Bayi Gemuk bernama Pertamina

Biasanya saya kurang menaruh perhatian terhadap buletin keluaran instansi tertentu sebab beritanya paling cuma mengenai kepala bagian membuka kursus atau memukul gong sebagai peresmian sebuah proyek. Tapi hari Jumat 3/10/03 di ruang tunggu Gedung Kwarnas, kawasan Gambir tiba-tiba saja saya tertarik pada satu dari seonggok buletin yang memang dipajang di ruang tamu. Tajuk sebuah buletin ternyata mencerminkan kegalauan pemimpin redaksi yang saya dengar juga seorang penyair.

"Seorang bayi gemuk dan cukup sehat telah dilahirkan September 2003 lalu, harusnya Indonesia menyambut gembira kelahiran bayi montok ini. Sayangnya kegembiraan ini diganjal oleh campur tangan para bidan dan dokter seakan-akan tidak henti-hentinya (disini dibilang sangat rakus) untuk mengamputasi bagian tubuh bayi ini. Kalaupun bayi ini berhasil hidup, maka para ahli yang lain siap untuk membonsai bayi yang semula sehat ini. Kita tidak tahu, apa dosa bayi sehat bernama PT Pertamina Persero"

Siapa bayi gemuk yang dimaksud, tidak lain adalah Pertamina yang 17 September 2003 lalu telah berubah menjadi PT Pertamina Persero. Pertamina menjadi persero yang pada akhirnya akan bersaing dengan perusahaan lain yang selama ini berada sebagai mitra kerja. Rupanya susunan Dewan Komisaris yang bukan dari pihak Pertamina dipandang akan justru mempunyai misi untuk mengamputasi dan membonzaikan lembaga yang pernah besar tersebut. Apalagi track record yang di catat masyarakat selama ini.

Ada nada minor mengatakan bahwa nasib Pertamina ini tidak akan jauh beda dengan BUMN lain seperti Indosat yang akan di jual kepada pihak luar dengan alasan yang serupa yaitu efisiensi..."

Lalu sebuah e-mail mengutip tulisan Margie Thatcher mantan Perdana Menteri tentang ilmu szin tsu yang berbunyi kira-kira sbb, "rampoklah harta dari rumah yang sedang terbakar, sebab disitulah musuh yang lemah dapat ditaklukkan mudah ditaklukan."

Pengamat politik dadakan mengacu pada kejatuhan Soeharto dengan ketika terjadi krisis ekonomi 1997 sebagai rumah yang sedang terbakar, lalu datang IMF-Camdesus yang tidak lain perampok berselimut pelindung. Soeharto teken kontrak dan sejak saat itu belitan kesukaran seakan berjajar jajar. Beda misalnya dengan Mahatir yang saya masih ingat dia mengatakan "Orang bijaksana tidak akan memperlihatkan luka yang dideritanya kepada musuh."

Apakah nasib Pertamina kelak seperti ilustrasi di atas. Kalau betul, satu lagi aset negara yang satu demi satu ditaklukkan semua dengan alasan Perdagangan Bebas.

Mimbar Seputro
Tiba-tiba melankoli
Date: Sun Oct 5, 2003 7:16 am 12321
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe