.

Nyai: "Ai, Karel, loe kata djengkel goea lebi jengkel, sebab goea maen kartoe soeda kala 24 roepia...."

Dan si tukang beken memberikan komentar di akhir tulisannya: "Kita boeat heran sekali bahoea itoe toean boleh dingin sadja atinya, barangkali dia soeda kena makan tjekok pemboengkem!"

Jadi jangan heran ketika sebuah keluarga bertengkar, setelah ""perang berakhir" dan mereka nyadar barulah sang suami celingukan keluar sambil tanya kiri kanan.

"Tadi ada toekang beken apa nggak ya?" tanyanya kuwatir sekali.

Apa karena kita ada ketoeroenan itoe Karel Olanda, maka beberapa poeloe taoen kemoedian muncul majalah Cek&Ricek, Gossip dsb?
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe