Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Ayam Manila

Date: Mon Sep 27, 2004 8:03 am

Ketika sedang berbelanja di sebuah supermarket di Perth, teman saya titip pesan melalui sms yang intinya minta dibawakan 1 kilogram "chicken kampoeng" dengan iming-iming akan memasakkan menu masakan khas Philipine. Namun karena dia tahu saya berasal dari Indo,sambil bergurau dia SMS lagi "guarantee no pork..."

Saya dibesarkan dalam lingkungan dimana lelaki Jawa "ora ilok" belanja daging, sayur namun what the heck siapa yang kenal saya di Perth. Dan berbelanja kebutuhan dapur sendiri memang bagi saya merupakan "pengalaman luar biasa," Problemnya, orang Osie tidak mengenal istilah "Ayam Kampoeng" - Lantas tumpukan daging ayam di freezer ini semua nampak sama. Perlu sedikit logika untuk membedakan antara Ayam Kampoeng dan Ayam Biasa. Betul, harga ayam kampoeng selalu lebih mahal. Tapi saya mendapatkan satu pelajaran bahwa bahasa Inggrisnya ayam kampoeng adalah "FreeRange Chicken.."

Sambil menunggui ia memasak, teman ini bercerita tentang ayam Manila yang saya percaya "mungkin" majalah semacam Trubus sudah pernah memuatnya. Ayam Manila ini dalam bahasa Inggris dinamakan "CHEARL-CHICKEN". Bulunya coklat. Kerakusan makannya "ngadep-adepi" alias menakutkan. Kalau ayam ini dilepas di halaman, maka dalam waktu singkat rumput di halaman sendiri akan disikat habis. Apalagi rumput tetangga yang lebih hijau royo-royo, dalam arti kata betul-betul rumput.

Konsep ayam "free range" adalah ayam pedaging yang dibiarkan bebas "free roaming" berkeliaran dan diberi makan dengan pakan bermutu. Bedanya dengan ayam kampunng kita. Ayam kampung ini 70 hari sudah bisa dipanen lantaran memang bongsor. Seperti juga layaknya orang Manila, teman tadi berceloteh bahwa ayam free range ini, bebas kolesterol dengan texture daging persis ayam kampung aseli. Maksudnya, kalau digoreng ala Mbok Berek, rasanya gurih, dan dagingnya "ngelawan" dimulut.

Rahasianya adalah melarang adanya perkawinan saudara. Sudah lazim dipeternakan "free range" kita, ayam mengawini paman, tante, cucu sehingga secara genetika merusak pertumbuhan. Soal pakan memang agak khusus. Nampaknya di Philipine nampaknya perusahaan Charoen Pokphand Thailand yang biasanya berjaya di Indo, disana harus bersaing keras melawan pesaing baru dari Perancis yaitu SASSO Selection Avicole de la Sarthe et du SudQuest, sebab pertumbuhan ayam akan maksimal dengan ramuan keluaran pabrik tersebut. Jadi selain Rumput Manila, Tali Manila, Itik Manila sudah muncul pula Ayam Manila.

Kapan ayam Kedu bisa diternakkan seperti saudaranya di Philippine.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com