March 01, 2006

Perkututnya Sakau

Ketika masih kecil, saya mempunyai tetangga bernama mbah Karak, sekalipun nama aselinya adalah Seto. Pekerjaan mbah Seto adalah penjual krupuk yang terbuat dari beras ketan, di daerah kami di Klaten namanya "karak."
Karena di desa kami ada beberapa nama dengan awalan Seto, maka khusus untuknya orang memanggil dengan sebutan baru embah Seto Karak, ini untuk membedakan dengan Seto Grameh yang menjadi pengepul ikan gurame.

Anehnya mereka bisa-biasa saja dengan gelar "profesional" tersebut.

Ada satu kebiasaan buruk mbah Seto adalah gemar menghisap candu (opium), konon pada masa mudanya di jaman penjajahan Belanda, ia sudah akrab dengan benda ini. Saat narkoba mulai di perangi ia terpaksa melakukannya secara diam-diam.

Ia pernah berjuang untuk melawan ketagihan, caranya setiap keinginan itu timbul ia berjalan kaki sejauh-jauhnya sampai merasa letih, lalu sesampainya di rumah, ia mandi sepuas-puasnya. Sayang usaha inipun sering gagal, apalagi waktu itu belum ada badan rehabilitasi yang membantu orang yang ingin keluar dari jeratan candu.

Rasa sakau (ketagihan akan candu) biasanya datang saat matahari sudah tenggelam. Diam-diam ia mengambil tube berisi candu, lalu di "plotot"nya candu kira-kira sebesar kotoran tikus, dan digulung pakai daun tembakau yang ia namakan "awar-awar." Kemasan ini ditaruh diujung pipa panjang serupa cangklong yang dinamakan "bong" lalu dengan bantuan pelita minyak yang apinya kecil, upacara menghisap tembakau bercampur candupun dimulailah.

Sementara anak-anaknya hanya bisa menyaksikan dengan perasaan prihatin, tetapi takut untuk mencegahnya. Maklum isteri pak Karto sudah meninggal beberapa lama. Ia menjadi sangat kesepian.
Bila persediaan candu sudah habis, sementara pasokan belum dikirim oleh sang bandar, biasanya kerak sisa pembakaran candu dikorek-korek untuk di "daur-ulang" dan tahi candu ini dinamakan "jiteng" konon lebih keras reaksinya.

Selain "nyeret" atau menjadi pemadat, mbah Seto amat menyayangi burung perkututnya. Setiap pagi perkutut digantung di halaman, dan malam harinya digantung di para-para rumah. Sambil menikmati kepulan asap candu, mbah Karto ditemani secangkir besar teh kental dan manis, dan sesekali pandangan kosongnya melayang kearah kandang burung diatas kepalanya sambil menghembuskan asap candu keudara.

Ketika mbah Seto meninggal dunia, tidak sampai seminggu setelah kematiannya, perkutut-perkutut peliharaannya satu persatu ikut mati, semula penduduk desa menyangka bahwa mbak Seto Karak adalah orang sakti sampai-sampai ketika meninggal pun mampu membawa binatang kesayangannya ke alam akherat.

Selidik-punya selidik, rupanya lantaran lama hidup berdekatan dengan pemadat, sang perkutut terbiasa menghisap asap opium lama kelamaan sama kecanduannya dengan pemiliknya. Jadi ketika pemiliknya meninggal dunia, para perkutut seperti kehilangan "pasokan" uap candu yang biasa dihembuskan oleh tuannya. Akhirnya mereka mati gara-gara tidak tahan "sakau" berkepanjangan.

Ternyata Perkutut-pun bisa menjadi pecandu pasif.
Mimbar Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com