Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 07, 2006

Bakso Plempung Yogyakarta

Date: Fri Jun 7, 2002 10:11 am

Soal becak yang rada menyikapi niat baik aku itu sebetulnya bisa dihindari dengan sedikit melotot misalnya, tapi untuk bahan obrolan milis, kadang saya harus menggiring (rekayasa) agar tercipta peristiwa dari biasa menjadi luar biasa. Agar aku bisa menertawakan diriku dengan segala kebodohannya.

BAKSO

Bakso Yogya yang bikin celeguk-celeguk kalamenjing adalah ketika dihidangkan panas-panas pakai tahu kulit yang digoreng kering, dilidah rasanya krenyes-krenyes rasanya mengezutkan. Tahu semi-pong ini mula-mula terapung di kuah bakso, seakan mau unjuk diri aku juga bisa memerankan adegan mandi ala "Bandung Lautan Sabun Mandi". Dulu kan mau jajan bakso, musti tunggu wesel pos. Lantas ambilnya di kantor pos Alun-alun Utara.
Di Kridosono ada Bakso spesial "Romo Gayeng" keluaran Universitas Perjuangan Hidup. Terang bakso dagelan ini. Tapi kelihatannya sudah nggak ada lagi.

SOTO KADIPIRO

Sementara itu, Soto Kadipiro I(satu) penjualnya masih pria berkulit putih, keriting tetapi kumisnya sudah dicukur. Orang ini mengabdi kepada soto Kadipiro dari juru saji sampai tetep (juru saji). Dalam kurun waktu 20 tahun lebih. Soto ini makin "ndadi" kalau ditemani irisan kecil-kecil Dada Mentok,plus bawang goreng dan kecap. Dihidangkan dalam piring beling putih secara terpisah.

TONGSENG KEPALA KAMBING

Gagal menemukan Bakso "Bethesda" Yogya, hati yang sedikit beTe dan ngelokro (loyo) tiba-tiba hati mongkok kumbali, soalnya di jalan Solo plus minus 50 meter dari perempatan dan lokasinya hadap-hadapan (miring dikit) dengan alm pabrik Limun Herkules(bukan preman Tanah Abang) juga bekas bioskop Rahayu (alm), saya menemukan Tongseng Lidah dan Kepala Kambing, ini elok tenan. Letaknya tersembunyi, but they cant hide dari indera ke (x) saya yang kalau soal makanan bisa peka sekali. Agak aneh, ada toko sepatu, toko pakaian kok tiba-tiba mak-jegangglik ada warung tongseng. Lagian warungnya jadi satu dengan Wartel.

Sekalipun mbakyu bakulnya sedang "tekdung tralala" tapi kerjanya sebrat-sebret membuat suwiran kepala kambing, apa nggak bilang "amit amit jabang beby" dulu ya sewaktu ngeleti (menguliti) kepala kambing yang nampak melotor sambil menjulurkan lidah. Melihat kepada perutnya, saya jadi mikir apa lantaran seringnya icip-icip bumbu tongseng sehingga sang suami langsung jadi bandot yang direspons istri dengan meoooong.

Kok ya kebeneran tehnya boleh pesen TongJie, teko dan cangkirnya terbuat dari tanah liat, pakai gula batu (tapi ora tak lebokne sak- dikantongi ke saku celana). Yahuud tenan.

Wong Tongji Je! Ya sudah diet saya ancur-ancuran. Habis tongsengnya hangudubilah
lezat. Tehnya nasgithel. Ancur minah.

Siangnya saya diajak para mahasiswa-i makan disuatu tempat, walah ramenya, tetapi masih kurang mudeng lokasi "Mbak Diah" dimana itu, sebab saya bingung.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com