Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Ayam Goreng mana Nasinya

Date: Mon Sep 6, 2004 3:52 pm

Suatu ketika jadi juga kita-kita ini kesasar di ngeri orang. Jalan di Perth dan sekitarnya umumnya lurus-lurus saja dan hanya sedikit verboden. Lama kelamaan membuat hati menjadi PeDe dan makin berani melakukan explorasi. Ketika pergi, fikiran masih segar, tenaga penuh dan semua tempat penting dicatat. Apalagi jalannya lurus-lurus saja dan minus verboden. Juga tanpa polisi yang bersembunyi dibalik tikungan atau pohon. Namun saat pulang hari petang (tidak masuk kandang) dan fikiran sudah letih, segala excitement sudah terobati, maka datanglah pikiran jadi mudah sekali bingung sekalipun peta Western Australia ditenteng kemana-mana. Akhirnya diambil patokan berupa landmark yang menonjol seperti Warung Ayam Goreng Kentucky atau McDonald. Sebab waktu perginya, saya melihat landmark tersebut.

Betul juga begitu mulai melihat tanda-tanda, mobil segera dipacu. Dan ini yang mengubah cerita menjadi drama. Ternyata disegala penjuru Perth yang namanya ada MdDonald dan ada KFC. Pating telethek (maksudnya ada dimana mana tidak teraturan). Dengan halaman parkir yang luas, bentuk yang umumnya hanya satu lantai, maka untuk menjelaskan satu kawasan dengan kawasan lain kok ya tidak mudah. Mau tanya jalan kok gengsi, disamping memang tidak banyak orang berkeliaran di jalan. Setelah bingung berputar-putar akhirnya kami ketemu juga jalan balik kerumah. Alhamdulilah.

Dendam karena gara-gara menaruh harapan pada KFC ujung-ujungnya malah kesasar-sasar, maka setelah mengaso sebentar saya kali ini berniat menikmati Ayam Goreng buatan bule. Untunglah antara Mal besar Big W (Woolworth) dengan rumah hanya beberapa puluh meter saja. Maka sambil berjalan ditengah terpaan hujan dan angin kencang (pantes difilem-filem orang pakai kuluk, jaket tebal jalannya cepat dan menunduk, rupaya kedinginan) masuklah saya ke gerai "drive in" KFC. Dua paha ayam yang guede plus saos sambal plus Coca Cola dan sepiring nasi tentunya bikin mulut sudah siap ngeces.

"Another order Sir...," tanya gadis Australia ini.

Wah ini dia, mata saya masih jelalatan melihat deretan menu diatas gadis penjualnya yang semua menggunakan HeadPhone untuk berkomunikasi. Lantaran pelayannya anak muda. Maka gaya mereka ngegroove sekali, seperti gaya para Australian Idol di TV yang menyanyi dengan menggunakan microphone tempel.

Sebetulnya saya cari nasi putih, dan ternyata hanya di Indo yang KFC-nya menyediakan nasi putih. Saya kecewa dengan kentang gorengnya yang ternyata tidak serenyah KFC dinegeri kita sendiri. Akhirnya nasi diputuskan untuk menggantinya dengan kentang tumbuk. Sambil menunggu hidangan disiapkan saya tingak-tinguk (tolah toleh) lha kok aku sendiri yang jadi pengunjung. Pengunjung lain hanya mendekatkan kendaraan dekat jendela lalu order, tunggu sebentar dan selesai. Akhirnya niat makan ditempat saya urungkan. Kok ya masih ewuh pekewuh dilayani noni bule ayu putih, dipanggil Sir pisan. Diperjalanan pulang beberapa mobil melintasi saya. Seorang gadis kecil yang duduk dibelakang nampak menjulurkan lidah kearah saya sambil membentuk body language "nyam-nyam" saya baru sadar setelah melihat tentengan KFC dalam kardus berwarna merah. Nampaknya mereka baru pulang dari sekolah. Pasti kelaparan. Ternyata tidak di Jakarta, tidak di Perth. Anak-anak sangat menggemari KFC atau makanan cepat saji lainnya.

Sesampai di rumah ternyata saos sambal saya tidak ada. Kabarnya karena saya sudah order Spicy, maka tidak perlu diberikan sambal. Padahal kebiasaan saya minum cocacola dingin-pun terkadang minta batu es.

Sudah tidak ada nasi, tidak pakai saus.

Ya tidak wan karuwan.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com