Banci

Date: Mon Oct 9, 2000 2:03 pm

Mengingat Jayasuprana pakar Kelirumologi belum pernah mengangkat masalah Banci atau Waria ini, saya saja deh yang urun rembug.

Kelelawar dibilang kampret
Kalau banci "barangnya" karet

Begitu nyanyian anak saya yang berumur 2 tahun (waktu itu - 18 tahun lalu), keluar masuk kamar sambil menyanyikan sepotong lagu yang mungkin didengarnya waktu ada pengamen banci didepan rumah.
Nah ketika dia tanya "pah barangnya karet itu apaan sih ?", baru senyum saya berubah menjadi kelabakan ketika menyoba menjelaskannya.

Banci, Wandu, Waria, Pretty Boy, SheHe, dan banyak lain sebutan yang diberikan kepada wanita jejadian ini. Tapi semuanya menunjuk kepada konotasi orang yang tidak punya kepribadian dan penakut (chicken). Padahal Dorce tidak takut ataupun malu, bahkan cenderung vulgar ketika mengatakan pengalaman petualangan sex awalnya dengan sejenis di lubang galian kuburan malam-malam. Sedangkan saya yang laki-laki hardware maupun software, kalau disuruh ke kuburan malam-malam, apalagi lubang
kuburan yang besok akan diisi jasad, dengan tujuan esex-esex, kok belum-belum sudah merinding membayangkannya.

Banci juga sering diledek kepada orang yang tidak punya kepribadian, hanya karena merasa ada roh mengisi tubuh yang salah. Kurang pas. Badan, wadag, lelaki softwarenya kok wanita. Sukarni di tubuh Sukarno. Tapi ternyata banci adalah orang yang sangat berkepribadian kuat, sekali banci tetap banci, tahan dicerca sebagai wanita tiruan, diludahi, ditimpuki batu oleh anak-anak, belum lagi ancaman "pengisi kerak noraka juahanam..." dan disisihkan dalam pergaulan keluarga maupun masyarakat kelas sangat "beradab dan beretika tinggi."

Tapi mereka, sekali lagi, tidak takut.

Ketika anak pelajar, mahasiswa dan aparat keamanan pada tawuran atau demo, person yang tidak mau melakuan demo atau tawuran disebut "banci lu, parah."
Padahal itu belum tentu benar, yang ia tahu hanyalah akibat demo sekarang ini adalah bus umum yang dibakar, atau fasilitas umum lainnya di jarah, jalan macet dan dollar manjaaat lagi.
Sekalipun belum pernah mencatat ada banci tawuran. Saya membayangkan kalau memang betul ada banci tawuran, apa dengan demikian kita rela dan boleh kuping panas kalau sesama banci saring ngeledek, "dasar lelaki tulen eluh, kagak berani tawuran." Kepada yang tidak berani tawuran?.

Dia yang kenes, berdandan norak (kata saya), coba kalau diganggu, langsung menjadi "galak" dan tidak segan-segan mencabut pisau kalau memang terancam. Dan mengajak berkelahi "One to One". Tanpa perantara, tanpa provokasi.

Jadi, menyebut "banci" pada segolongan orang hanya karena jalan fikiran tidak sepaham dengan kita kok kalau dipikir-pikir rasanya kurang tepat. Apalagi kalau berdasarkan nafas reformasi dan demokrasi.

Dari orang yang tiap hari kerja kena tarikan "cepek", banci lampu merah Ragunan (Depan kantor Departemen Pertanian yang disulap jadi pengadilan HMS) - cuma senang mendengar mereka bilang "terimakasih 'ng' ayaaaah".

Comments

Popular Posts