Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Ada suatu kebutuhan - Robert Kiyosaki

Adalah Sharon Lechter seorang Akuntant Publik, sebagai yang berkolaborasi dengan Robert Kiyosaki dalam buku laris Rich Dad, Pood Dad, bertutur tentang masa kecilnya.

"Rajin belajar, raih angka tertinggi agar bisa masuk Universitas favorit, lulus sekolah kamu akan mendapat pekerjaan bergaji tinggi," demikian kata orang tuanya.

Sharon memang lulus sebagai Akuntan dari Florida State University dengan angka nyaris teratas dikelasnya, ia lalu direcruit oleh perusahaan "Big 8", dan mengharapkan karier panjang diperusahaan tersebut dan bila uangnya banyak akan pensiun muda dengan makmur. Ia kemudian menikah dengan Michael, seorang insinyur yang sekaligus sarjana hukum yang cerdas. Suaminya bekerja di biro hukum Washington yang bergengsi. Bisa ditebak, dua pekerja keras, cerdas, ambisius bekerja saling bahu membahu, materi akan datang membanjirinya.

Tetapi, demikian tutur Sharon, kenyataan di lapangan tidak demikian mereka sudah berganti posisi beberapa kali dibeberapa perusahaan, toh penghasilan mereka cuma cukup untuk memastikan ketiga anaknya bisa sekolah sampai selesai. Untuk pensiun dini, sepertinya jauh panggang dari api.

Suatu hari tahun 1996, anaknya pulang dari sekolah dengan wajah kuyu, mengapa saya harus menghabiskan waktu mempelajari hal-hal yang tidak pernah saya gunakan dalam kehidupan diluar sana?," keluhnya.

Tanpa pikir panjang Sharon menjawab, "karena kalau kamu memperoleh rangking tinggi, kamu bisa diterima di Universitas Favorit."

"Tapi saya ingin kaya...Bu"

"Karena kalau kamu tidak lulus dari perguruan tingggi, bagaimana kamu akan merencanakan hidup menjadi orang kaya?," tukas Sharon, dia sadar nasihatnya sudah mulai masuk telinga kiri keluar telinga kanan anaknya.

Putera saya menundukkan kepalanya, matanya berputar-putar, "ibu lihat sekeliling ibu. Michael Jordan, Madonna, bahkan Bill Gates yang orang terkaya di planet ini adalah dropout dari sekolah. Ada pemain baseball yang berpenghasilan 4 juta dollar padahal disekolahnya ia dicap anak dengan mental yang diragukan.."

Sekali ini Sharon dikuliahi oleh anaknya, ia mulai panik...

"Bu, saya tidak ingin bekerja keras seperti kalian, Ibu dan Ayah bekerja keras, tinggal di rumah besar dengan begitu banyak mainan. Jika saya menuruti nasihat ibu, nasib sayapun berakhir sama. Bekerja makin keras hanya untuk membayar pajak yang lebih besar akhirnya hidup dari hutang."

Lalu si bungsu menambahkan...

"Bu, lihatlah dokter, mereka tidak menghasilkan uang sebanyak dulu. Dan saya tahu bahwa bila saya keluar dari tempat kerja, tidak ada jaminan bahwa hidup saya bisa bersandar dari Jaminan Sosial ataupun dana pensiun yang saya peroleh..." tukas anak SMU ini.

Kamar menjadi sepi, kedua belah pihak saling mencerna pendapat dari pihak lain.

Anak saya benar, pikir Sharon. Nasihat orang tua saya dan saya mungkin berhasil untuk anak yang lahir sebelum 1945, tetapi bisa menjadi malapetaka bila diterapkan bagi anak yang lahir dari dunia yang berubah dengan cepat.

Ia tidak bisa lagi mengatakan kata sakti dan wasiat: "Pergi ke Sekolah, raihlah nilai yang baik, cari pekerjaan yang aman dan terjamin..."

Sharon sadar bahwa ia harus mencari cara baru membimbing anak , yaitu bimbingan finansial. Ia sering melihat anak-anak SMU memperoleh kartu kredit dari orang tuanya namun tidak pernah mendapatkan pengetahuan bagaimana mengelola uang serta cara kerja kartu kredit yang suku-bunganya berlipat ganda. Singkat kata, tanpa melek finansial bagaimana mereka tahu cara uang bekerja, dan yang kuatirkan anak-anak kita akan ditelan oleh dunia yang sudah lama menunggunya, dimana PENGELUARAN lebih diutamakan daripada tabungan.

Ketika anak tertua Sharon, yang baru duduk di Universitas, mulai terjerat hutang Kartu Kredit, yang dikerjakan oleh Sharon adalah menghancurkan kartu kredit tersebut. Tapi itu belum cukup, ia harus mencari program yang membantu anak-anak dalam pendidikan masalah finansial.

Sampai suatu hari, suaminya menilpun dari kantornya. "Aku mendapatkan seseorang yang harus kamu temui, namanya Robert Kiyosaki. Usahawan sekaligus Investor, dia ada disini untuk mempatenkan produk pendidikan finansial. Saya kira dialah yang kamu cari...."

Dalam salah satu bukunya Kiyosaki menyarankan untuk membuka mata finansial kita harus mencari pembimbing, dan bukan penasihat. Kalau penasihat, banyak orang ahli berbicara aturan dan strategi ini dan itu, tetapi ia sendiri masih kelimpungan dalam finansial.

Salah satu quiz yang menarik walaupun sedikit kur-aj, apa beda orang miskin dan kaya dan kelas menengah. Jawabnya, Orang kaya membeli asset, orang miskin memiliki pengeluaran atau "liabilities" sementara orang menengah membeli liabilities tetapi mereka pikir itu asset.

Sebaiknya anda baca sendiri bukunya.... ..

Mimbar Bambang Saputro
13 Mei 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com