Salak Rasa Nanas

Siapa yang tidak kenal tebalnya salak Besakih atau salak Bali, kelihatannya kecil tapi dagingnya sekel, rasanya manis-campur sedikit masam. Kurang pandai memilih, Terlanggar apes paling dapat salak yang sedikit masam. Umumnya pengalaman saya membeli Salak Besakih, jarang mis-nya. Beda dengan beli salak di Tempel (Yogya), mbok2 pedagang disana menggunakan struktur kerucut terbalik, maksudnya diatas kreneng salaknya guede-guede, sampai dibawah wassssalam.

Sudah pakai bahasa Jawa mlipit masih kena pelintir. Dasar apes. Padahal salak Pondoh ini tergolong "masir" strukturnya seperti ada butir pasir. Kalau Telor Asin, kualitas Brebes. Rasanya Masir.

Di Sumatera Utara ada salak Padang Sidempuan yang kemerahan seperti daging ayam Bangkok. Belum lagi salak Condet dan Manonjaya. Lalu ada salak Benteng dari Ciamis, salak Cineam dan Manonjaya dari Tasikmalaya

Cuma satu salak yang tidak enak yaitu dari Salak Padang, sebab yang ini namanya cukup panjang "Salak Anjiang Manggonggong Kafilah tatap Balalu..."

---ooo---


Tanaman liar yang tumbuh di hutan belantara dengan dahan berduri kalau didekati jauh dari indah, apalagi kalau didekapi. Bisa burat-baret dari tangan sampai dengkul. Belum lagi buahnya dilapisi kulit yang coklat kehitaman dan keras pisan. Jadi belum ada yang menjadikan Salak sebagai tanaman pot.

Dari Jawa Barat, muncul salak jenis baru yaitu Medanglayang, kecamatan Panumbangan, Kab Ciamis, di kaki gunung Syawal.

Penemunya adalah pak Sasra (56). Bibitnya sendiri asalnya dari Surabaya yang entah kenapa "betah banget" membiak di desa Medanglayang. Apalagi pak Sasra selalu memperhatikan sanitasi dan pemberian pupuk terbatas pada pupuk kandang dan kompos. Sehingganya unsur hara tanaman selalu stabil dan keseimbangan alam terjaga.

Sasra semula petani Cengkeh pada awal 1970-an, ia masih membayangkan bagaimana untuk membeli emas sekilo kursnya cukup menggenggam sekilo cengkeh. Tetapi memasuki 1980-an, cengkeh anjlok, diperkeruh oleh campur tangan Tata Niaga dan sebangsanya dia bangrut. Petani lain membakar tanaman cengkehnya.

Frustrasi, ia biarkan 100 pohon cengkeh sisanya merana. Lalu dia melakukan diversifikasi dengan membeli bibit Salak "Bali" yang didatangkan dari Surabaya, ternyata pada 1987 muncul varian salak baru yang lebih besar, lebih tebal dagingnya dan kecil kenthosnya. Pun beraroma Nanas. Inilah cikal bakal salak SALARAS
(Salak Rasa Nanas).



HEBOHNYA DIMANA?

Kalau anda bosan rasa salak yang itu-itu saja, inilah saatnya memanjakan lidah dengan salak berasa nanas.

Sifat unggul salak Medanglayang dari lain puun adalah pohonnya relatif besar mencapai 2 kali lipat dari tanaman salak biasa, buahnya juga berukuran besar berdaging tebal, sementara bijinya malah sebaliknya lebih kecil dari salak pada umumnya. Karena ukurannya yang besar, buah salak ini hanya 10-12 butir per kg-nya. Setiap tangkainya (manggaran -Sunda) mencapai rata-rata 4 kg buah salak matang.

Kelebihan lainnya, setiap manggar salak mencapai 30-40 butir, lebih padat berisi, dan tidak mudah lepas dari tangkainya. Rasa dan aromanya juga jauh berbeda dengan salak pada umumnya, manis dan sedikit muncul aroma nenas, sehingga petani di sana memberi nama salak "Salaras" kependekan dari, salak rasa nanas. Yang luar biasa salak ini berbuah sepanjang musim. Eh satu lagi, tanah rawan lonsgsor setelah ditanami salak jenis nanas ini bisa kembali stabil.

Seperti halnya Sukuh dari Pulau Seribu, maka salak ini belum bisa memenuhi kebutuhan pasar di luaran sana. Bahkan salak nanas ini dijual oleh Sasra dalam bentuk manisan, sementara bijinya diambil untuk bibit.

Sasra sudah menyiapkan 15000 bibit SALARAS, diharapkan dalam waktu tidak lama lagi Jakarta akan kebanjiran produksinya. Dan Ciamis akan menyalak menjadi Sentra Salak tapi tidak menggigit.

Ternyata bangkrut membawa nikmat juga.

Mimbar Seputro
16 Juni 2003
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe