Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Bakso van Grogol

Date: Thu Mar 25, 2004 2:55 pm 13182
Sebuah kendaraan mirip Jeep keluar dari pelataran parkir Bakso Mahkota, Grogol. Sekalipun jalan Semeru Raya dan Makaliwe Raya adalah jalan besar, namun pengemudi kendaraan ini lebih suka mengambil jalan tembus dengan masuk kesebuah gang sempit muat satu kijang plus papasan dengan bajaj, yaitu jalan Semeru Gang III. Tidak dinyana, seorang bocah usia dibawah 1 tahun merangkak keluar dari rumah tanpa menengok kiri kanan langsung menyeberang jalan eh gang, supir terlambat bereaksi karena masih terbayang nikmatnya bakso bulat. Akibatnya terjadi serempetan kecil. Warga hanya menahan pria tersebut yang menurut pengakuannya baru saja selesai jajan Bakso Mahkota. Dan dia bukan warga Grogol.

Dimana Bakso Mahkota itu.

Letaknya di jalan dr. Semeru Raya No 55 Grogol, dekat dengan Stadion Olah Raga Grogol, tepatnya berhadapan dengan mesjid Al Muhajirin. Ada 7 meja panjang di gelar disana sehingga kalau satu meja terisi 10 orang, paling tidak 70 orang bisa nongkrong di warung itu. Dan memang, lokasi warung sangat strategis, disamping kiri saya adalah pasar burung termasuk jual kroto, samping kanan saya bengkel knalpot, plus pedagang kerajinan rotan.

Apa yang menarik dari Bakso Mahkota ?

Begitu anda masuk dan pesan bakso, maka akan terpampang harga semangkuk bakso Rp. 6000 dan sederet harga minuman. Pelayanannya yang berlogat Tegal dan rata-rata anak muda melayani anda secara super cepat. Maklum makanannnya super bakso. Yang unik, didepan anda disediakan satu toples penuh bawang goreng, satu keranjang rajangan daun sledri/daun bawang. Dan ini dia, hal kecil yang disajikan tetapi menjadi nilai plus bagi saya yaitu kecap manis. Luar biasa, Botol-botol segar berisikan Kecap Bango diumbar secara berlebihan. Padahal saya teramat fanatik terhadap moncong hitamnya sang bango. Sehingga keluarga kami mengatakan kecap lain yang biasanya cuma seperti "gula gosong jadi lewat.

Mana ada resto lain ngumbar gorengan bawang merah dan rajangan daun bawang begitu kelewat dermawannya.

Inilah warung bakso kondang di Grogol. Ada bakso Urat, bakso daging, bakso tahu. Kualitas bakso sangat diperhatikan disini sehingga walaupun tanpa direndam "obat pengawet mayit" yaitu formalin, namun rasa dagingnya kalau digigit "ada timpalannya"- kalau kata orang Citayam. Kenyal dan gurih. Kalau saya sudah 25 tahun tinggal di kawasan ini, maka paling tidak itulah usia warung tersebut. Diawali dengan penjual angkringan, tahu-tahu bikin tenda, tahu-tahu sudah ngetop. Mas Slamet penjual bakso yang bersih dan gurih ternyata sampai 20 tahun lebih masih harus "ngider ngampung", sementara rekannya bisa pasang pelang nama "Bakso Mahkota"

Dan sayangnya mereka belum berniat membuka cabang di lain tempat, sehingga anda penikmat bakso terpaksa harus real bertandang ke Jalan dr. Semeru Raya no 55, Grogol

Oh ya satu lagi, kuah bakso disini selain panas, aroma bawang putihnya pol-polan. Jadi ada sifat antibiotiknya gitu.

Bakso bakso.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com