Apam Bantat Door to Door

Nama Mr. Rebing mustinya tercatat sebagai seorang inovator dalam marketing. Tanpa banyak teori yang melibatkan buku literatur marketing yang tebal ia sudah tancap gas menjemput bola, dengan mendatangi pelanggan alias "door to door" padahal hal tersebut terjadi seabad yang lalu.

Mr. Rebing juga paham bahwa di alam serba kompetitip ini ia musti gesit, termasuk dalam urusan jualan "apem bantat". Semua juga tahu bahwa urusan apem bantat tidak bisa lepas dari yang namanya aktivitas hormon, otak boleh bilang "jangan" tetapi ketika hormon naik ke otak, ada nenek diperkosa, ada balita di sodomi. Tetapi yang membuatnya ia unik adalah sambil menjemput bola, ia menggiring para pemilik apam bantat keluar masuk "roema makan" maksudnya hotel dari satu roema makan ke roema makan lain. Persis orang menggiring bebek.

Rupanya hari Kamis 9 Juli 1903, peminat Apem Bantat rada meningkat sehingga tinggal satu apam tersisa.

Tidak dijelaskan apakah Rebing menjajakan anggotanya dengan kata-kata "tinggal satu lagi, ngabisin-ngabisin," sebab justru apam bantat yang satu ini membuatnya terlanggar apes. Di sebuah kawasan yang dinamakan "Djembatan Boesoek" ia ketemu opas. Nah akibat perbuatannya Rebing langsung di gelandang masuk hotel prodeo bersama bebek-bebeknya.

Di mana kawasan Jembatan Busuk itu.

Kawasan ini terletak di gang Ketapang, memang ada kanal yang airnya mengalir cukup jernih dan tiada menimbulkan bau tak sedap di bandingkan sungai ditempat lain yang lebih kearah hilir, hanya kalau sekarang daerah ini disebut sebagai "rawan kejahatan" alias tempat melakukan perbuatan busuk tentu ada sebab dan musababnya.

Contoh perbuatan busuk adalah ketika Moh sedang berjalan menikmati udara sore dipinggir kanal, dia melihat pending emas (ikat pinggang) tergeletak di anak tangga sungai itu. Entah pikiran apa yang merasuk, maka Moh mengambil harta karun yang ternyata milik mpok Anie salah seorang penghuni kampung itu yang sedang buang hajat di kali. Perbuatannya diketahui pok Anie yang segra ia bertereak sekoeat ia punya toelang sehingga "sang pancalongok apes" berhasil ditangkap, di gebuki habis-habisan sebelum digelandang ke kantor politie.

Padahal sehari sebelumnya lima omelander (pribumi) dan dua Cina sedang main judi dan di razia oleh politie. Yang memberatkan mereka adalah bermain judi di Toapekong, sebuah rumah suci orang Tionghoa. Tidak heran kalau penjaga Toapekong juga diajak ke kantor polisi sekalipun ada pemeo bahwa bagi sekelompok orang Tionghoa, berjudi adalah bagian dari ibadah. Tapi ini hanya pemeo kecut dan bukan berarti harus di-ejawantahkan di Toapekong.

Di Betawi ada Jembatan Merah, Jembatan Di Betawi ada Jembatan Merah, Jembatan Batu, Jembatan Lima yang ceritanya akan menyusul kemudian.

16 Jul 2003

Comments

Popular Posts