Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Alap-alap Ayam dari Petojo

Wijkmeester Paser Baroe (Pasar Baru) melaporkan bahwa 3 ekor ayam yang baru dibeli di tempat lelang schout Waleson, ternyata sudah raib dari kandangnya. Di tempat lain Oemar dan Roesdi dicekel peronda di Pasar Senen ketika sedang mengendap-endap di kandang ayam milik orang lain. Pasal kehilangan ayam sudah masuk ke laporan polisi dan diekspose oleh Koran Pembrita Betawi 12 Juli 1903.

Lebih lanjut koran memberitakan bahwa seorang maling di kawasan Kebon Jeruk siang-siang bolong berani menyatroni rumah toewan G yang kelihatannya sedang ditinggalkan oleh penghuninya. Lantaran perboeatan boesoeknya dilakukan pada siang hari, maka ada tetangga yang memergokinya sehingga pencuri tersebut bisa di bekuk dan dilaporkan
kepada polisi.

Di depan polisi, Miun nama pencuri tersebut mengaku bahwa ia hanya orang suruhan. Dan ketika polisi menggali informasi ini lebih dalam, Miun berceloteh perbuatannya ini dilandasi ajaran gurunya toewan Said Ali yaitu mencuri untuk "Amal Jariyah." Benarkah tidaknya alasan tersebut atau cuma akal-akalannya si Miun, ia tetap harus menginap di hotel Predeo.

Di Petojo Ilir, maling lebih keterlaluan lagi. Ayam yang sedang mengerami telur pun diembat mereka. Ini rada luar biasa, sebab ayam mengeram biasanya beringas dan selalu teriak-teriak bila didekati orang, sekalipun oleh tuannya. Maka ada pepatah "Galaknya seperti Ayam Mengeram." Lalu Pembrita Betawi mensinyalir bahwa, bisa jadi maling ini memiliki ilmu "gendam ayam angrem". Tapi bisa jadi karena kawasan Petojo Ilir waktu itu masih jarang penghuninya. Diceritakan oleh koran ini bahwa memelihara ayam nampaknya sedang jadi mode saat itu di Petojo Ilir karena irit tempat dan mudah dalam pemberian empan (pakan), beda kalau pelihara kerbau atau kambing. Padahal dahulu kawasan ini masih sangat luas dan cocok untuk beternak kerbau atau kambing.

Tanah Pertojo Ilir ini milik seorang bangsawan Boegis bernama Aroe Patoedjoe. Letaknya sekitar kali Krukut, sebelah timur benteng Angke. Sejak 1663 Kompeni memang menempatkan orang Bugis di kawasan itu.

Sejarah balik tanah itu memang memiliki cerita cukup panjang. Bermula dari perseteruan antara kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa/Tallo, sehingga Gubernemen Belanda perlu menurunkan "tangan malaikatnya, mendamaikan pihak yang bertikai agar tidak terjadi pertumpahan darah," cuma di luar komando, diam-diam mereka menyediakan senjata kepada Aru Palaka sebagai tindakan represif terhadap Raja Gowa.

Dengan bantuan persenjataan yang nggegirisi, maka dalam waktu singkat 1667 kerajaan Gowa/Tallo sudah bisa ditekuk lututnya. Dan ini udang dibalik Komisi Perdamaian sebab dengan jatuhnya kerajaan Gowa berarti keuntungan bagi Kompeni sebab selama ini politik monopoli dagang mereka selalu dihalang-halangi oleh Raja Gowa/Tallo.

Setelah Aru Palaka meninggal dunia, sebagian anak buahnya ikut menjadi "repatriasi" ke Betawi. Mereka menjadi mesin perang di pelbagai peperangan seperti di Jampang, Siam (Thailand), Ceylon, Persia, Ternate, Ujung Timur Jawa dan Jawa Tengah. Salah satu panglima terkenalnya adalah Aru Patojoe, yang kemudian diberi tanah dan dipetakan dalam peta Betawi buatan abad ke-19 sebagai "Patojoe Land,"

Sesuai dengan lidah Betawi maka lambat laun nama kawasan Patojoe berubah menjadi menjadi Petojo.

Dari Maling Ayam kok ngelenceng ke sejarah Petojo...

Mimbar Seputro
0811806549
Thursday, July 17, 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com