March 01, 2006

Moustafa Mega Market

Pepatah Cina (dulu) mengatakan "jangan buka warung kalau tidak bisa tersenyum" - maksudnya tentulah, menjadi pedagang atau pebisnis diperlukan sifat ramah tamah. Disamping ulet dan "hokie." Tetapi pepatah ini dijungkir balikkan oleh pegawai mega market, salah satu tempat favorit saya di Singapore yang berlokasi di Jalan Syed Alwi atau kata orang "Serangoon Road."

Harga-harga disini memang tergolong miring sehingga ada suara miring yang meragukan keasliannya. Kendati saya belum pernah terperosok mendapat mutu dibawah harapan. Ada komputer, perhiasan, sepatu, baju, kartu tilpun, penukaran uang sampai ke permen dijual disini. One Stop Shopping.

Masuk kedalam bangunan ini terasa sekali dominasi kulit gelap terutama keturunan Arab dan India yang menjadi pengunjung tetap komplek pertokoan ini. Dan "maaf" aroma tubuh yang khas yang saya bisa mendeteksinya beberapa meter mereka berdiri dibelakang saya. Ada juga beberapa pengunjung berkulit cerah atau sawomatang, namun jumlahnya tidak significant.

Ciri lainnya adalah wajah-wajah dingin yang melayani kita. Tiada senyum, atau rayuan seperti halnya di Glodok. Saya selalu berkata dalam hati "hei, layani pelangganmu dengan ramah, mereka ini yang menghidupi usahamu..."

Bahkan saya mengira, Mustafa Center tidak akan bertahan lama karena "tidak ramahnya" Namun saya salah tebak.... Minggu lalu saya sempat mencari "card reader" untuk laptop saya. Pelayannya SPG berdarah India dilihat dari keningnya yang diberi pewarna merah tepat di titik mata-ketiganya."

"What do you need" - Saya menunjuk benda tersebut. Tanpa banyak bicara benda tadi ia raih lalu ia geletakkan kartu tersebut didepan saya. Saya tahu tidak ada gunanya bertanya, lalu saya bilang "I take this" dan transaksi selesai.

Kutub Utara kalah dinginnya. Tadinya saya akan bilang penjualnya Sakit Gigi semua. Rupa-rupanya untuk berbelanja sesuatu disini, kita harus mempelajari barang yang akan dibeli secara detail di rumah.

Konon tingkat kecurian "stock loss" di Mustafa tergolong heibat. Bagaimana tidak, barang ditumpuk berjejal, pengunjungnya kalau masuk rata-rata tiga sampai empat orang saling bahu membahu bak bermain ular naga. Masih terkadang para stafnya ikutan mencuri barang disini.

Saat membayar, kasir kesulitan melepaskan plastik warna kuning gading tanda pengaman dari pencurian.

"Need a hand?," tanya saya.

Bruk!, barang digeletakkan didepan saya tanpa tersenyum. Lalu pengaman berhasil saya lepaskan. Menurut India Mustafa kata "Thanks" tidak termasuk dalam kamus hidupnya.

Lalu dimana letak "keunggulan" Super Market yang Super Acuh-tak acuh ini yang kian hari kian moncer. Apakah lantaran sikap kurang perdulinya terhadap kastamer. Jujur saja, di Mustafa saya bisa mengumbar nafsu belanja mata tanpa salah tingkah didekati SPG/SPM dengan kata saktinya "May I help you..."

Suatu Minggu sore saya mendatangi tempat ini. Agak kaget juga sebab lautan manusia sungguh luar biasa. Mirip acara Sekaten van Yogyakarta. Mereka bercakap sambil berdiri, sebagian menilpun keluarga. Yang mengeduk untung adalah perusahaan Kartu Tilpun Voip ke India.

Kedubes India dalam hal ini perlu diacungi jempol. Mereka menyediakan angkutan antar jemput gratis para pekerja India untuk di drop di kawasan Serangon, masih diberi hiburan Layar Tancep.
Di panggung politik kita juga melihat yang sama. Kita lebih suka memilih pemimpin yang acuh tak acuh. Rupa-rupanya memang realita kehidupan.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com