Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Akibat Toilet Rusak, Gagal ke Papua 13648

Date: Mon Jun 28, 2004 8:52 am

Jeritan kecil campur kaget dari arah toilet airport lounge di Bandara Simpang Tiga Pekanbaru. Seorang ibu sedang jongkok ber "wiwi" ria tatkala "mak gedubrak", pintu WC dibuka calon penumpang pria. Sang ibu menyalahkan pria yang tidak ketuk pintu, sementara pria muda berkulit gelap tidak kalah sengit "ngeles," "salahnya ibu, kenapa pintu toilet tidak dikunci".

Tapi sang pedobrak malahan bilang "jangan takut di Irian saya biasa lihat itu, lagian saya sudah kawin.."

Lalu pria "pedobrak" yang tubuhnya mirip alm Bonny Rolies (Pendek Gempal) ini bergabung dengan teman-temannya, kendati melalui PA diumumkan tidak boleh merokok di ruang tunggu atawa restoran. Tapi apa perduli mereka. Mungkin kalau ditanya, mengapa merokok di tempat umum "salahnya pabrik rokok kok jualan, kok bikin iklan. Kami cuma pengguna."

"Wah alamat sial itu...." pikiran klenik saya muncul. Kata orang dulu kalau nontonin aura(t) lawan jenis non muhrim maka akan ketiban sial. Mungkin "sanepo" para orang tua dulu agar kita tidak gampang terkokang.

SURAT IJIN PERANG

Setelah insiden kecil salah toilet, sang pendobrak langsung bergabung dengan teman-temannya. Saya curi pembicaraan mereka. Ia bekerja di Freeport Timika, [barangkali mas Yusuf Iskandar yang sedang cuti kenal dengan nya], lebih lanjut ia bilang isterinya bekerja di Hotel Pangeran, Pekanbaru. Lalu dia cerita bahwa di Timika selain ada ijin cuti, mereka juga ijin perang. Entah perang suku, atau perang agama harus ada surat ijinnya. Perang dan sakit sama perlunya, sama seperti cobaan Tuhan, tidak boleh dihindari.

KETINGGALAN PESAWAT
Nampaknya dia pendongeng yang jempolan dan mempersona pendengarnya. Saking asyiknya dia mendongeng, Jatayu yang sedianya membawanya ke Jakarta terpaksa harus meninggalkannya karena ketika ia tidak muncul-muncul saat dipanggil. Padahal 10 meter didepannya ada monitor yang menginfokan pesawat datang dan pergi. Kalau tadi dia menyalahkan ibu "mekongkong" yang tidak mengunci pintu toilet, kali ini dia menyalahkan awak apron yang tidak proaktip mencarinya. "tahu ada penumpang lalai kok tidak dihampiri, saya kan sudah check in. Goblok betul petugas bandara..."

Sekali lagi ia menyalahkan orang lain.... pantesnya jadi Capres dan Cawapres. Sudah ikut tim ikut andil kacau, masih mampu cuci-tangan dengan menyalahkan orang lain. Akhirnya dia ganti pesawat yang kali ini barengan saya tetapi mas Habash nanti ngitungin iklan saya sehingga tidak saya sebut nama perusahaannya. Suasana bandara Simpang Tiga sangat berkabut. 10 menit penerbangan masih seperti di adegan uka-uka yaitu asap dan asap.

Barulah setelah setengah jam, kami bisa melihat cakrawala yang biru. Di ketinggian 27000 kaki rupanya sang pedobrak kedinginan sehingga bangkit mencari toilet. Beser juga nih orang.

Hanya kali ini insiden salah lihat aura(t) tidak terjadi...

Jadi dia tidak bisa menyalahkan orang lain lagi.....

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com