100 cm di depan Inul Daratista

"Pak mau nonton pameran Canon di hotel Melia- Senayan malam ini, untuk dua orang...," demikian bisik-bisik seorang teman di kantor saya.

"Lho tiketnya emang berapa?"

"Tiketnya dan gratis dari DataScript. Tapi ada satu lagi yang bapak pasti senang, hiburannya Inul Daratista"

Rupanya dia tahu saya anggota FBI, sehingga rela tiket yang dimilikinya diberikan kepada saya. Tiket langsung saya sambar 45 menit sebelum bubaran kantor saya sudah melesat. Tidak lama kemudian jam 18:30 saya sudah ada di ruang Ball Room Hotel Mulia Senayan. Terlalu dini memang, setelah mengisi buku tamu dan melempar kartu nama untuk door prize maka saya digiring ke ruang pameran.

Malam itu memang DataScript sole distributor Canon sedang mengadakan pameran dengan judul "The Rising Star", ini judul kok pas dengan negara asal pembuatnya, Jepang. Tapi mestinya ada sesuatu dibalik pemilihan judul tadi. Segala produk dari Scanner, Portable Printer, MultiMedia Projector dipajang habis.

Saya memperkenalkan diri tidak lama kemudian seseorang mendekati saya dan memperkenalkan diri sebagai Marketing Manager, namanya Zaki. Ia lalu label yang tersemat didada dengan sticker simbul Bintang warna hijau. Lho kok tiba-tiba saya jadi BrigJen, oh ternyata ini bukan pangkat melainkan tanda "VIP", duilee ngeVip nih.

Ketika jam menunjukkan jam 07:00, naiklah Farhan dan Indi Barens yang bunting. Oh rupanya ada acara 10 door price pengocokan kartu nama . "Saya missed"

Selanjutnya para undangan dipersilahkan menikmati hidangan dan duduk ke ruang lain yang cuma disekat dengan board-board pameran. Disini adat bangsa kita dan bangsa semi kita kelihatan menonjol. Pintu masuk dibuka blak, toh menerobos melalui papan-papan penyekat. Suasana sedikit kacau.

Beberapa tarian diperagakan diselingi dengan presentasi produk unggulan Canon. Datascript perlu merayakannya sebagai The Rising Star sebab pangsa pasar digital yang semula 24.1% tahun 2000, sudah bisa disabet menjadi 60% pada tahun 2002 suatu prestasi yang tidak mudah dicapai.

Istilah the rising star juga pernah dinobatkan oleh majalah Times kepada Letjen Prabowo Subijanto karena kemampuannya menumpas pemberontak.

Farhan dan Indi Barens mengadakan kuis, yang ditanya adalah isi seputar presentasi seperti nama produk Kamera Digita untuk Profesional, Scanner yang paling laku dsb...

"saya missed lagi.... Yang menang mestinya ya para penjual product dari Glodok"

Pukul 21:25, rombongan Band pendamping mulai diganti dengan band "dangdut" dan muncullah yang sosok yang dinanti-nantikan "Inul Daratista" dengan seragam senam ketat berwarna hijau tua dan diberi sulaman benang emas. Langung ia menggebrak dengan nomor "I wanna be free", lagi-lagi penonton memberikan applause ketika ia memutar tubuhnya dengan cepat, persis Sakatonik Grenk.

Engkoh sebelah saya berbisik, biasanya Inul cuma muncul "setengeh jem" - maksudnya setengah jam, enam lagu. Kalau sampai tambah satu lagi, naik sewanya.

Satu nomor rock "I want to break free" selesai dilantunkan lalu Inul menyapa penontonnya.

Ada keharuan ketika ia mengatakan "Selamat Malam Para Hadirin Sekalian, Terimakasih Anda masih bisa menerima kehadiran Inul, Saya....... [suara Inul tercekat, nampaknya ia harus mengatasi emosinya baru saja di "haramkan" di publik]. Oleh seseorang yang sangat-teramat dikaguminya.

Saya pernah menulis kisah Raden Ajeng Kartini di dzolimi RM Tirto lantaran berani mau menuntut ilmu ke Belanda pada 1903. Pengkritik, yang sangat dikaguminya ini mengecam Kartini sebagai "pengingkaran kodrat sebagai wanita "

Saat Kopi Dangdut ia minta 3 pasangan penonton naik kedepan, diajari bagaimana cara goyang ngebor. Enteng saja Inul bilang, kalau belum bisa belajar saja dari VCD bajakan saya. Kok boro-boro mau bawa pengacara atau polisi, dia malahan menganjurkan beli bajakan....

Kira-kira ada nggak penyanyi "sopan" lain dengan perangai serupa?

Dari Kopi Dangdut, Pelangi di Matamu (aha my favourite), Goyang Dombret. Saat ber "Goyang Dombret" Inul mendekati Dewi Motik, yang belakangan ini lalu meraih mike sambil bilang "Inul Kamu Terus Maju Ya"

Satu request dari Dewi Motik dinyanyikan Inul yaitu "Takut Sengsara" atau Jatuh Bangun". Lagi-lagi Inul menyebut lagu Jatuh Bangun yang biasa dinyanyikan oleh Mbak Kristina dengan penuh hormat. Beda kalau Kristina menyebut Inul selalu dengan penuh cemooh, sebagai "cuma bisa goyang erotis, suara nol besar..."

Kelihatannya lagu ini diluar skenario sebab nampak Inul mendekati pimpinan orkes sambil memberikan beberapa petunjuk.

Usai lagu "Jatuh Bangun," Dewi Motik naik ke pentas membawakan sekuntum bunga putih untuk Inul The Rising Star. Lagu berikut adalah lagu rock yang didangdutkan menggema. "Whats Going On."

Enam lagu sudah usai. Farhan dan Barens naik ke panggung. Farhan bilang, Inul Semoga Kamu Segera mendapat Label Halal" (kok seperti mie instant), sementara Indi Barens minta Inul sekali lagi goyang ngebor untuk anak yang dikandungnya.

Dasar Inul, dibilang manusia "haram", dia malahan menambah sebuah lagu penutup "Terajana", ciptaan siapa lagi kalau bukan sosok yang amat di kaguminya, sekalipun untuk itu dia dihujat habis. Sepertinya hujatan kuharamkan laguku untuk dinyanyikan Inul," dianggap enteng saja oleh Inul. Mungkin pikirnya, urusan mengharamkan manusia bukan pekerjaan manusia.

Dengan 6 lagu utama (plus satu lagu tambahan), maka berakhirlah perhelatan tadi konon menurut engkoh samping saya bisa bernilai Rp. 30.000.000 untuk honor Inul, yang berarti setiap lagu yang ia bawakan nilainya sekitar Rp. 5 000.000

Terajana... terajana...

Mimbar Bambang Seputro
23/4/03
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe