Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Anak Selancar yang jadi Hang Ten

Saya kadung gebyah uyah menilai anak selancar. Dimata saya ini adalah kelompok mencari jati diri, umumnya agak urakan dan semau gue. Rambut gondrong kemerahan terbakar matahari, kulit menghitam, memiliki kemampuan bahasa standar Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, badan berotot akibat olah raga renang, pushup dan berlari seharian sepanjang pantai dan kabar miring memiliki bisnis sampingan "menemani" turis-turis manca. Satu dua orang, memang berhasil membuka usaha alat selancar. Sayang kabar miring "capital investment" nya dari pacar-pacar mereka. Percaya nggak percaya. Namun yang sukses sampai jadi Taipan atau konglomerat sepanjang pengetahuan saya adalah Duke yang kemudian mendirikan Hang Ten Enterprise (dibaca Heng Ten) ini .

Hanya orang Filipino yang membacanya HANG ten sebab logat Spanyolnya membuat mereka membaca "A" tetap A seperti lidah kita. Kalau lidah kita LOGIN dibaca lojin, finger dibaca finjer. Guru saya di Yogya, tiga (three) dibaca seperti memanggil seseorang SRI.

Apa yang bisa ditarik sebagai tauladan dari Hang Ten. Mengapa seorang peselancar yang biasanya nyantai dalam hidup, ujug-ujug (mendadak sontak), berkembang menjadi perusahaan T-Shirt terkemuka di California, yang kemudian merambah Asia kecuali Indonesia. Sebelum ada pertanyaan kenapa yang dibahas Hang Ten, maka kalau saya membahas Coca Cola atau Bill Gate, everybody does!

Rule 80% - 20%
Peselancar umumnya menghabiskan waktunya 80% untuk tertelungkup diatas papan selancar sambil menunggu datangnya ombak besar, sementara sisanya yang 20% dipakai untuk menunggang ombak. Saat menunggang ombak, hanya 20-30 detik yang dipakai untuk "in action" memproduksi suatu gerakan yang indah seperti "hang on ten foot".

Nampaknya "naluri bisnis" Duke, pendiri Hang Ten teryata tepat untuk menggunakan kesempatan yang 20-30 detik tadi sehingga momentum tersebut tidak terlewatkan begitu saja. Coba saat jahitan bajunya dilirik orang dia lantas berfikir, "ah nanti saja berbisnis kalau sudah tua", atau "saya ingin memulai bisnis namun masih ada karier lain yang ingin saya capai..". atau "uang saya tidak cukup banyak. Nanti kalau tabungannya sudah cukup.."

Bayangkan saja berapa jam kita bekerja 8 jam, 9 jam atau lebih. Adakah kita memanfaatkan 20-30% dari waktu tersebut untuk hal yang betul-betul produktip. Seorang sekretaris perusahaan minyak pernah mengatakan, bahwa setelah dihitung-hitung, ia bekerja tidak lebih 30 menit. Di luar itu pekerjaan sosial. Tilpun A, B, C, D dst.

SELECTIVE
Peselancar tidak akan menghabiskan waktunya untuk setiap gelombang yang datang. Jika peselancar selalu bereaksi pada ombak yang kelas "ikan cere", bisa jadi ia keburu letih dan ketika ombak besar datang ia hanya jadi penonton. Duke tahu persis bahwa design celana surfernya disukai remaja peselancar. Dia langsung memapak gelombang melakukan marketing dan berhasil. Coba dia terlena menutup dirinya dengan hanya "selancar" sebab pekerjaannya ya itu bermain dengan ombak. Mungkin design-nya sudah keburu disabet opportunitis lainnya. Ketika nyadar usia lanjut sudah merambahnya.

Baru saja saya mendengar talk-show disebuah radio, pembicaranya Mario Teguh. Dia mengatakan selama ini kita selalu membuat diri kita masuk kedalam kotak yang kita buat. Padahal jika kita mampu keluar kotak tersebut kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. Untuk itu Mario menyarankan sesekali belajar untuk diam, untuk tenang dan hening sesekali dalam sehari untuk merenung apa saja sih kotak yag membatasi kita selama ini. Membuat terobosan bukanlah sesuatu yang besar dan langka. Terobosan adalah dampak logis dari yang kita kerjakan. (beraat deh bahasanya).

Intinya, Duke memposisikan dirinya bahwa "jabatan" menjadi peselancar tidak pantas untuk kemampuannya. Ia "naikkan sendiri gradenya" menjadi pengusaha baju selancar. Saat baju selancarnya sudah diterima khalayak. Ia memposisikan dirinya untuk tidak membatasi dagang kaos di California, dan ia "naikkan lagi pangkatnya" menjadi peniaga luar Amerika.

Intinya lagi, ikutan Zainuddin MZ, naik pangkat itu kita sendiri yang mengaturnya.
Rasanya kalau membaca riwayat hidup orang, saya langsung jadi orang kaya.

Padahal.
30 July 2004

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com