Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Antara Raden Mas Noto dan Yusril Ihza M

Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra, mengeluhkan hak-hak pribadinya telah dilanggar karena gajinya rendah. Seperti dikutip oleh harian Jakarta Post, (27/11/03) Yusril mengatakan bahwa gaji pokoknya per bulan sebesar Rp 19 juta (US$ 2,235 US) tidak sebanding dengan beban kerjanya. "Saya merasa seperti dieksploitasi. Saya tidak bahagia," ujar Yusril. Sudah pasti Mentri yang selalu "dandy" dan pernah disekak oleh Amin Rais dengan senjata "bahasa Inggrisnya saja belepotan" ini mengundang pelbagai reaksi. Jaman Orba, seorang Menteri berpenghasilan sekitar Rp. 5 juta rupiah, tapi tidak ada yang mengeluh sebab sabetannya tentu lebih besar dari angka tersebut.

Adalah Snouck Hugronye dokter ahli agama Islam yang mencatat record sebagai tukang protes lantaran ia melihat gaji dokter "jawa" umumnya sangat rendah, sekalipun lulusan sekolah kaliber macam STOVIA yang terkenal ketat disiplinnya tersebut. Akibatnya banyak siswa tabib yang kedodoran sehingga "KO" di tengah jalan. Raden Mas Notodilogo adalah seorang murid STOVIA yang didirikan oleh gubernemen pada 1851. Tidak seperti yang banyak diceritakan dalam sejarah, STOVIA semula sekolah untuk mendidik lulusannya menjadi Mantri Cacar dengan masa pendidikan dua tahun. Belakangan, pendidikan ditingkatkan menjadi lima tahun kemudian tujuh tahun dan lulusannya berhak memakai gelar Dokter "Jawa." Ternyata Notodilogo memiliki jalan hidup yang lain. Memasuki tahun kedua ia di drop-out dari sekolah tabib terkenal tersebut dengan alasan "...kurang budi pekerti untuk belajar terus dalam ilmu tabib yang memang terlalu susah dipelajari.." - Noto muda di vonis sebagai anak bodoh.

Kebetulan sekali sebuah rumah obat militer di kawasan Senen membuka lowongan untuk menjadi apoteker. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Noto. Ia diterima dan lulus sebagai apoteker. Lebih penting lagi "si bodoh" ini berpenghasilan 150 gulden. Sementara bekas temannya yang lulusan kedokteran lulusan STOVIA rata-rata bergaji 70 gulden. Tentu saja perbedaan yang "ngejeglek". Kalau di STOVIA ada Yogya saat itu pasti kelompok sirik akan bilang "wong sekolae bodo kok dadi wong sugih ya..."

Dokter muda umumnya berpenghasilan 30 gulden, dan kalau bekerja terus di gubernemen sampai rambut beruban, ia bisa mendapatkan gaji 150 gulden. Padahal dokter jaman dulu tidak bisa memperoleh penghasilan tambahan seperti uang smeer. Atau kerlip mata dengan detailmen obat. Seorang juru tulis "clerk" yang cuma modal menulis dan mengerti sedikit aturan polisi pada awalnya berpenghasilan 70 gulden. Dengan kepatuhan akan menjadi mantri polisi apalagi bintangnya moncer ia bakalan menjadi asisten wedana atau wedana sekalipun dengan penghasilan tidak kurang dari 300-400 gulden diluar uang tunjangan jabatan seperti ongkos kuda dan seragam.

Agustus 1903 atas usul Snock Hugronye, para dokter jawa yang bertugas di luar daerah akan mendapatkan tunjangan sebesar 2 gulden per hari, dan jelas tambahan ini belum dirasa menutupi kebutuhan yang semakin meningkat.

Beberapa koran menulis masalah ketimpangan ini berakar dari gubernemen yang lebih berorientasi kepada kekuasaan. Sekolah yang mendidik calon ambtenaar seperti OSVIA (setara STPDN-Jatinangor yang bermasalah) banyak didirikan dan lulusannya bergaji menggiurkan. Ambtenaar (pegawai negeri) diberi kedudukan dan gaji yang atraktip sebab pangreh praja ini yang mengendalikan penduduk. Bahkan supaya mereka lebih dihormati, diciptakan simbol-simbol kekuasaan seperti "gelar" dan payung-payung (songsong) yang menunjukkan pangkat seorang ambtenaar.

Gubernemen kemudian mencoba memperbaiki kehidupan para dokter ini dengan memberi mereka pangkat kehormatan yaitu asisten wedana. Tetapi lagi-lagi koran bersuara miring "dapat pangkat tiada kekuasaan, ya percuma. Malahan orang kecil nanti tiada memandang pada dokter wedana atau dokter asisten wedana.

Jakarta 3 Desember 2003
12580

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com